Aug 29, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Mahalul Qiyam: Momen Puncak Maulid Nabi, Sejarah dan Makna di Baliknya

Setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam di berbagai penjuru Nusantara menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Beragam tradisi mewarnai perayaan tersebut, mulai dari pembacaan shalawat, t...

Mahalul Qiyam: Momen Puncak Maulid Nabi, Sejarah dan Makna di Baliknya

Setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam di berbagai penjuru Nusantara menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Beragam tradisi mewarnai perayaan tersebut, mulai dari pembacaan shalawat, tausiyah, hingga rangkaian syair pujian yang dibaca bersama-sama. Di antara seluruh rangkaian itu, terdapat satu bagian yang selalu menjadi pusat perhatian jemaah, yakni mahalul qiyam. Momen ini bukan sekadar pemanis acara, melainkan memiliki kedudukan istimewa dalam tata cara pembacaan maulid.

Pengertian dan Posisi Mahalul Qiyam dalam Pembacaan Maulid

Secara etimologis, istilah mahalul qiyam berasal dari bahasa Arab. Kata mahal berarti tempat, sementara qiyam bermakna berdiri. Dengan demikian, mahalul qiyam dapat dipahami sebagai bagian dalam pembacaan maulid ketika seluruh jemaah diwajibkan atau dianjurkan untuk berdiri. Berdasarkan verifikasi terhadap tata cara pembacaan kitab maulid, mahalul qiyam menempati posisi puncak dalam alur pembacaan Barzanji maupun Simtudduror. Kedua kitab tersebut merupakan dua karya maulid yang paling populer dan banyak digunakan di Indonesia, khususnya di lingkungan pesantren dan masyarakat tradisional.

Dalam struktur pembacaan, mahalul qiyam hadir setelah rangkaian syair yang menceritakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dibacakan. Ketika sampai pada bagian ini, pembaca maulid biasanya memberi isyarat tertentu, dan seluruh jemaah yang semula duduk kemudian berdiri secara serentak. Momen berdiri ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW. Data menunjukkan bahwa praktik ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi maulid di banyak daerah, mulai dari Jawa, Madura, hingga Sumatra.

Makna Berdiri dan Isi Syair yang Dibacakan

Faktanya adalah, berdiri dalam mahalul qiyam bukanlah gerakan tanpa makna. Tradisi ini merupakan simbol adab dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Para ulama yang membolehkan praktik ini berargumen bahwa berdiri sebagai penghormatan kepada Rasulullah merupakan bentuk pengagungan yang pernah dicontohkan oleh para sahabat. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa para sahabat berdiri ketika Rasulullah hadir di majelis mereka, dan hal ini kemudian menjadi dasar bagi tradisi berdiri dalam pembacaan maulid.

Pada saat mahalul qiyam berlangsung, jemaah melantunkan syair-syair pujian yang sangat dikenal. Salah satu penggalan yang paling populer adalah Ya Nabi Salam 'Alaika, yang berisi doa keselamatan bagi Nabi Muhammad SAW. Syair ini dibaca berulang-ulang dengan irama yang khidmat, diiringi oleh lantunan shalawat dari para hadirin. Suasana khusyuk yang terbentuk pada momen ini sering kali menjadi puncak emosional dalam peringatan maulid, di mana banyak jemaah larut dalam kekhidmatan dan haru.

Pandangan Ulama tentang Tradisi Berdiri

Perlu dicatat bahwa praktik mahalul qiyam tidak lepas dari perdebatan di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa berdiri dalam rangkaian maulid hukumnya boleh bahkan dianjurkan, karena merupakan bentuk penghormatan yang tidak bertentangan dengan syariat. Namun, sebagian lainnya berpendapat bahwa praktik ini tidak memiliki dasar yang kuat dan cenderung berlebihan, sehingga menilai tradisi tersebut sebagai hal yang tidak perlu dipertahankan. Perbedaan pandangan ini bertentangan dengan klaim sebagian kelompok yang menganggap praktik berdiri sebagai kemungkaran mutlak, karena faktanya banyak ulama terkemuka yang justru membolehkannya dengan dalih adab dan kecintaan kepada Nabi.

Terlepas dari perbedaan tersebut, mahalul qiyam tetap bertahan sebagai tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Berdasarkan pengamatan terhadap praktik keagamaan di Indonesia, tradisi ini justru menjadi salah satu medium dakwah yang efektif. Melalui syair-syair yang dilantunkan, nilai-nilai kecintaan kepada Rasulullah SAW ditanamkan secara halus kepada generasi muda. Momen berdiri bersama juga menciptakan rasa kebersamaan yang kuat di antara jemaah, mempererat ukhuwah di tengah keberagaman.

Mahalul Qiyam di Era Modern

Di era modern, mahalul qiyam tidak hanya dilaksanakan di masjid dan pesantren. Banyak perkantoran, instansi pemerintah, hingga lembaga pendidikan yang turut menggelar pembacaan maulid lengkap dengan rangkaian mahalul qiyam di dalamnya. Bahkan, sejumlah acara peringatan Maulid Nabi tingkat nasional kerap menampilkan pembacaan mahalul qiyam sebagai bagian dari susunan acara, lengkap dengan iringan rebana atau hadrah yang memperindah lantunan syair.

Kesimpulannya, mahalul qiyam adalah tradisi yang kaya makna dan telah mengakar kuat dalam budaya Islam Nusantara. Ia hadir sebagai puncak pembacaan maulid yang menyatukan jemaah dalam satu gerakan dan satu lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Terlepas dari perbedaan pendapat di kalangan ulama, tradisi ini menunjukkan bagaimana umat Islam mengekspresikan kecintaan mereka kepada Rasulullah melalui jalur budaya yang damai dan penuh penghormatan. Nilai-nilai adab, kebersamaan, dan cinta kepada Nabi yang terkandung di dalamnya menjadikan mahalul qiyam bukan sekadar ritual, melainkan warisan spiritual yang patut dijaga kelestariannya dari generasi ke generasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User