Kardinal Quevedo dari Filipina Raih Harmony in Diversity Award 2026
JAKARTA — Kardinal Orlando Beltran Quevedo, seorang tokoh Gereja Katolik terkemuka dari Filipina, secara resmi menerima penghargaan Harmony in Diversity Aw
JAKARTA — Kardinal Orlando Beltran Quevedo, seorang tokoh Gereja Katolik terkemuka dari Filipina, secara resmi menerima penghargaan Harmony in Diversity Award 2026 dalam sebuah seremoni megah yang digelar di Jakarta. Penghargaan bergengsi ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi seumur hidupnya dalam memperjuangkan kerukunan antaragama dan keberagaman di kawasan Asia Tenggara.
Latar Belakang Sang Kardinal
Kardinal Orlando Beltran Quevedo, yang lahir pada 11 Maret 1939 di kota Villasis, Pangasinan, Filipina, merupakan sosok yang telah mendedikasikan hidupnya lebih dari lima dekade untuk pelayanan keagamaan dan diplomasi perdamaian. Ia pernah menjabat sebagai Uskup Agung Emeritus dari Archdiocese of Cotabato, sebuah wilayah yang dikenal dengan sejarah panjang konflik antar komunitas Muslim dan Kristen di Mindanao.
Selama masa pelayanannya, Kardinal Quevedo dikenal sebagai jembatan perdamaian antara komunitas Kristen dan Muslim di Filipina selatan. Ia secara konsisten mendorong dialog antaragama sebagai solusi atas konflik bersenjata yang telah berlangsung puluhan tahun di wilayah tersebut. Pendekatan lembutnya yang penuh empati membuatnya dihormati oleh berbagai pihak, tidak hanya dari kalangan Katolik tetapi juga dari komunitas agama lain.
Mengenal Harmony in Diversity Award
Harmony in Diversity Award merupakan penghargaan internasional yang diberikan setiap dua tahun sekali kepada individu atau organisasi yang dinilai telah memberikan kontribusi luar biasa dalam membangun perdamaian, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama di dunia. Penghargaan ini diprakarsai oleh sebuah yayasan nirlaba yang berbasis di Jakarta dan telah berlangsung sejak tahun 2014.
Proses seleksi penerima penghargaan dilakukan oleh sebuah dewan juri independen yang terdiri dari akademisi, tokoh agama, dan diplomat senior dari berbagai negara. Kriteria penilaian mencakup dampak nyata terhadap perdamaian, keberlanjutan program kerukunan, serta kemampuan penerima dalam menginspirasi masyarakat luas untuk hidup berdampingan secara harmonis.
"Kami memilih Kardinal Quevedo bukan hanya karena jasanya di Filipina, tetapi karena beliau telah menjadi inspirasi bagi gerakan kerukunan di seluruh Asia. Dedikasinya selama puluhan tahun membuktikan bahwa dialog adalah senjata paling ampuh untuk mengatasi perbedaan," ujar Ketua Dewan Juri dalam pidato pembukaannya.
Momen Bersejarah di Jakarta
Seremoni penyerahan penghargaan berlangsung di sebuah hotel mewah di pusat Jakarta, dihadiri oleh ratusan tamu undangan yang terdiri dari duta besar, pejabat pemerintah, tokoh agama, serta perwakilan organisasi internasional. Acara dibuka dengan pembacaan doa dari berbagai agama, sebuah simbol kuat akan semangat inklusivitas yang menjadi inti dari penghargaan ini.
Dalam pidato penerimaannya, Kardinal Quevedo menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya membangun jembatan pemahaman di tengah dunia yang semakin terpecah oleh perbedaan identitas. Ia menekankan bahwa keragaman bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang harus dirayakan bersama.
Menurut sumber panitia, kehadiran Kardinal Quevedo di Jakarta menjadi perhatian khusus karena ini merupakan kunjungan resminya yang pertama ke Indonesia dalam lima tahun terakhir. Selama kunjungannya, ia juga dijadwalkan untuk melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah tokoh lintas agama, termasuk perwakilan dari Majelis Ulama Indonesia dan Konferensi Waligereja Indonesia.
Kontribusi Nyata bagi Perdamaian
Sepanjang karirnya, Kardinal Quevedo telah menerima berbagai penghargaan internasional, termasuk Ramon Magsaysay Award yang sering disebut sebagai "Nobel Prize of Asia". Namun, Harmony in Diversity Award 2026 dinilai memiliki makna khusus bagi dirinya karena diberikan oleh komunitas internasional yang secara aktif memperjuangkan perdamaian di kawasan dengan tingkat keragaman agama tertinggi di dunia.
- Mendirikan pusat dialog antaragama di Mindanao pada tahun 1990-an
- Berhasil memediasi gencatan senjata antara pemerintah Filipina dan kelompok pemberontak
- Mendorong pembentukan program pendidikan multikultural di sekolah-sekolah Katolik
- Secara konsisten menyuarakan perdamaian dalam forum-forum internasional
Dampak bagi Indonesia dan Kawasan
Penganugerahan penghargaan ini juga dinilai memiliki relevansi kuat dengan situasi Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia namun berhasil menjaga kerukunan antaragama secara relatif baik. Pengalaman Kardinal Quevedo di Mindanao diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga bagi upaya perdamaian di kawasan lain, termasuk di wilayah-wilayah yang masih menghadapi tantangan serupa.
Sejumlah pengamat sosial menilai bahwa kunjungan Kardinal Quevedo ke Jakarta bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk memperkuat jejaring perdamaian antaragama di Asia Tenggara. Indonesia, dengan pengalaman panjang dalam mengelola keberagaman, dianggap sebagai mitra strategis yang tepat untuk melanjutkan agenda kerukunan ini.
Dengan diterimanya Harmony in Diversity Award 2026, nama Kardinal Orlando Beltran Quevedo kini resmi masuk dalam daftar tokoh perdamaian dunia yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi kemanusiaan. Penghargaan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan oleh setiap generasi dengan tekad dan ketulusan hati.
[SOCIAL_TWEET]: Kardinal Orlando Beltran Quevedo dari Filipina resmi menerima Harmony in Diversity Award 2026 di Jakarta! Penghargaan atas dedikasi seumur hidup dalam membangun kerukunan antaragama. #HarmonyInDiversity #PeaceMaker #AsiaTenggara [SOCIAL_TWEET]: 🕊️✨ Kardinal Quevedo dari Filipina menerima Harmony in Diversity Award 2026 di Jakarta! Sebuah penghormatan atas dedikasi seumur hidupnya untuk perdamaian dan kerukunan antaragama di Asia Tenggara. #HarmonyAward #PeaceBuilder
Comments (0)