Kemenkes Pacu Produksi Vaksin Dengue, LPDP-Etana Danai Riset Rp16 M
Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mempercepat upaya kemandirian produksi vaksin nasional, khususnya vaksin dengue yang kian mendesak seiring dengan meningkatnya siklus endemi demam be...
Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mempercepat upaya kemandirian produksi vaksin nasional, khususnya vaksin dengue yang kian mendesak seiring dengan meningkatnya siklus endemi demam berdarah di sejumlah wilayah tropis Indonesia. Melalui skema pendanaan inovatif, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bersama PT Etana Biotechnologies Indonesia resmi menggelontorkan dana riset senilai Rp16 miliar untuk mengembangkan kandidat vaksin dengue tetravalen buatan dalam negeri. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa alokasi ini merupakan bagian dari peta jalan (roadmap) Kemandirian Farmasi Nasional 2025–2035.
“Riset ini bukan semata proyek laboratorium. Kami sedang membangun kapasitas pengembangan vaksin dari hulu ke hilir, mulai dari riset dasar, uji praklinis, hingga uji klinis tahap I, II, dan III yang sepenuhnya dilakukan di Indonesia. Dana LPDP akan dikelola langsung oleh Etana sebagai mitra industri, tetapi pengawasan saintifik dan regulasi tetap berada di bawah koordinasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Komite Nasional Penilai Vaksin,” kata Budi Gunadi dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Vaksin dengue yang digarap menggunakan platform mRNA dan protein rekombinan ini menargetkan perlindungan terhadap keempat serotipe virus dengue (DENV-1 hingga DENV-4) yang umum beredar di Asia Tenggara. Chief Scientific Officer Etana, Dr. Made Indrayanti, menjelaskan bahwa kandidat vaksin telah melalui tahap pra-klinis pada model hewan dan menunjukkan hasil imunogenisitas yang menggembirakan. “Titer antibodi netralisasi terhadap keempat serotipe setidaknya 4 kali lipat lebih tinggi dibanding placebo. Saat ini kami bersiap memasukkannya ke uji klinis Fase I pada akhir 2026, menyasar 120 sukarelawan di tiga pusat penelitian: Jakarta, Denpasar, dan Manado,” ungkap Made.
Dukungan dana riset sebesar Rp16 miliar dari LPDP dan Etana ini merupakan bagian dari mekanisme pembiayaan inovatif yang disebut “Matching Fund Double Track”. Skema ini memungkinkan pemerintah—melalui LPDP—menanggung 50 persen total biaya riset, sedangkan sisanya ditanggung oleh mitra industri. Direktur Utama LPDP, Andin Hadiyanto, menyebut pola ini sebagai terobosan yang mempercepat komersialisasi produk riset kesehatan dalam negeri. “Kami tidak hanya memberi hibah, tetapi juga memastikan ada kepastian pasar. Target kita adalah pada 2028 vaksin ini sudah bisa didaftarkan ke WHO dan siap digunakan dalam program imunisasi nasional,” urainya.
Kemandirian vaksin dengue dinilai krusial karena selama ini Indonesia masih bergantung pada impor vaksin CYD-TDV (Dengvaxia) dan TAK-003 (Qdenga) yang harganya relatif mahal dan stoknya sering terhambat rantai pasok global. Data Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mencatat, sepanjang Januari–Maret 2026 saja sudah terdapat 42.000 kasus DBD dengan angka kematian mencapai 310 jiwa. Wilayah endemis seperti Jawa Tengah, Bali, dan Nusa Tenggara Timur menjadi prioritas pertama jika nantinya vaksin dengue lokal ini terdistribusi.
Keberlanjutan pendanaan juga akan dibahas dalam rapat koordinasi lintas kementerian pada Juni 2026 untuk menjamin pasokan bahan baku, penyiapan fasilitas produksi berstandar current Good Manufacturing Practice (cGMP), serta skema harga yang terjangkau bagi masyarakat. “Ini bukan lagi wacana. Indonesia harus mampu memproduksi vaksin unggulan, dan dengue adalah momentum kita,” tutup Budi Gunadi.
[TAGS]: vaksin dengue, Kemenkes, LPDP, Etana, riset vaksin, demam berdarah, kemandirian farmasi [SOCIAL_TWEET]: 💉 Kemenkes dan LPDP-Etana kucurkan Rp16 M untuk riset vaksin dengue tetravalen. Ditargetkan uji klinis Fase I akhir tahun ini. Indonesia satu langkah lebih dekat menuju kemandirian vaksin! #VaksinDengue #KemandirianFarmasi #LPDP #Etana [SOCIAL_FB]: Demam berdarah masih menjadi momok di banyak daerah. Kabar baik: Indonesia kini punya roadmap serius untuk memproduksi vaksin dengue sendiri! Kemenkes melaporkan dana Rp16 miliar dari LPDP dan Etana sudah siap untuk tahap uji klinis. Simak wawancara eksklusif dengan Menkes Budi Gunadi soal target 2028 dan wilayah prioritas distribusi. [SOCIAL_TG]: LPDP dan Etana gelontorkan Rp16 miliar untuk vaksin dengue lokal. Fase I uji klinis dijadwalkan akhir 2026. [SOCIAL_THREADS]: Indonesia akhirnya bergerak cepat wujudkan vaksin dengue mandiri. Dana riset Rp16 M sudah mengalir, kandidat vaksin menjanjikan. Saya kupas platform mRNA yang dipakai, skema pendanaan LPDP-Etana, dan peta eliminasi DBD nasional di benang ini 🧵
Comments (0)