Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Kenapa Anak Terikat pada Boneka atau Selimut? Ini Penjelasannya

Fenomena anak yang menolak tidur tanpa boneka kesayangan, atau menangis ketika selimut andalannya dicuci, merupakan pemandangan yang familier di banyak rumah tangga. Bagi orang dewasa, benda-benda itu...

Kenapa Anak Terikat pada Boneka atau Selimut? Ini Penjelasannya

Fenomena anak yang menolak tidur tanpa boneka kesayangan, atau menangis ketika selimut andalannya dicuci, merupakan pemandangan yang familier di banyak rumah tangga. Bagi orang dewasa, benda-benda itu tampak seperti mainan biasa. Namun bagi anak, keberadaannya memiliki makna psikologis yang jauh lebih dalam daripada sekadar barang. Banyak orang tua bertanya-tanya apakah kebiasaan ini normal, mengapa bisa terjadi, dan kapan perlu diwaspadai.

Jembatan Emosional di Masa Transisi

Para psikolog perkembangan menyebut fenomena ini sebagai kelekatan terhadap objek transisi. Benda seperti boneka, selimut, bantal, atau bahkan kain berumbai hadir pada momen ketika anak mulai menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang terpisah dari orang tuanya. Kesadaran ini merupakan tonggak perkembangan yang sehat, tetapi sekaligus memunculkan rasa cemas pertama yang pernah dialami anak: kekhawatiran bahwa sosok pengasuhnya akan menghilang.

Dalam kondisi tersebut, objek kesayangan berfungsi sebagai perantara emosional. Anak memindahkan sebagian rasa aman yang sebelumnya bersumber dari pelukan orang tua ke benda yang bisa ia kendalikan sendiri. Selimut atau boneka itu menjadi representasi hadirnya orang tua di saat mereka sedang tidak berada di dekatnya.

Akar Teori Benda Transisi

Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh dokter anak sekaligus psikoanalis asal Inggris, Donald Woods Winnicott, pada pertengahan abad ke-20. Dalam tulisannya, Winnicott menggambarkan objek transisi sebagai kepemilikan pertama anak yang jelas-jelas bukan bagian dari dirinya sendiri. Benda ini menempati wilayah peralihan antara dunia subjektif anak dan realitas eksternal.

Ciri khas benda ini adalah konsistensinya. Anak biasanya menolak pengganti yang identik sekalipun, karena yang melekat pada benda itu bukan sekadar bentuk, melainkan bau, tekstur, dan sensasi yang familier. Bau khas tersebut sering kali berasal dari tubuh orang tua yang menempel pada kain, dan itulah yang memberikan efek menenangkan.

Fungsi Perlindungan dan Kemandirian

Kelekatan terhadap objek transisi justru merupakan penanda perkembangan kemandirian. Anak yang mampu membawa rasa amannya ke dalam benda yang ia pegang menunjukkan bahwa ia mulai mampu mengelola kecemasan tanpa harus selalu bergantung pada kehadiran fisik orang tua. Dengan kata lain, boneka atau selimut itu membantu anak berlatih berdiri sendiri.

Benda ini juga berperan sebagai penenang di momen-momen sulit: menjelang tidur, saat berada di lingkungan baru, ketika sakit, atau ketika menghadapi perpisahan. Di sinilah objek transisi berfungsi seperti pengatur emosi portabel yang bisa dibawa ke mana pun.

Tanda Kelekatan yang Sehat

Secara umum, kelekatan semacam ini dianggap wajar selama tidak mengganggu fungsi sosial anak. Anak tetap mau bermain dengan teman, tetap responsif terhadap orang lain, dan hanya membutuhkan bendanya pada situasi tertentu, misalnya saat tidur atau saat stres, maka kelekatan itu berada dalam batas normal.

Kebutuhan terhadap benda kesayangan umumnya mulai muncul sekitar usia enam hingga sembilan bulan dan mencapai puncaknya pada usia dua hingga tiga tahun. Seiring bertambahnya usia, sebagian besar anak akan melepaskan benda tersebut secara alami ketika rasa amannya sudah tertanam dalam diri.

Kapan Orang Tua Perlu Waspada

Meski umumnya sehat, ada kondisi yang perlu diwaspadai. Jika anak menunjukkan tekanan berlebihan ketika benda itu tidak ada, menolak berinteraksi sama sekali tanpa benda tersebut, atau kelekatan itu bertahan hingga usia sekolah dasar dengan tingkat ketergantungan yang sangat tinggi, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog anak.

Yang juga perlu diingat adalah penanganan yang keliru justru dapat memperkuat kecemasan. Merampas benda kesayangan secara paksa, atau mencucinya diam-diam hingga baunya hilang, sering kali memicu reaksi berlebihan karena anak kehilangan sumber rasa amannya secara mendadak.

Saran bagi Orang Tua

Pendekatan yang dianjurkan adalah bertahap. Orang tua dapat mulai membatasi penggunaan benda hanya pada waktu tidur, lalu memperkenalkan pengganti yang lebih fleksibel seperti boneka lain atau aktivitas menenangkan. Yang terpenting, proses ini dilakukan dengan kehangatan, bukan paksaan, karena kelekatan terhadap benda kesayangan pada dasarnya adalah cara anak belajar merasa aman di dunia yang semakin luas.

Pada akhirnya, kelekatan terhadap boneka atau selimut adalah bagian normal dari perjalanan tumbuh kembang. Selama anak tetap sehat secara sosial dan emosional, benda kesayangan itu bukanlah masalah yang harus dihilangkan, melainkan teman yang menemaninya melewati masa-masa pertama belajar mandiri. Memahami fungsinya sebagai jembatan emosional membuat orang tua dapat menyikapi fenomena ini dengan tenang, sabar, dan penuh pengertian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User