Maestro Seni Rupa Nasirun Tutup Usia, Dimakamkan di Imogiri

Dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu maestronya. Nasirun, pelukis kenamaan yang dikenal lewat karya-karya bercorak kuat dengan akar budaya Jawa, dikabarkan meninggal dunia. Kabar duka ini m...

Maestro Seni Rupa Nasirun Tutup Usia, Dimakamkan di Imogiri

Dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu maestronya. Nasirun, pelukis kenamaan yang dikenal lewat karya-karya bercorak kuat dengan akar budaya Jawa, dikabarkan meninggal dunia. Kabar duka ini menjadi pukulan mendalam bagi komunitas seni Tanah Air yang selama puluhan tahun menyaksikan dedikasi sang perupa dalam memperkaya khazanah seni rupa kontemporer Indonesia. Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari sesama perupa, kurator, kolektor, hingga para pencinta seni yang mengagumi perjalanan kariernya.

Jenazah almarhum direncanakan dikebumikan di kompleks pemakaman seniman yang berada di kawasan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai peristirahatan terakhir para seniman dan budayawan besar Indonesia, sehingga pemakaman Nasirun di sana sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu figur penting dalam sejarah seni rupa modern dan kontemporer negeri ini.

Dimakamkan di Kompleks Pemakaman Seniman Imogiri

Kompleks pemakaman seniman di Imogiri, Kabupaten Bantul, bukanlah tempat peristirahatan biasa. Area yang berada tidak jauh dari kompleks makam raja-raja Mataram itu telah menjadi tempat persemayaman sejumlah nama besar seni Indonesia, di antaranya pelukis Widayat dan Amri Yahya, serta koreografer Bagong Kussudiardja. Kehadiran makam para maestro tersebut menjadikan kawasan ini semacam monumen hidup bagi perjalanan seni budaya Indonesia.

Dengan dimakamkannya Nasirun di kawasan tersebut, Yogyakarta kembali mengukuhkan diri sebagai kota yang memberikan penghormatan tertinggi kepada para pelaku seninya. Prosesi pemakaman diperkirakan akan dihadiri oleh keluarga, kerabat, sesama perupa, serta para pencinta seni yang selama ini mengagumi karya-karya almarhum. Suasana duka dipastikan menyelimuti kawasan Imogiri saat jenazah sang maestro diantarkan ke peristirahatan terakhirnya.

Perjalanan Karier Sang Maestro

Nasirun lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada tahun 1965. Ia menempuh pendidikan seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, kampus yang kelak menjadi rumah intelektual dan artistiknya. Sejak masa-masa awal berkarier pada akhir 1980-an hingga 1990-an, namanya mulai mencuri perhatian lewat gaya visual yang khas dan sulit disamai perupa lain. Yogyakarta kemudian menjadi basis kreatifnya hingga akhir hayat.

Karya-karya Nasirun dikenal luas melalui penggunaan figur-figur yang berakar pada tradisi Jawa, mulai dari tokoh pewayangan, topeng buta atau raksasa, hingga simbol-simbol mitologi Nusantara. Ia mengolah unsur-unsur tradisional tersebut dengan bahasa rupa yang segar, ekspresif, dan kontemporer, sehingga karyanya terasa relevan lintas generasi. Kanvas-kanvas berukuran besar dengan komposisi padat dan warna yang berani menjadi ciri yang melekat pada dirinya.

Sepanjang kariernya, Nasirun tercatat aktif berpameran baik di dalam maupun luar negeri. Karyanya telah dipentaskan di berbagai galeri dan museum, serta menjadi buruan para kolektor seni. Berbagai penghargaan bergengsi tingkat nasional pernah ia terima, menegaskan konsistensi dan kualitas artistiknya selama lebih dari tiga dekade berkarya tanpa henti.

Warisan untuk Seni Rupa Indonesia

Kepergian Nasirun meninggalkan warisan yang tidak ternilai bagi perkembangan seni rupa Indonesia. Ia termasuk generasi perupa yang berhasil membuktikan bahwa kearifan lokal dan tradisi Nusantara bisa berdialog secara setara dengan arus seni rupa global. Pendekatan ini menginspirasi banyak seniman muda untuk tidak ragu menggali akar budayanya sendiri sebagai sumber penciptaan.

Di mata rekan-rekan seprofesinya, Nasirun dikenal sebagai sosok pekerja keras yang nyaris tak pernah berhenti berkarya. Studio kerjanya di Yogyakarta menjadi saksi lahirnya ratusan karya yang kini tersebar di berbagai koleksi, baik milik pribadi maupun institusi. Dedikasi semacam itulah yang membuat namanya disejajarkan dengan para maestro seni rupa Indonesia lainnya.

Dengan berpulangnya sang maestro, Indonesia kehilangan satu penjaga api tradisi sekaligus inovator yang tak kenal lelah. Namun karya-karyanya akan terus hidup, berbicara kepada generasi berikutnya tentang kekayaan budaya bangsa. Selamat jalan, Nasirun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User