Sep 14, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

MANILA — Marcos Genjot Belanja Negara Atasi Anjloknya Peso

Langkah taktis tengah dipacu dari istana kepresidenan Malacañang. Di tengah bayang-bayang kejatuhan mata uang nasional hingga menyentuh rekor terendah sepa

MANILA — Marcos Genjot Belanja Negara Atasi Anjloknya Peso

Langkah taktis tengah dipacu dari istana kepresidenan Malacañang. Di tengah bayang-bayang kejatuhan mata uang nasional hingga menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menegaskan bahwa pemerintahannya tidak punya pilihan lain selain mempercepat realisasi belanja publik. Langkah darurat ini diambil untuk menyuntikkan daya hidup ke dalam perekonomian domestik yang kian tertekan oleh ketidakpastian global dan lonjakan harga barang-barang pokok.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Marcos di sela-sela kunjungan kerjanya di New Delhi, India. Di hadapan para awak media, ia tak menampik bahwa kondisi fiskal negara sedang berada di zona merah akibat tekanan eksternal yang masif. Nilai tukar mata uang peso Filipina merosot tajam hingga menembus angka 62,68 peso per dolar Amerika Serikat—sebuah rekor terburuk yang mengirimkan sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi kawasan Asia Tenggara.

Tekanan Geopolitik dan Keterpurukan Mata Uang

Penurunan dramatis nilai tukar peso tidak terjadi dalam ruang hampa. Dalam analisisnya, Marcos menunjuk eskalasi konflik geopolitik global sebagai biang keladi utama yang memicu gelombang inflasi tak berkesudahan. Ketegangan internasional yang terus membara telah mengganggu rantai pasok global, memicu lonjakan harga energi, dan melipatgandakan biaya impor bahan pangan yang sangat diandalkan oleh Manila.

Berikut adalah gambaran indikator makroekonomi terkini yang tengah melanda perekonomian Filipina:

Indikator Ekonomi Kondisi Saat Ini Dampak Langsung
Nilai Tukar Peso (PHP/USD) 62,68 per USD (Rekor Terendah) Pembengkakan biaya impor & penurunan daya beli
Strategi Utama Pemerintah Percepatan Belanja Publik Stimulus arus kas domestik & proyek infrastruktur
Pemicu Utama Krisis Inflasi & Konflik Geopolitik Distribusi rantai pasok dan energi terganggu

Dalam keterangannya di New Delhi, Presiden Marcos menekankan perlunya respons cepat dari seluruh kementerian terkait agar dana anggaran tidak mengendap di kas negara.

"Kami sedang mempercepat pengeluaran pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kita harus memastikan bahwa anggaran yang telah dialokasikan benar-benar mengalir ke masyarakat dan proyek-proyek strategis tanpa tertunda," ujar Presiden Ferdinand Marcos Jr.

Strategi Belanja Cepat: Solusi atau Masalah Baru?

Keputusan untuk menggelontorkan anggaran publik dalam skala besar dan waktu singkat mengundang sorotan tajam dari para pengamat ekonomi regional. Meskipun suntikan dana infrastruktur dan bantuan sosial dapat menahan kejatuhan pertumbuhan ekonomi jangka pendek, risiko tata kelola dan efisiensi anggaran menjadi ancaman serius. Pengeluaran yang terburu-buru tanpa pengawasan ketat berpotensi memicu kebocoran fiskal dan ketidaktepatan sasaran bantuan.

"Mempercepat belanja publik adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, langkah ini merangsang aktivitas ekonomi lokal yang lesu. Namun di sisi lain, jika inflasi masih tinggi dan pasokan barang terbatas, belanja berlebihan justru berisiko memicu lonjakan harga yang lebih parah," ungkap seorang analis makroekonomi yang meneliti kawasan berkembang.

Di sisi moneter, Bank Sentral Filipina (Bangko Sentral ng Pilipinas) kini berada dalam posisi serba salah. Di saat pemerintah mendorong pengeluaran fiskal yang agresif, otoritas moneter harus berjuang keras menahan kejatuhan peso agar tidak semakin memperparah nilai impor. Intervensi cadangan devisa dan penyesuaian suku bunga kini menjadi opsi berat yang harus ditimbang secara cermat demi menyeimbangkan stabilitas mata uang dan pertumbuhan ekonomi.

Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Pekerja Migran

Kejatuhan peso hingga level 62,68 per dolar AS memukul langsung isi dompet warga kelas menengah ke bawah di Manila dan provinsi-provinsi sekitarnya. Harga bahan baku pokok, seperti beras dan minyak goreng, merangkak naik menyusul tingginya biaya logistik dan pengapalan impor. Stabilitas harga pangan kini menjadi isu sensitif yang berpotensi memicu gejolak sosial jika tidak segera diredam oleh intervensi pasar.

Di sisi lain, jutaan Tenaga Kerja Filipina di Luar Negeri (Overseas Filipino Workers/OFW) yang rutin mengirimkan remitansi memang melihat nilai tukar yang sekilas menguntungkan bagi keluarga mereka di kampung halaman. Namun, nilai nominal yang lebih besar tersebut dengan cepat tergerus oleh laju inflasi domestik yang terus melesat tinggi, membuat nilai riil pendapatan mereka tetap tertahan.

Pemerintahan Marcos kini berlomba dengan waktu. Percepatan belanja publik yang dijanjikan harus membuktikan hasil konkret dalam waktu dekat sebelum kejatuhan peso memicu krisis kepercayaan pasar yang lebih dalam. Kebijakan fiskal agresif ini akan menjadi ujian terberat bagi kepemimpinan Marcos dalam mengemudikan kapal ekonomi Filipina menembus badai ketidakpastian global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User