Sebuah tragedi peliputan menghentak dunia pers tanah air ketika rombongan jurnalis dilaporkan hilang kontak di kawasan rawan bencana Gunung Anak Krakatau. Di tengah ketidakpastian gelombang Selat Sunda, Diah Nasution—istri dari jurnalis iNews Yudistiro Pranoto—mengambil keputusan nekat namun emosional. Ia memilih bergabung langsung dengan tim pencari menuju titik krusial perairan Pulau Sertung, Kabupaten Lampung Selatan, demi menemukan keberadaan suaminya yang tak kunjung memberikan kabar sejak Sabtu (12/9/2026).
Tak hanya Yudistiro, ekspedisi bahari yang bertujuan melakukan pemantauan kondisi terkini Gunung Anak Krakatau tersebut membawa total 8 jiwa, yang terdiri dari 5 jurnalis media nasional dan 3 kru kapal ekspedisi. Kehadiran Diah di atas kapal pencari menjadi simbol kecemasan mendalam keluarga korban, sekaligus menggarisbawahi besarnya risiko yang dihadapi para pekerja media saat menjalankan tugas jurnalistik di wilayah berisiko tinggi.
Kronologi Hilang Kontak di Perairan Krakatau
Berdasarkan data yang dihimpun tim investigasi di lapangan, kronologi hilangnya rombongan pers ini terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat di tengah cuaca perairan yang tak menentu:
- Sabtu (12/9/2026) Pukul 06.30 WIB: Rombongan kapal motor berangkat dari pelabuhan rakyat di pesisir Banten menuju kompleks kepulauan Krakatau untuk peliputan khusus.
- Sabtu (12/9/2026) Pukul 11.15 WIB: Yudistiro Pranoto sempat mengirimkan sinyal pesan singkat terakhir kepada pihak redaksi, mengabarkan posisi kapal mendekati area lingkar luar perairan Gunung Anak Krakatau.
- Sabtu (12/9/2026) Pukul 14.00 WIB: Sinyal komunikasi terputus total. Berbagai upaya panggilan balik dari stasiun radio darat maupun perangkat satelit tidak mendapatkan respons.
- Minggu (13/9/2026) Pukul 01.00 WIB: Operasi SAR resmi dibuka setelah batas waktu toleransi pendaratan kapal terlampaui selama lebih dari enam jam.
Analisis Risiko dan Fokus Pencarian Pulau Sertung
Pemilihan Pulau Sertung sebagai titik fokus penyisiran awal bukanlah tanpa alasan logis. Secara geografis, Pulau Sertung merupakan daratan terdekat yang sering dijadikan tempat perlindungan darurat bagi nelayan maupun perahu motor kecil ketika dihantam gelombang mendadak atau terpaan abu vulkanik.
"Karakteristik perairan di sekitar kompleks Krakatau sangat dinamis. Arus bawah laut yang kuat dipadukan dengan potensi perubahan cuaca mendadak menjadikan kawasan ini sangat berbahaya bagi perahu tanpa navigasi canggih. Fokus menyisir Pulau Sertung adalah langkah tepat karena pulau itu adalah shelter alami terdekat," ungkap Drs. Hermawan Susanto, pengamat keselamatan maritim dan navigasi bahari.
Berikut adalah rincian data kekuatan armada dan manifes yang terlibat dalam insiden tersebut:
| Kategori Data | Rincian Informasi |
|---|---|
| Jumlah Korban Hilang | 8 Orang (5 Jurnalis, 3 Kru Kapal) |
| Lokasi Terakhir Terdeteksi | Perairan Lingkar Luar Gunung Anak Krakatau |
| Fokus Area Pencarian | Pesisir Pulau Sertung & Pulau Panjang |
| Unsur Tim SAR Terlibat | Basarnas, Polairud, TNI AL, dan Sukarelawan Pers |
Pertanyakan Protokol Keselamatan Liputan Berisiko Tinggi
Insiden ini kembali membuka tabir kelam terkait standar operasional keselamatan (SOP) peliputan media di daerah berisiko tinggi. Kurangnya perlengkapan keselamatan standar seperti Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) atau telepon satelit mandiri pada perahu sewaan kerap menjadi celah fatal ketika situasi darurat terjadi di tengah laut.
Kini, publik dan komunitas pers nasional tertuju pada ketangguhan Diah Nasution dan tim SAR gabungan yang terus menembus ombak Selat Sunda. Harapan akan keselamatan 8 korban tetap melambung tinggi di tengah kerasnya alam Krakatau yang tak terduga.
Comments (0)