Jejak Fosil di Australia Geser Awal Evolusi Reptil 35 Juta Tahun
CANBERRA — Sejarah kemunculan reptil di Bumi baru saja ditulis ulang. Selama beberapa dekade, para ilmuwan percaya bahwa kelompok hewan melata yang kini mencakup ular, kadal, kura-kura, dan buaya mu...
CANBERRA — Sejarah kemunculan reptil di Bumi baru saja ditulis ulang. Selama beberapa dekade, para ilmuwan percaya bahwa kelompok hewan melata yang kini mencakup ular, kadal, kura-kura, dan buaya mulai meninggalkan jejak pertamanya di daratan sekitar 320 juta tahun yang lalu. Kini, bukti baru berupa cetakan kaki purba yang terawetkan di Formasi Snowy Plains, Australia, menunjukkan bahwa nenek moyang reptil sudah berjalan di planet ini setidaknya 355 juta tahun lalu — mundur 35 juta tahun dari perkiraan semula.
Cetakan Kaki yang Mengubah Kronologi
Bukti fosil itu berupa serangkaian jejak berukuran kecil, ditemukan pada lapisan batu pasir berusia Karbon Awal di kawasan Snowy Plains, New South Wales. Cetakan tersebut menunjukkan pola lima jari yang khas pada amniota awal — kelompok hewan bertulang belakang yang mampu berkembang biak di daratan kering berkat selaput embrio seperti amnion. Selama ini, fosil tubuh reptil tertua yang pernah diidentifikasi berasal dari periode yang lebih muda, yaitu sekitar 315–320 juta tahun. Keberadaan jejak kaki di batuan yang jauh lebih tua menjadi indikator kuat bahwa reptil sudah hadir ketika dataran Australia masih berupa bagian dari superbenua Gondwana bagian timur.
Tim peneliti menggunakan metode penanggalan radiometrik terhadap butiran zirkon dalam batuan yang mengapit lapisan jejak. Hasil analisis memastikan umur minimal 355 juta tahun, dengan rentang kesalahan yang sangat kecil. "Ini bukan sekadar tambahan beberapa juta tahun, tetapi menggeser seluruh narasi tentang laju diversifikasi vertebrata darat," ujar salah satu anggota tim yang enggan disebut namanya. Jejak tersebut menunjukkan bahwa adaptasi amniota terjadi lebih cepat dari yang pernah dibayangkan, tepat di masa ketika oksigen atmosfer masih jauh lebih rendah dibandingkan level saat ini.
Mengapa Penemuan Ini Begitu Penting
Reptil merupakan tonggak kunci dalam sejarah kehidupan karena mereka adalah vertebrata pertama yang sepenuhnya lepas dari ketergantungan terhadap air untuk bereproduksi. Fosil jejak Snowy Plains mengindikasikan bahwa inovasi evolusioner ini — telur bercangkang keras dan kulit bersisik yang tahan dehidrasi — telah muncul lebih awal selama periode Karbon. Sebelumnya, konsensus ilmiah menempatkan titik balik tersebut pada pertengahan hingga akhir periode yang sama, saat Bumi mulai dihiasi hutan-hutan raksasa penghasil batubara. Pemunduran 35 juta tahun ke belakang membuat peristiwa itu kini beririsan dengan masa diversifikasi tumbuhan vaskular awal, yang mungkin menyediakan ekosistem lebih kompleks dari yang diduga.
Implikasi lainnya adalah perubahan peta persebaran amniota awal. Keberadaan jejak di Australia mendukung hipotesis bahwa Gondwana bagian selatan — bukan hanya kawasan tropis Laurasia — merupakan pusat asal-usul reptil. Hal ini menantang gagasan lama bahwa amniota pertama kali berevolusi di daerah khatulistiwa yang hangat, dan baru kemudian menyebar ke lintang lebih tinggi. "Kita selama ini bias melihat fosil di Eropa dan Amerika Utara karena kawasan itu paling banyak diteliti," kata paleontolog independen yang tidak terlibat dalam studi tersebut. "Australia menyimpan banyak rahasia yang belum tergali, dan penemuan ini adalah buktinya."
Konteks Karbon Awal: Dunia yang Berbeda
355 juta tahun lalu, Bumi berada pada sub-periode Mississippian, awal dari zaman Karbon. Iklim global cenderung lebih hangat, permukaan laut lebih tinggi, dan ekosistem darat masih didominasi oleh tumbuhan spora seperti paku-pakuan purba dan lumut raksasa, sementara hutan belum mencapai puncak kejayaannya. Kadar oksigen atmosfer berada di kisaran 15 persen — jauh di bawah kadar 21 persen saat ini. Kondisi ini diyakini membatasi metabolisme hewan darat besar, sehingga reptil awal yang meninggalkan jejak di Snowy Plains mungkin berukuran mini, mirip kadal kecil modern.
Menariknya, lapisan batu pasir tempat jejak ditemukan juga mengandung fosil jejak artropoda raksasa — kaki seribu purba dan kalajengking laut — yang menunjukkan bahwa komunitas daratan sudah cukup mapan. Jadi, reptil tidak muncul di lingkungan yang kosong; mereka berevolusi sebagai bagian dari jaring makanan yang sudah kompleks, mungkin berperan sebagai pemakan serangga kecil atau pemangsa invertebrata. Penemuan ini membuka kemungkinan bahwa amniota purba lain, seperti sinapsida (garis keturunan yang kelak menurunkan mamalia), mungkin juga lebih tua dari perkiraan saat ini.
Respons Komunitas Ilmiah dan Langkah Selanjutnya
Meskipun makalah lengkap belum dipublikasikan di jurnal ilmiah ternama, data awal yang dipresentasikan dalam konferensi internasional paleontologi menuai reaksi campur aduk: antusiasme yang bercampur kehati-hatian. Sebagian peneliti menekankan perlunya verifikasi lebih lanjut dengan menemukan fosil tubuh — bukan hanya jejak kaki — di lapisan usia yang sama. "Ichnofossil (fosil jejak) memang sering menjadi petunjuk awal, tetapi butuh tulang atau gigi untuk menegaskan identitas hewan sebenarnya," tulis seorang paleontolog dalam kolom sains. Namun, para pendukung berpendapat bahwa morfologi lima jari yang simetris sangat khas dan sulit dijelaskan oleh hewan non-amniota seperti amfibi primitif yang hidup pada masa yang sama.
Tim penemu sendiri kini merencanakan ekspedisi lanjutan ke Formasi Snowy Plains dengan harapan menemukan fosil tulang yang terkubur di lapisan lebih dalam. Sembari menunggu bukti lebih kokoh, penemuan ini sudah cukup mengubah peta pelajaran evolusi di banyak universitas. Buku teks sejarah Bumi harus merevisi kalimat pembuka bab tentang reptil: dari yang semula bertulis "muncul sekitar 320 juta tahun lalu" menjadi "setidaknya 355 juta tahun lalu, dan mungkin lebih". Satu hal yang pasti: Australia kini naik menjadi episentrum studi amniota awal, dan setiap batu pasir di Snowy Plains bisa jadi menyimpan kunci periode krusial yang masih gelap dalam catatan fosil.
Comments (0)