Sep 01, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Kenaikan Biaya Hidup Jadi Tantangan Berat Mahasiswa Perantauan

Tekanan ekonomi yang terus melonjak dalam beberapa bulan terakhir telah menempatkan mahasiswa perantauan pada posisi yang semakin sulit. Mereka yang meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu di...

Kenaikan Biaya Hidup Jadi Tantangan Berat Mahasiswa Perantauan

Tekanan ekonomi yang terus melonjak dalam beberapa bulan terakhir telah menempatkan mahasiswa perantauan pada posisi yang semakin sulit. Mereka yang meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu di kota-kota besar kini harus menghadapi kenyataan hidup yang jauh lebih mahal dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Realita Biaya Hidup yang Tak Lagi Terjangkau

Bagi sebagian besar mahasiswa yang merantau, pengeluaran bulanan mereka kini jauh melampaui estimasi awal. Harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan sayur-mayur mengalami kenaikan signifikan. Belum lagi biaya transportasi, kebutuhan internet untuk keperluan akademik, serta berbagai tagihan rutin lainnya yang setiap bulannya terus membengkak.

Situasi ini memaksa banyak mahasiswa untuk melakukan penyesuaian besar-besaran dalam pola hidup mereka. Beberapa di antara mereka mengurangi frekuensi makan, memilih bahan makanan yang lebih murah, hingga mengorbankan waktu istirahat demi mencari pekerjaan paruh waktu untuk menambah penghasilan.

Strategi Bertahan di Tengah Gejolak Ekonomi

Dalam menghadapi kondisi tersebut, mahasiswa rantau dituntut untuk semakin kreatif dan hemat. Banyak di antara mereka yang mulai bergabung dalam kelompok pembelian bersama untuk mendapatkan harga lebih terjangkau. others started growing their own vegetables in limited spaces around their boarding houses. Some even started sharing accommodation costs with more roommates to reduce individual burdens.

Selain itu, pemanfaatan aplikasi diskon dan promo menjadi hal yang sangat umum di kalangan mahasiswa. Mereka secara aktif mencari berbagai kesempatan untuk mendapatkan potongan harga, mulai dari makanan hingga kebutuhan pokok sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya pasif menghadapi kenaikan biaya hidup, melainkan aktif mencari berbagai cara untuk bertahan.

Dampak Psikologis yang Tak Boleh Diabaikan

Di balik strategi bertahan hidup yang terlihat pragmatis, terdapat dampak psikologis yang cukup serius. Tekanan finansial yang berkepanjangan berpotensi mengganggu konsentrasi belajar dan menurunkan prestasi akademik. Beberapa mahasiswa mengakui bahwa mereka sering merasa cemas dan tertekan karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka dengan layak.

Oleh karena itu, diperlukan perhatian lebih dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan dan pemerintah, untuk memberikan pendampingan dan bantuan yang memadai bagi mahasiswa yang menghadapi kesulitan ekonomi. Bantuan ini bisa berupa subsidi biaya pendidikan, penyediaan asrama dengan tarif terjangkau, atau program-program beasiswa yang lebih luas jangkauannya.

Pada akhirnya, kemampuan mahasiswa perantauan dalam beradaptasi dengan situasi ekonomi yang sulit merupakan gambaran nyata dari ketahanan generasi muda Indonesia. Mereka membuktikan bahwa meskipun menghadapi berbagai tantangan, semangat untuk meraih pendidikan tetap tidak padam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User