Sep 18, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Jakarta — Wamenkop Farida Dorong Koperasi Pesantren Jadi Raksasa Ekonomi

Di balik tembok-tembok pesantren yang tenang dan gema lantunan kitab suci, ada roda ekonomi lokal yang diam-diam berputar pesat. Lembaga pendidikan Islam t

Jakarta — Wamenkop Farida Dorong Koperasi Pesantren Jadi Raksasa Ekonomi

Di balik tembok-tembok pesantren yang tenang dan gema lantunan kitab suci, ada roda ekonomi lokal yang diam-diam berputar pesat. Lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia kini tidak lagi sekadar menjadi benteng pertahanan moral dan keagamaan, melainkan mulai bertransformasi menjadi pusat kekuatan ekonomi kerakyatan. Potensi raksasa inilah yang ditegaskan kembali oleh Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah, yang menilai bahwa jaringan pesantren memiliki kapasitas besar untuk memperkuat fondasi perekonomian bangsa.

Menurut Farida, kemandirian ekonomi yang diusung oleh pondok pesantren melalui wadah koperasi pesantren (Kopontren) merupakan langkah strategis yang belum sepenuhnya tergarap secara maksimal. Ekosistem ini memiliki daya tahan alami karena didukung oleh basis massa yang loyal dan mandiri.

"Pesantren memiliki ekosistem yang sangat lengkap dan solid. Ada kiai, santri, wali santri, hingga masyarakat sekitarnya. Jika potensi unit usaha di dalamnya dikelola secara profesional melalui wadah koperasi, dampaknya akan sangat masif bagi pemerataan ekonomi nasional,"

ujar Farida Farichah saat menekankan pentingnya revitalisasi koperasi berbasis keagamaan di Jakarta.

Mengurai Potensi Raksasa Ekosistem Pesantren

Data Kementerian Agama menunjukkan terdapat lebih dari 39.000 pondok pesantren yang terdaftar di seluruh Indonesia, dengan total santri aktif diperkirakan mencapai 4,8 juta jiwa. Angka tersebut belum memperhitungkan jutaan alumni serta jaringan wali santri yang terkoneksi secara emosional dan sosial. Komunitas yang masif ini menciptakan pasar tertutup (captive market) yang sangat potensial bagi pengembangan produk-produk lokal, mulai dari kebutuhan pokok, pakaian, hingga jasa keuangan syariah.

Namun, dalam kacamata analisis ekonomi kawasan, potensi besar ini kerap kali berhenti di level pemenuhan kebutuhan internal semata. Banyak Kopontren berjalan secara konvensional tanpa adanya integrasi rantai pasok (supply chain) yang terhubung dengan industri nasional. Padahal, jika dikelola secara modern, ekonomi berbasis santri sanggup memotong rantai distribusi barang yang panjang serta menekan laju inflasi daerah.

Tantangan Tata Kelola dan Kebutuhan Modernisasi

Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa percepatan skala bisnis Kopontren masih terganjal sejumlah hambatan struktural. Masalah utama yang sering dihadapi adalah keterbatasan manajerial SDM yang terampil dalam tata kelola keuangan modern serta rendahnya adopsi teknologi digital dalam transaksi harian.

Untuk memahami peta transformasi yang dibutuhkan, berikut adalah perbandingan antara model Kopontren konvensional dengan target Kopontren modern yang sedang didorong pemerintah:

Indikator Kopontren Konvensional Target Kopontren Modern
Manajemen Manual dan berbasis kepercayaan internal Terintegrasi aplikasi akuntansi & profesional
Jangkauan Pasar Terbatas untuk santri di dalam komplek Masyarakat umum & rantai pasok digital/e-commerce
Akses Pembiayaan Kas internal pesantren / swadaya LPDB-KUMKM & Perbankan Syariah Nasional

Langkah Strategis Intervensi Pemerintah

Menanggapi tantangan tersebut, Kementerian Koperasi menyiapkan skema pendampingan intensif yang mencakup pelatihan manajemen bisnis, standardisasi dan sertifikasi produk halal, hingga kemudahan akses pembiayaan murah melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB-KUMKM). Penataan ulang legalitas dan struktur tata kelola menjadi fokus utama agar Kopontren mampu naik kelas dari sekadar unit usaha kecil menjadi korporasi rakyat yang kompetitif.

Kebijakan dorongan ini diharapkan tidak berhenti sebagai wacana seremoni belaka. Pembuktian di lapangan akan sangat bergantung pada komitmen pendampingan berkelanjutan dan keterbukaan pihak manajemen pesantren untuk menerima modernisasi. Jika sinergi ini berjalan mulus, koperasi pesantren bukan lagi sekadar pilar ekonomi pendukung, melainkan ujung tombak baru dalam mewujudkan kemandirian ekonomi nasional. Sebab pada akhirnya, kemandirian santri adalah pondasi utama kemandirian ekonomi bangsa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User