Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Karhutla 2026: El Nino Memperparah, Manusia Tetap Pemicu Utama

Peningkatan kebakaran hutan dan lahan pada 2026 tidak bisa dilepaskan dari kondisi atmosfer global. Fenomena El Nino yang menguat menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih lama dari normal di sebagi...

Karhutla 2026: El Nino Memperparah, Manusia Tetap Pemicu Utama

Peningkatan kebakaran hutan dan lahan pada 2026 tidak bisa dilepaskan dari kondisi atmosfer global. Fenomena El Nino yang menguat menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih lama dari normal di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga tutupan lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Namun, berdasarkan verifikasi atas catatan resmi dan keterangan para pemantau lingkungan, anggapan bahwa El Nino adalah akar tunggal dari lonjakan karhutla tidak sepenuhnya akurat. Data menunjukkan bahwa musim kering hanya memperbesar potensi; pemicu utama tetap berada di lapangan.

Kemarau El Nino: Pemicu, Bukan Penyebab Tunggal

El Nino memang membawa konsekuensi yang dapat diukur: berkurangnya curah hujan, menurunnya kelembapan udara, dan mengeringnya lapisan permukaan tanah. Dalam kondisi seperti itu, satu percikan kecil dapat berkembang menjadi kebakaran luas dalam hitungan jam. Pemantauan iklim dari lembaga meteorologi menunjukkan bahwa sebagian daerah yang biasa menerima hujan pada periode tersebut justru mengalami defisit air yang signifikan. Faktanya adalah, kondisi kering membuat lanskap berada dalam keadaan paling rentan terhadap api.

Meski demikian, menempatkan seluruh tanggung jawab pada faktor cuaca adalah cara pandang yang menyesatkan. Kemarau panjang terjadi hampir setiap tahun, tetapi skala kebakaran bervariasi dari satu musim ke musim lain. Perbedaan itu tidak dapat dijelaskan oleh iklim semata. Bertentangan dengan narasi yang menyebut El Nino sebagai penyebab utama, bukti dari penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa kebakaran hampir selalu bermula dari aktivitas manusia, dan cuaca kering hanya menentukan seberapa cepat api menyebar.

Gambut Rusak: Api Bawah Tanah yang Sulit Dipadamkan

Salah satu faktor yang memperbesar risiko adalah kondisi lahan gambut. Gambut yang sehat dalam keadaan basah tidak mudah terbakar karena kandungan airnya tinggi. Namun, lahan gambut yang telah rusak—akibat drainase berlebihan, kanalisasi, dan pembakaran berulang—kehilangan kemampuan menahan air. Lapisan gambut yang kering menjadi bahan bakar yang sangat mudah menyala dan mampu menyimpan api dalam waktu lama di bawah permukaan.

Data dari pemantauan kebakaran menunjukkan bahwa titik api di kawasan gambut cenderung bertahan lebih lama dan menghasilkan asap yang lebih pekat dibandingkan kebakaran di lahan mineral. Kebakaran bawah tanah semacam ini sulit dideteksi dari udara dan sulit dipadamkan dari permukaan, sehingga memperpanjang durasi kabut asap dan memperbesar dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Kerusakan gambut, dengan demikian, bukan sekadar masalah ekologi, tetapi juga faktor yang memperparah skala karhutla secara langsung.

Perubahan Lahan dan Perilaku Manusia

Faktor kedua adalah perubahan fungsi lahan. Konversi hutan dan lahan basah menjadi kawasan pertanian, perkebunan, dan pemukiman mengubah lanskap yang semula tahan api menjadi wilayah yang rentan. Pembukaan lahan dengan cara dibakar masih menjadi praktik yang ditemukan di berbagai daerah, baik karena dianggap murah maupun karena kebiasaan yang diwariskan. Sumber resmi mencatat bahwa sebagian besar kebakaran pada musim kemarau berawal dari aktivitas pembukaan lahan, bukan dari faktor alam seperti petir.

Klaim bahwa kebakaran terjadi dengan sendirinya akibat panas dan kekeringan tidak didukung oleh bukti lapangan. Penelusuran di sejumlah lokasi kejadian menemukan pola yang sama: api bermula di titik-titik yang berdekatan dengan aktivitas manusia, seperti tepi kanal, bekas tebangan, dan area yang baru dibuka. Perilaku inilah yang menjadikan karhutla sebagai persoalan yang berulang setiap musim kemarau, terlepas dari seberapa kuat pengaruh El Nino pada tahun tersebut.

Mitigasi: Menyasar Akar Masalah

Dengan memahami bahwa manusia, gambut rusak, dan perubahan lahan adalah faktor penentu, arah penanganan menjadi lebih jelas. Pembasahan kembali gambut melalui pembangunan sekat kanal, penguatan patroli terpadu, dan penegakan hukum yang konsisten terhadap pelaku pembakaran merupakan langkah yang berdampak langsung pada pengurangan risiko. Perbaikan tata kelola lahan, termasuk penyediaan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar, juga menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang.

Kesimpulannya, lonjakan karhutla pada 2026 adalah hasil interaksi antara kondisi iklim yang kering dan faktor-faktor yang berada dalam kendali manusia. El Nino memperparah, tetapi tidak menciptakan, kebakaran. Selama gambut tetap rusak, lahan terus dialihfungsikan, dan praktik membakar masih dianggap normal, musim kemarau berikutnya akan membawa risiko yang sama. Data menunjukkan bahwa penanganan yang efektif harus menyasar akar persoalan, bukan sekadar menunggu hujan turun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User