Keluarga mantan Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, melontarkan tuduhan mengejutkan terhadap pucuk pimpinan militer negara tersebut. Kedua putra Imran Khan, Sulaiman Isa Khan dan Qasim Khan, secara terbuka menuding Panglima Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, tengah melancarkan aksi balas dendam personal yang mengancam nyawa sang mantan kepala pemerintahan di balik jeruji besi.
Dalam pernyataan investigatif yang memicu sorotan internasional, pihak keluarga menggambarkan kondisi penahanan tokoh oposisi paling populer di Pakistan tersebut sebagai bentuk penyiksaan sistematis yang bertujuan menghancurkannya secara fisik dan mental secara perlahan.
Isolasi Ekstrem dan Balas Dendam Politik
Ketegangan antara Imran Khan dan lingkaran elite militer Pakistan memasuki babak yang kian berbahaya. Hubungan antara Khan dan Jenderal Asim Munir telah lama memanas, berpangkal dari pemecatan Munir dari jabatannya sebagai Direktur Jenderal Inter-Services Intelligence (ISI) saat Khan masih menjabat sebagai perdana menteri pada 2019 lalu.
"Ayah kami sedang dibunuh secara perlahan di dalam penjara. Ini bukan sekadar penahanan yudisial, melainkan agenda balas dendam pribadi yang didorong oleh pucuk pimpinan militer," demikian inti dari pernyataan publik yang disuarakan oleh kedua putranya.
Keluarga mengungkapkan bahwa mereka telah kehilangan akses komunikasi langsung dengan sang ayah selama lebih dari enam bulan. Pemutusan akses total ini mencakup larangan panggilan telepon, surat-menyurat, maupun kunjungan keluarga inti, sebuah metode penahanan inkomunikado yang dinilai melanggar standar hak asasi manusia internasional.
Ancaman Kebutaan dan Pengabaian Medis
Sorotan paling krusial tertuju pada penurunan kondisi medis Imran Khan di Penjara Adiala, Rawalpindi. Pihak keluarga melaporkan adanya pengabaian serius terhadap infeksi atau gangguan pada mata Khan yang dibiarkan tanpa penanganan medis spesialis yang memadai selama berbulan-bulan.
- Krisis Kesehatan: Gangguan penglihatan yang tidak ditangani berisiko menimbulkan kebutaan atau kerusakan penglihatan permanen.
- Kondisi Sel: Penahanan di ruang isolasi sempit dengan ventilasi terbatas dan sanitasi yang dipertanyakan.
- Penolakan Akses Medis: Tim dokter independen berulang kali ditolak untuk memeriksa kondisi vital Khan secara menyeluruh.
Bantahan Pemerintah dan Dinamika Otoritarianisme
Pemerintah koalisi Pakistan dan otoritas penjara secara tegas menepis seluruh tuduhan tersebut. Juru bicara pemerintah menyebut narasi yang dibangun pihak keluarga Imran Khan sebagai bentuk propaganda tanpa dasar yang dirancang untuk menarik simpati lembaga internasional dan mendestabilisasi situasi dalam negeri.
Namun, para pengamat politik kawasan menilai penahanan berkepanjangan terhadap Imran Khan sejak Agustus 2023—dengan ratusan dakwaan hukum yang menjeratnya—merupakan bagian dari pola konsolidasi kekuasaan militer pascapemilu yang penuh sengketa. Tekanan internasional kini diarahkan kepada Islamabad untuk memastikan keselamatan fisik dan hak-hak hukum dasar sang mantan perdana menteri tetap dipenuhi.
Comments (0)