Langkah dekarbonisasi di sektor hilir migas nasional memasuki babak baru. Kilang PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) VI Balongan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, secara resmi memulai fase uji coba pengolahan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) menjadi produk energi hijau berkualitas tinggi. Inisiatif strategis ini menjadi bagian dari peta jalan transisi energi untuk menekan jejak karbon serta mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.
Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku alternatif (feedstock) berbasis bioenergi dinilai tidak hanya memecahkan persoalan limbah domestik dan industri makanan, melainkan juga menekan ketergantungan terhadap minyak mentah fosil murni.
Kronologi dan Skema Pengujian di RU VI Balongan
Proses integrasi bahan baku terbarukan ke dalam sistem kilang berteknologi tinggi memerlukan presisi ketat agar tidak mengganggu keandalan katalis maupun integritas metalurgi reaktor. Berdasarkan rekam jejak pengujian, proses pengolahan UCO ini melalui tahapan terstruktur:
- Tahap Pengumpulan dan Standardisasi Bahan Baku: Minyak jelantah dari sektor komersial maupun rumah tangga dikumpulkan dan diuji parameter kimianya, termasuk kadar asam lemak bebas (FFA), kelembapan, dan pengotor organik.
- Fase Pre-treatment dan Pemurnian: UCO menjalani proses pembersihan awal untuk mengeliminasi kontaminan klorida, fosfor, dan logam berat yang berisiko meracuni katalis kilang.
- Uji Coba Ko-prosesing (Co-processing): Bahan baku nabati yang telah dimurnikan dialirkan bersama bahan baku fosil ke dalam unit perengkahan katalis untuk menghasilkan fraksi bahan bakar hidrokarbon ramah lingkungan.
- Pengujian Kualitas Produk Akhir: Sampul bahan bakar hasil pemrosesan diuji laboratorium guna memastikan kesesuaian standar spesifikasi teknis dan performa mesin pembakaran.
Investigasi Teknis: Potensi Biofuel dan SAF
Eksperimen di Kilang Balongan difokuskan untuk menilai viabilitas ekonomi dan operasional ko-prosesing UCO dalam memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) serta Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur. Kilang Balongan dipilih karena memiliki fleksibilitas unit pengolahan dan teknologi perengkahan yang memadai untuk adaptasi bahan baku bioenergi.
"Pengolahan minyak jelantah merupakan terobosan ekonomi sirkular. Tantangan terbesarnya bukan hanya pada rekayasa teknologi kilang, melainkan stabilitas pasokan bahan baku yang memenuhi spesifikasi teknis tanpa merusak fasilitas pengolahan," ungkap laporan evaluasi teknis operasional kilang.
Dari penelusuran data performa, pemanfaatan UCO sebagai campuran bahan baku kilang menawarkan sejumlah keunggulan strategis:
- Reduksi Emisi Siklus Hidup: Bahan bakar nabati dari UCO mampu mereduksi emisi gas rumah kaca hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar fosil konvensional.
- Peningkatan Nilai Tambah Limbah: Mengonversi limbah minyak goreng yang berpotensi mencemari saluran air dan tanah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
- Kesiapan Pasar Aviasi Global: Permintaan internasional terhadap bioavtur SAF terus meningkat seiring mandatori dekarbonisasi sektor penerbangan global.
Tantangan Logistik Rantai Pasok Domestik
Kendati uji coba fasilitas di Indramayu menunjukkan indikator positif, tantangan struktural masih membayangi kelanjutan program ini secara komersial penuh. Rantai pasok minyak jelantah di dalam negeri masih terfragmentasi, dengan sebagian besar volume UCO berkualitas ekspor justru terserap pasar luar negeri seperti Eropa dan Amerika Utara.
Ke depan, keberhasilan Kilang Balongan dalam mengomersialisasikan fasilitas pengolahan UCO ini akan sangat bertumpu pada regulasi tata kelola rantai pasok domestik, insentif fiskal bioenergi, serta kepastian ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.
Comments (0)