Kawanan Hiu Tutul Muncul di Pasuruan, Diduga Migrasi Besar

Pasuruan, Jawa Timur – Sebuah fenomena alam langka menyita perhatian warga pesisir dan para pencinta bahari. Dalam beberapa hari terakhir, kawanan hiu tutu

Jul 13, 2026 - 14:16
0 0
Kawanan Hiu Tutul Muncul di Pasuruan, Diduga Migrasi Besar

Pasuruan, Jawa Timur – Sebuah fenomena alam langka menyita perhatian warga pesisir dan para pencinta bahari. Dalam beberapa hari terakhir, kawanan hiu tutul (Rhincodon typus) terpantau muncul di perairan dangkal sekitar Pasuruan. Kemunculan ikan raksasa yang jinak ini diduga merupakan bagian dari migrasi musiman untuk mencari sumber makanan melimpah dan perairan bersuhu hangat.

Kronologi Kemunculan

Berdasarkan laporan nelayan setempat, penampakan pertama terjadi pada Senin (12/5/2025) pagi. Sekitar pukul 06.00 WIB, sejumlah nelayan yang hendak melaut dikejutkan oleh kemunculan sirip punggung besar yang menyeruak di permukaan air. Awalnya dikira hiu berbahaya, namun setelah didekati, ternyata itu adalah hiu tutul dengan corak totol khasnya.

“Saya sudah 20 tahun melaut, baru kali ini lihat hiu tutul sebanyak ini. Ada sekitar 15 ekor, besar-besar, panjangnya bisa 4 sampai 6 meter. Tapi kami tidak takut karena tahu mereka tidak makan manusia,” ujar Sutrisno (45), nelayan asal Desa Tambakrejo, Kecamatan Lekok, Pasuruan.

Hiu tutul (Rhincodon typus) adalah spesies ikan terbesar di dunia, mampu tumbuh hingga 12 meter atau lebih dengan berat mencapai 21 ton. Meski ukurannya raksasa, mereka adalah filter feeder jinak yang hanya mengonsumsi plankton, krustasea kecil, dan telur ikan. Pola totol di tubuhnya unik bak sidik jari, memungkinkan identifikasi individu melalui teknik photo-ID. Di Indonesia, ikan ini kerap dijuluki “ikan besar totol” atau “gurano bintang”.

Dalam dua hari berikutnya, penampakan serupa dilaporkan oleh warga di beberapa titik, seperti di perairan Nguling dan Bangil. Bahkan, seorang wisatawan yang sedang memancing di dermaga kecil berhasil mengabadikan momen ketika seekor hiu tutul remaja berenang tepat di bawah perahunya.

Mengapa Hiu Tutul Muncul di Pasuruan?

Menurut Dr. Rani Maharani, ahli biologi kelautan dari Universitas Brawijaya, kemunculan kawanan hiu tutul di perairan selatan Jawa bukanlah hal yang sepenuhnya baru, namun dalam jumlah besar dan dekat pesisir tetap tergolong langka. “Hiu tutul bermigrasi mengikuti arus plankton yang naik ke permukaan akibat fenomena upwelling atau kenaikan massa air dingin dari laut dalam. Perairan Pasuruan yang hangat dan subur setelah musim hujan menjadi lokasi ideal untuk mencari makan,” jelasnya.

Berdasarkan data dari Balai Riset dan Observasi Kelautan (BROK) Kementerian Kelautan dan Perikanan, konsentrasi klorofil-a di perairan Pasuruan mencapai 2,5 mg/m³, jauh di atas rata-rata bulanan. Hal ini memicu ledakan populasi plankton yang menjadi daya tarik bagi hiu tutul dan spesies pelagis lainnya. Hiu tutul mampu menyaring hingga 6.000 liter air laut per jam untuk menangkap plankton, telur ikan, dan krustasea kecil. Kemampuan ini menjadikan mereka sebagai salah satu spesies filter feeder terbesar di dunia.

Dr. Rani menambahkan, “Meskipun ukurannya besar, hiu tutul sama sekali tidak berbahaya bagi manusia. Mereka adalah filter feeder. Yang perlu diwaspadai justru aktivitas manusia yang dapat mengganggu mereka, seperti perahu motor yang dapat melukai kulit sensitifnya.”

Status Konservasi dan Imbauan

Hiu tutul telah ditetapkan sebagai spesies yang dilindungi secara nasional melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013. Secara internasional, IUCN (International Union for Conservation of Nature) mengkategorikannya sebagai Endangered (Terancam Punah) sejak 2016. Populasinya terus menurun akibat perburuan sirip dan daging, serta kematian akibat tangkapan sampingan (bycatch) alat tangkap ikan.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mendekati, mengejar, atau menyentuh hiu tutul. “Kami meminta warga untuk menjaga jarak minimal 10 meter, tidak memberi makan, dan segera melaporkan jika ada hiu yang terdampar atau terluka,” kata Kepala BBKSDA Jatim, Dr. Ir. Budi Santoso, M.Sc., dalam keterangan tertulis. Pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan TNI AL dan Polair untuk memastikan perlindungan selama kawanan hiu tersebut berada di perairan Pasuruan. Lebih lanjut, menyentuh hiu tutul dapat menghilangkan lapisan lendir pelindung di kulitnya sehingga rentan terhadap infeksi, serta dapat dikenai sanksi pidana sesuai UU No. 5 Tahun 1990 dengan ancaman denda hingga Rp100 juta.

Fenomena ini pun membuka peluang ekowisata bahari yang berkelanjutan. Beberapa operator wisata lokal mulai merencanakan paket pemantauan hiu tutul dengan protokol ketat. “Kami ingin menjadikan ini sebagai daya tarik wisata minat khusus, sambil tetap mengutamakan konservasi. Hiu tutul adalah aset alam yang harus dijaga,” ujar Mustofa, ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat.

Dengan pemantauan ketat dari otoritas terkait, diharapkan kawanan hiu tutul ini dapat melintas dengan aman dan fenomena serupa bisa berlangsung secara alami di masa depan. Masyarakat diharapkan turut berperan aktif menjaga ekosistem laut agar kekayaan biodiversitas Indonesia tetap lestari.

[SOCIAL_TWEET]: Kawanan hiu tutul raksasa tiba-tiba muncul di perairan Pasuruan! Fenomena langka ini diduga bagian dari migrasi besar mencari plankton. Warga dan wisatawan diminta jaga jarak. #HiuTutul #Pasuruan #MigrasiLaut[SOCIAL_TG]: 🦈 Kawanan hiu tutul muncul di Pasuruan! Diduga migrasi besar-besaran untuk mencari plankton. Pihak berwenang imbau warga jaga jarak dan tidak mengganggu. Baca berita lengkapnya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User