Live-Action Moana Menuai Kritik Pedas, Penonton Sebut Bak Karya AI

Harapan besar terhadap adaptasi live-action Moana yang diproduksi oleh Disney berubah menjadi kekecewaan mendalam. Film yang tayang pada pertengahan 2026 ini langsung mendapat sambutan yang kurang ber...

Jul 13, 2026 - 14:22
0 0

Harapan besar terhadap adaptasi live-action Moana yang diproduksi oleh Disney berubah menjadi kekecewaan mendalam. Film yang tayang pada pertengahan 2026 ini langsung mendapat sambutan yang kurang bersahabat dari para kritikus dan penonton, tercermin dari agregator ulasan Rotten Tomatoes yang hanya memberikan skor segar sebesar 36 persen. Angka tersebut menempatkan Moana sebagai salah satu remake Disney dengan performa terburuk dalam beberapa tahun terakhir, menimbulkan berbagai diskusi mengenai penyebabnya. Yang lebih mengejutkan, kritik tidak hanya datang dari kalangan profesional, tetapi juga dari penggemar setia animasi orisinalnya yang kini beranjak dewasa.

Respons Dingin dari Kritikus dan Penonton

Berdasarkan data yang terkumpul, mayoritas ulasan menyoroti bahwa adaptasi ini kehilangan daya magis yang melekat pada versi animasinya yang rilis satu dekade sebelumnya. Kritikus dari berbagai media ternama menyebut film ini sebagai sajian yang hambar, gagal membangkitkan emosi, dan bertumpu pada formula live-action Disney yang sudah mulai terasa usang. Seorang pengulas ternama bahkan menulis bahwa 'Moana 2026 adalah bukti bahwa tidak semua cerita perlu dihidupkan kembali dengan aktor manusia.' Meskipun performa para pemain, seperti aktris muda yang memerankan Moana, dipuji secara individu, chemistry antar karakter dianggap kurang meyakinkan. Alur yang dirasa terburu-buru dan pengembangan karakter yang dangkal menjadi catatan umum, membuat penonton sulit terhubung secara emosional. Skor audiens di Rotten Tomatoes yang berkisar di bawah 50 persen menunjukkan bahwa mereka yang menyaksikan pun tidak sepenuhnya puas.

Kehilangan Pesona Animasi Klasik

Adaptasi live-action Moana dituding gagal mempertahankan apa yang membuat versi kartunnya begitu dicintai. Film animasi Moana (2016) dikenal karena perpaduan visual yang meriah, karakter hewan pendukung yang lucu seperti babi Pua dan ayam Heihei, serta lagu-lagu orisinal yang adiktif seperti 'How Far I'll Go' dan 'You're Welcome'. Namun, dalam versi live-action, unsur-unsur tersebut tampak melemah secara signifikan. Adegan musik yang dihadirkan dianggap kurang organik, seolah dipaksakan masuk ke dalam narasi yang sudah dirombak. Transisi ke mode realistik melalui teknologi CGI yang mahal justru menghilangkan ekspresi wajah khas animasi yang menjadi kunci humor dan kehangatan. Beberapa penonton menyatakan bahwa karakter Maui versi live-action, yang sebelumnya karismatik dan kocak, kini tampak menakutkan dengan otot-otot digital yang tidak natural. Makhluk laut seperti Tamatoa, kepiting raksasa yang gemerlap, kehilangan sentuhan komediknya dan lebih menyerupai monster dalam film horor. Akibatnya, target audiens keluarga menjadi kabur dan anak-anak dilaporkan merasa takut pada beberapa bagian film.

Banyak Yang Menerka Pembuatan Dengan Kecerdasan Buatan

Satu tuduhan paling pedas yang berembus di media sosial adalah narasi bahwa tampilan visual live-action Moana menyerupai hasil karya kecerdasan buatan alias AI. Istilah ini bukan sekadar cemoohan kosong; sejumlah penonton mengamati tekstur kulit karakter yang aneh seperti artefak digital, gerakan ombak laut yang terlihat kaku dan repetitif, serta latar belakang yang seolah tidak terintegrasi secara sempurna dengan para aktor. Spekulasi ini muncul di tengah tren industri yang memang mulai melirik adopsi kecerdasan buatan dalam produksi film, baik untuk efek visual maupun pascaproduksi. Meskipun Disney belum memberikan konfirmasi resmi mengenai penggunaan AI secara masif dalam film ini, persepsi publik yang terbentuk sudah cukup untuk merusak citra. Banyak unggahan di platform seperti X dan Reddit membandingkan tangkapan layar adegan dengan gambar buatan generator gambar populer seperti Midjourney atau DALL-E, dan hasilnya dinilai memiliki kemiripan yang mencurigakan. Seorang seniman efek visual independen bahkan membuat utas yang menduga bahwa beberapa elemen latar mungkin dihasilkan melalui teknik pembelajaran mesin, mengingat kualitasnya yang tidak konsisten. Label 'film buatan AI' pun menjadi trending dan terus melekat, menjadikan Moana sebagai korban perdebatan antara seni tradisional dan otomatisasi.

Rentetan Kegagalan Remake Disney

Kritik terhadap Moana bukanlah yang pertama dalam portofolio live-action Disney. Sebelumnya, adaptasi seperti The Lion King (2019) dan Mulan (2020) juga sempat mendapat reaksi beragam meski secara komersial masih mendulang keuntungan. Namun, Moana menghadapi situasi yang lebih genting karena ia menyasar generasi yang tumbuh besar bersama film aslinya, sehingga ekspektasi terhadap kesetiaan dan peningkatan kualitas jauh lebih tinggi. Generasi Z dan milenial muda yang dulu terinspirasi oleh perjalanan Moana sebagai penjelajah pemberani kini merasa penggambaran ulang tersebut tidak menghormati semangat orisinalnya. Kegagalan film ini menambah daftar keraguan bahwa strategi Disney untuk menghidupkan kembali seluruh pustaka animasi klasiknya bukanlah jaminan sukses. Bahkan, beberapa kalangan menyebut ini sebagai 'kelelahan remake', di mana penonton mulai bosan dengan daur ulang yang minim inovasi. Banyak pengamat industri kini mempertanyakan arah kreatif perusahaan, yang dinilai lebih mementingkan keamanan finansial dan pemanfaatan properti intelektual ketimbang pengembangan cerita orisinal.

Pada akhirnya, live-action Moana lebih dikenang sebagai pelajaran pahit bagi studio raksasa itu. Angka 36 persen di Rotten Tomatoes menjadi bukti bahwa teknologi tinggi dan nama besar saja tidak cukup apabila esensi narasi dan sentuhan manusiawi justru tergerus. Perbandingan dengan hasil kecerdasan buatan akan terus menghantui film ini, menjadi simbol dari kehangatan yang hilang dari layar lebar. Kini mata publik beralih pada proyek serupa seperti live-action Lilo & Stitch dan Moana 2 yang masih dalam tahap pengembangan, mempertanyakan apakah Disney akan belajar dari kegagalan ini atau tetap melanjutkan tren yang sudah banyak menuai kritik. Satu hal yang pasti, kepercayaan penonton adalah aset yang paling sulit dipulihkan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User