Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Lirik Yalal Wathan Versi Arab, Latin, Arti, dan Sejarah Penciptanya

Lagu Yalal Wathan termasuk karya musik islami yang paling sering dinyanyikan dalam berbagai kegiatan keagamaan di Indonesia. Lagu berbahasa Arab ini lazim dilantunkan pada pengajian, peringatan hari b...

Lirik Yalal Wathan Versi Arab, Latin, Arti, dan Sejarah Penciptanya

Lagu Yalal Wathan termasuk karya musik islami yang paling sering dinyanyikan dalam berbagai kegiatan keagamaan di Indonesia. Lagu berbahasa Arab ini lazim dilantunkan pada pengajian, peringatan hari besar Islam, hingga forum resmi organisasi keagamaan. Popularitasnya tidak lepas dari pesan liriknya yang mengangkat tema cinta tanah air. Berikut lirik lengkap Yalal Wathan versi Arab dan Latin, arti setiap baitnya, serta sejarah penciptaannya.

Lirik Lagu Yalal Wathan Versi Arab dan Latin

Yalal Wathan tergolong lagu pendek yang hanya terdiri atas empat baris, namun setiap barisnya mengandung makna yang dalam. Berikut lirik lengkapnya dalam tulisan Arab:

يَا لَلْوَطَنْ يَا لَلْوَطَنْ يَا لَلْوَطَنَ الْعَظِيمِ الْجَدِيدِ

يَا الْعَرَبَةَ وَالْعَجَمَ مِنَ الشَّرْقِ إِلَى الْغَرْبِ

نُقَدِّمُ لَكَ قَلْبَنَا وَحَمْلَنَا وَرُوحَنَا

فِي سَبِيلِ الْحَقِّ وَالْوَطَنِ

Adapun bila ditulis dalam transliterasi Latin, lirik lagu tersebut berbunyi:

Yalal wathan, yalal wathan, yalal wathanal 'azhimil jadid

Yal 'arabata wal 'ajama, mina syarqi ilal gharbi

Nuqaddimu laka qalbana, wa hamlana wa ruhana

Fi sabilil haqqi wal wathan

Arti dan Makna Lirik Yalal Wathan

Berdasarkan rujukan kebahasaan Arab, frasa yalal wathan bermakna wahai tanah air. Kata ya adalah seruan, la merupakan partikel seru, sedangkan wathan berarti tanah air atau negara. Secara utuh, lirik lagu tersebut memiliki arti sebagai berikut:

Hai tanah air, hai tanah air, hai tanah airku yang agung lagi baru. Wahai bangsa Arab maupun non-Arab, dari timur hingga barat. Kami persembahkan untukmu hati, pengorbanan, dan jiwa kami, di jalan kebenaran dan tanah air.

Dari terjemahan tersebut terlihat bahwa lagu ini mengajak seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang etnis untuk mencintai tanah air dengan pengorbanan sepenuh hati. Frasa mina syarqi ilal gharbi menegaskan seruan itu berlaku universal, dari timur sampai barat. Sementara itu, ungkapan qalbana, hamlana, wa ruhana menunjukkan tingkat pengorbanan yang dituntut, yakni hati, tenaga, hingga jiwa raga. Seruan akan tanah air yang agung dan baru juga menggambarkan harapan pada bangsa yang merdeka dan bermartabat.

Sejarah Penciptaan dan Sosok di Baliknya

Lagu Yalal Wathan diciptakan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, ulama kelahiran Surabaya pada 24 Maret 1888 yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Wahab Chasbullah. Ia merupakan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan dipercaya sebagai penggagas nama organisasi tersebut. Sebelum NU berdiri, pada 1916 ia mendirikan organisasi bernama Nahdlatul Wathan di Surabaya, dan lagu Yalal Wathan dipercaya lahir pada kurun waktu yang sama sebagai lagu organisasi itu.

Pada masa kolonial Belanda, lagu ini berfungsi sebagai sarana menyulut semangat perjuangan. Melalui syair berbahasa Arab, KH Wahab Chasbullah mengemas pesan nasionalisme dalam balutan nilai keislaman sehingga mudah diterima oleh para santri dan masyarakat Muslim saat itu. Sejumlah catatan sejarah bahkan menyebut lagu ini sempat dilarang pemerintah kolonial karena dianggap membangkitkan rasa cinta tanah air yang dapat mengancam kekuasaan Belanda.

Sepanjang hidupnya, KH Wahab Chasbullah dikenal sebagai ulama yang aktif dalam bidang pendidikan dan politik keislaman. Ia mendirikan Pesantren Tambakberas di Jombang dan terlibat dalam berbagai organisasi kemasyarakatan Islam. Ia wafat pada 29 Desember 1971 dan meninggalkan warisan pemikiran yang hingga kini masih dirujuk luas.

Simbol Nasionalisme dan Lagu Wajib NU

Setelah NU berdiri pada 31 Januari 1926, Yalal Wathan terus diperdengarkan dalam berbagai kegiatan organisasi. Kedudukannya semakin kukuh ketika Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1935 menetapkannya sebagai lagu wajib yang dinyanyikan pada setiap pembukaan muktamar. Sejak saat itu, lagu ini menjadi identitas keorganisasian sekaligus pengingat akan pentingnya cinta tanah air bagi para kader NU.

Nilai nasionalisme yang terkandung dalam Yalal Wathan juga dinilai sejalan dengan semangat perjuangan para pendiri bangsa. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ulama dan santri yang terbiasa membawakan lagu ini turut ambil bagian dalam membela republik. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila Yalal Wathan kerap disebut sebagai salah satu simbol nasionalisme dalam dunia keislaman Indonesia.

Hingga kini, lagu ciptaan KH Abdul Wahab Hasbullah tersebut masih rutin dinyanyikan dalam berbagai acara, mulai dari pengajian kampung hingga sidang muktamar besar. Liriknya yang sederhana namun bermakna dalam membuat lagu ini tetap relevan sebagai pengingat bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari ajaran keislaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User