Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan eskalasi signifikan setelah tercatat melancarkan letusan sebanyak dua kali berturut-turut dalam rentang waktu kurang dari satu jam pada Selasa (15/9/2026) dini hari hingga pagi. Fenomena geologis ini memicu kolom abu vulkanik tebal membubung hingga 1.000 meter di atas puncak Mahameru atau sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut.
Berdasarkan laporan pemantauan instrumental dan visual dari Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Gunung Sawur, getaran gempa letusan terekam jelas dengan amplitudo maksimum yang cukup kuat. Guguran material dan lontaran abu vulkanik terpantau mengarah ke sektor selatan dan tenggara, mengikuti arah embusan angin regional.
Kronologi Rangkaian Erupsi Beruntun
Investigasi data seismik mencatat dinamika pelepasan magma yang terjadi secara cepat di dalam kawah Jonggring Saloko sejak fajar merekah. Berikut adalah urutan waktu kejadian letusan tersebut:
- Pukul 04.32 WIB: Letusan pertama terjadi dengan dentuman lemah hingga sedang. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu tebal dengan ketinggian sekitar 600 hingga 700 meter di atas kawah aktif, condong bergerak ke arah barat daya.
- Pukul 05.27 WIB: Letusan susulan terjadi dengan intensitas lebih besar. Sensor seismograf mendeteksi amplitudo maksimum 22 milimeter dengan durasi 128 detik. Kolom abu membubung vertikal setinggi 1.000 meter sebelum terbawa angin ke arah tenggara.
"Letusan terjadi dua kali dalam jeda kurang dari satu jam. Karakteristik erupsi berupa letusan abu tebal berwarna kelabu pekat mengarah ke selatan dan tenggara. Masyarakat diimbau tetap tenang namun mematuhi seluruh radius bahaya," ujar petugas pos pengamatan PVMBG dalam keterangan resminya.
Zona Merah dan Bahaya Aliran Lahar
Kondisi topografi di lereng tenggara Semeru, terutama di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sarat, berada dalam status pengawasan ketat. Endapan material vulkanik di puncak yang menumpuk rentan memicu Awan Panas Guguran (APG) maupun banjir lahar dingin jika kawasan puncak diguyur hujan berintensitas tinggi.
Pihak berwenang menetapkan beberapa poin mitigasi kunci guna mencegah timbulnya korban jiwa di kalangan warga lokal maupun para penambang pasir:
- Larangan Beraktivitas: Tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak.
- Sempadan Sungai: Pembatasan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar.
- Radius Steril Kawah: Wilayah radius 5 kilometer dari kawah aktif Semeru dinyatakan terlarang dari segala kegiatan manusia menyusul ancaman lontaran batu pijar.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada level yang membutuhkan kewaspadaan ekstra. Warga di kawasan kaki gunung diimbau selalu menyiapkan masker pelindung pernapasan untuk mengantisipasi sebaran hujan abu vulkanik lokal.
Comments (0)