Jakarta, Lurusin.com – Peta persaingan industri kendaraan listrik di Indonesia kembali memanas. Kali ini, kritik tajam datang dari pabrikan otomotif asal India, TVS Motor Company. Perusahaan yang telah lama bercokol di pasar roda dua nasional itu menyentil fenomena maraknya merek-merek sepeda motor listrik "gaib" yang dinilai tidak serius dalam menggarap bisnis elektrifikasi di Tanah Air.

Fenomena Merek "Hari Ini Ada, Bulan Depan Hilang" Di tengah gencarnya transisi energi menuju kendaraan tanpa emisi, pasar Indonesia dibanjiri oleh berbagai

Jul 08, 2026 - 00:39
0 0
Jakarta, Lurusin.com  – Peta persaingan industri kendaraan listrik di Indonesia kembali memanas. Kali ini, kritik tajam datang dari pabrikan otomotif asal India, TVS Motor Company. Perusahaan yang telah lama bercokol di pasar roda dua nasional itu menyentil fenomena maraknya merek-merek sepeda motor listrik "gaib" yang dinilai tidak serius dalam menggarap bisnis elektrifikasi di Tanah Air.

Fenomena Merek "Hari Ini Ada, Bulan Depan Hilang"

Di tengah gencarnya transisi energi menuju kendaraan tanpa emisi, pasar Indonesia dibanjiri oleh berbagai pemain baru. Namun, tidak semua memiliki fondasi kokoh. Product Marketing Lead PT TVS Motor Company Indonesia, Ryan Rahadian, melontarkan kekhawatirannya terhadap praktik bisnis yang terkesan main-main. Menurutnya, industri motor listrik bukan sekadar tren sesaat yang bisa digarap secara instan.

"Sekarang ini banyak pabrikan motor listrik di Indonesia yang bisa dibilang gaib. Hari ini mereknya ada, bulan depan tiba-tiba sudah menghilang. Ini kan mempermainkan industri dan konsumen," tegas Ryan dalam diskusi bersama media belum lama ini.

Pernyataan ini merujuk pada realita pasar di mana sejumlah merek motor listrik muncul dengan penawaran harga miring dan klaim menggiurkan, namun gagal mempertahankan eksistensi bisnis jangka panjang. Banyak di antaranya hanya sekadar mengganti stiker dan plastik bodi, tanpa adanya dukungan purna jual yang jelas. Ketika rantai pasok dan layanan purna jual tidak terpenuhi, konsumenlah yang akhirnya menjadi korban.

Kompetisi Tak Bisa Cuma Modal Perakitan

Ryan menjelaskan, kompleksitas industri kendaraan listrik jauh berbeda dengan kendaraan konvensional berbasis BBM. Kesan bahwa siapa pun bisa "membuat" motor listrik hanya dengan merakit komponen dari China tanpa investasi pada riset, layanan servis, dan keamanan baterai disebutnya sebagai langkah yang sangat spekulatif.

"Kami di TVS melihat transisi ini sebagai lari maraton, bukan sprint. Semua pemain baru yang tiba-tiba mundur dari pasar ini justru mencemari ekosistem. Orang jadi trauma, ragu, dan balik lagi memilih motor bensin karena takut," imbuhnya.

Strategi TVS Hadapi Gempuran Merek China dan Jepang

Sebagai pemain global, TVS menyadari bahwa bersaing di pasar Indonesia tidaklah mudah. Dominasi merek Jepang yang telah mengakar kuat serta serbuan agresif dari pabrikan China membuat peta persaingan semakin ketat. Meski demikian, TVS mengklaim memiliki resep khusus untuk bertahan, yakni fokus pada keandalan produk dan jaringan purnajual yang luas.

Tim redaksi Lurusin.com mencatat bahwa salah satu kunci ketahanan TVS adalah penyesuaian produk yang disesuaikan dengan postur tubuh dan kebutuhan orang Indonesia, serta pengalaman teknis yang matang dari India. Langkah ini menjadi pembeda signifikan dibandingkan merek-merek "gaib" yang hanya mengandalkan impor unit utuh tanpa pengujian mendalam terhadap kondisi jalan dan kebiasaan pengendara di Indonesia.

Kacaunya Regulasi Subsidi dan Kepercayaan Publik

Fenomena merek menghilang ini juga diperparah oleh gonjang-ganjing regulasi subsidi motor listrik yang kerap berubah-ubah. Banyak pemain kecil hanya mendaftarkan diri untuk mengejar kuota subsidi pemerintah, tanpa perencanaan bisnis berkelanjutan. Begitu insentif pupus atau syarat administrasi diperketat, mereka langsung gulung tikar. Ryan menekankan bahwa kepercayaan publik adalah fondasi utama untuk membesarkan industri kendaraan listrik di Tanah Air.

Pengamat otomotif yang dihubungi kontributor Lurusin.com menambahkan, diperlukan lebih banyak pemain "darah daging" yang benar-benar berkomitmen melakukan transfer teknologi dan tidak hanya menjadi pedagang. TVS sendiri saat ini terus mengembangkan lini produk listriknya di Indonesia dengan pendekatan yang lebih konservatif namun terukur, memastikan setiap model yang dilepas ke jalan raya sudah melalui uji pakai ketat dan didukung ketersediaan suku cadang yang terjamin.

Pesan yang disampaikan TVS ini menjadi cermin bagi konsumen agar lebih cermat dalam memilih. Jangan mudah tergoda harga murah tanpa melihat rekam jejak dan komitmen pabrikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User