Sep 10, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

DPR RI Desak Kemudahan Sertifikasi SNI Bagi Industri UMKM

Di tengah gempuran produk impor berharga murah yang membanjiri pasar domestik, para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di berbagai daerah di Indonesi

DPR RI Desak Kemudahan Sertifikasi SNI Bagi Industri UMKM

Di tengah gempuran produk impor berharga murah yang membanjiri pasar domestik, para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di berbagai daerah di Indonesia menghadapi tembok besar bernama legalitas standar mutu. Pengakuan berupa Standar Nasional Indonesia (SNI) yang seharusnya menjadi perisai perlindungan produk lokal justru kerap menjelma menjadi labirin birokrasi yang melelahkan dan berbiaya mahal bagi sektor usaha kecil.

Fenomena ketimpangan ini memicu keprihatinan mendalam di ruang-ruang rapat parlemen. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) kini secara resmi mendesak pemerintah untuk melakukan perombakan mendasar dalam sistem pengujian dan standardisasi, guna memastikan para pelaku UMKM dan IKM dapat memperoleh label SNI dengan jauh lebih mudah, cepat, dan terjangkau.

Labirin Biaya dan Ketimpangan Fasilitas Pengujian

Selama bertahun-tahun, keluhan pelaku IKM relatif seragam: proses pengajuan SNI menguras stamina finansial yang tidak sedikit. Untuk satu jenis produk saja, total biaya pengujian laboratorium hingga penerbitan sertifikasi bisa menelan dana Rp10 juta hingga Rp30 juta. Bagi industri skala rumah tangga dengan arus kas terbatas, angka tersebut merupakan benteng tinggi yang sangat sulit ditembus.

Masalah semakin rumit akibat ketimpangan infrastruktur laboratorium uji yang terakreditasi. Sebagian besar fasilitas pengujian bermutu tinggi masih menumpuk di Pulau Jawa. Pelaku IKM yang berada di luar Jawa harus menanggung beban logistik ekstra hanya untuk mengirimkan sampel produk mereka ke laboratorium pusat, yang kerap memakan waktu hingga berbulan-bulan.

Dorongan Parlemen untuk Reformasi Standardisasi

Melihat ketimpangan tersebut, DPR RI menegaskan bahwa penguatan fasilitas pengujian di daerah harus menjadi prioritas nasional. Pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional (BSN), diminta tidak hanya menuntut standar tinggi dari pelaku usaha kecil, tetapi juga wajib menyediakan sarana pendukung yang memadai.

"Sertifikasi SNI tidak boleh terus-menerus menjadi beban finansial yang mematikan langkah IKM. Negara harus hadir memfasilitasi pengujian yang murah, cepat, dan tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia agar produk lokal menjadi raja di negeri sendiri," tegas perwakilan DPR RI dalam pembahasan penguatan industri nasional.

Parlemen menekankan pentingnya alokasi anggaran khusus serta subsidi langsung bagi IKM yang sedang mengajukan sertifikasi produk, baik untuk SNI wajib maupun SNI sukarela.

Anatomi Hambatan dan Solusi Sertifikasi SNI

Untuk memahami jurang pemisah antara kondisi lapangan saat ini dengan solusi yang didorong oleh parlemen, berikut adalah peta perbandingannya:

Parameter Kondisi IKM Saat Ini Solusi Didesak DPR RI
Biaya Pengujian Sangat Tinggi (Rp10 - 30 Juta per produk) Subsidi penuh/sebagian dari APBN
Sebaran Laboratorium Terpusat di wilayah Pulau Jawa Pembangunan lab uji terpadu di tiap provinsi
Durasi Proses Lambat dan berbelit (3 hingga 6 bulan) Penyederhanaan birokrasi (target < 1 bulan)

Memperkuat Benteng Ekonomi Nasional

Langkah penyederhanaan sertifikasi ini dipandang sangat krusial di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ketika label SNI berhasil dijangkau oleh jutaan IKM, kualitas produk lokal akan meningkat secara merata, memberikan rasa aman bagi konsumen sekaligus meningkatkan daya saing saat berhadapan dengan barang-barang impor.

DPR RI mengingatkan bahwa kemudahan sertifikasi ini bukan berarti menurunkan standar kualitas atau keselamatan barang. Sebaliknya, hal ini adalah upaya mereformasi cara kerja birokrasi agar lebih berpihak pada rakyat kecil. Tanpa langkah nyata dari pemerintah untuk mempermudah akses SNI, potensi besar sektor IKM Indonesia untuk menembus pasar internasional akan terus terhambat oleh tembok administrasi yang dibuat oleh sistem sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User