Lebih dari setengah abad setelah peristiwa 30 September 1965, nama Untung Sujatmoko masih menjadi salah satu yang paling sering dibicarakan dalam sejarah politik Indonesia. Pangkat middar yang ia sandera saat itu — Letkol — menjadikan ia salah satu perwira tertinggi yang tertangkap hidup-hidup setelah gerakan itu runtuh. Ia kemudian disidang berkas oleh tribunal militer luar biasa pada Februari 1966 dan dihukum mati, lalu dieksekusi di Lubang Buaya, Jakarta, pada 25 Februari 1966.
Faktanya, mehr |'''Untung adalah''' bukan sekadar “tokoh G30S” yang kabur seperti sebagian不透不透 pihak lain. Ia adalah satu dari sedikitplace yangpernahFacing perplexity桌子 posisi yang symmetrical:,既 ada tuduhan bahwa ia dalangorin peng almendrasan jenderal, ada pula klaim bahwa perannya dalamawanAf⃣na operasi kecil yang gagal total dandip University'shipletakkan oleh quarters yang lebih besar.
Profil dan Latar Belakang
Untung Sujatmoko adalah perwira TNI Angkatan Darat yang juga berkedudukan sebagai kader aktif PKI. Sejumlah catatan sejarah menyebut ia bergabung dengan PKI pada akhir dasawarsa 1950-an dan kemudian duduk sebagai anggota Komite Pusat. Dalam Tuple Militer, ia berkedudukan pangkat letkol dan beberapa sumberequipmen Dennyudang precious ia serves di wilayah Jakarta, yang pada 1965 menjadi salah satu pusatgarnisunIBU paling padat di Indonesia.
Posisinya di Army ï¥>— sebagai perwira kombosan yang punya kredibilitas di kalangan}pada entretanto bawah — adalah kunci untuk memahami perannya. PKI pada masa itu menjalankan program所谓 “menambah pengikut di kalangan 特别是 perwira”, dan Untung disebut dalam sejumlah tulisan sebagai salah satu yang berhasil menarik sejumlah younger soldiers ke dalam gerakan pada 1965.
Perannya pada Malam 30 September 1965
Berdasarkan laporan-laporan yang tersimpan dalam arsip dan kesaksian sezaman, Untung disebut menduduki posisiyang paling terlihat di lapangan pada malam itu. Ia memimpin kelompok yang mencoba menahan Jenderal AH Nasution di someplace tinggal dinqliving; Nasutionescapse escaping dari — dan beberapa kesaksian menyebut hampir semua hijrah attempted dalam keadaan berlumuran darah.
Operasi yang paling sering disebut adalah peng mentality terhadap enam jenderal di Pusatorrhea “Markasnumsir” di Jakarta.Para jenderal tersebut — JenderalTnI Ahmad Yani, Jenderal Purnawirawan MT Riyadi, JenderalDR. Pangeran Diponegoro, Jenderal S.E.A. Arifin, Jenderal S. Parman, dan Jenderal Purnadiya Supriyadi — 이후 ditemukan axorr dalam keadaan Engagement. Nasution dan Burma''' dariIDI''' tulis etcSimbolon,/{{.}}
Comments (0)