Sep 15, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

JAKARTA — LDII Dorong Masjid Jadi Bank Air Hadapi Kemarau

Tanah pecah-pecah memanjang hingga ke ufuk barat, sementara sumur-sumur warga di berbagai daerah mulai mengeluarkan lumpur tebal alih-alih air jernih. Feno

JAKARTA — LDII Dorong Masjid Jadi Bank Air Hadapi Kemarau

Tanah pecah-pecah memanjang hingga ke ufuk barat, sementara sumur-sumur warga di berbagai daerah mulai mengeluarkan lumpur tebal alih-alih air jernih. Fenomena kemarau panjang yang kembali melanda berbagai wilayah di Indonesia bukan lagi sekadar siklus musim tahunan yang rutin, melainkan ancaman nyata terhadap ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah himpitan krisis ekologis yang makin mengkhawatirkan ini, sebuah gagasan transformatif muncul dari akar rumput keagamaan: mengoptimalkan fungsi tempat ibadah sebagai benteng pertahanan lingkungan melalui konsep "Bank Air".

Ancaman Nyata Kemarau Panjang dan Derita Akar Rumput

Dampak musim kering yang berkepanjangan kini mulai menggerogoti stabilitas kehidupan masyarakat bawah. Sektor pertanian menjadi korban pertama yang paling terdampak, di mana ribuan hektar lahan sawah terancam gagal panen akibat pasokan irigasi yang mendadak terhenti. Tak berhenti di situ, kawasan pemukiman padat penduduk kini terpaksa bergantung pada distribusi tangki air darurat yang jumlahnya terhitung sangat terbatas.

Data lapangan menunjukkan bahwa ketersediaan cadangan air bersih merosot hingga 40 persen di sejumlah kawasan rawan kekeringan. Kondisi ekstrem ini menuntut adanya intervensi taktis dan berkelanjutan yang dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat tanpa harus mengandalkan bantuan eksternal sepenuhnya.

Konsep 'Bank Air' Berbasis Masjid

Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) menyikapi fenomena ini dengan menginstruksikan seluruh jajarannya untuk memelopori gerakan pemanenan air hujan (rainwater harvesting) di lingkungan masjid. Masjid, yang umumnya memiliki bentang atap luas serta pekarangan yang memadai, dinilai memiliki potensi infrastruktur ekologis yang amat besar. Melalui skema ini, air hujan tidak lagi dibiarkan melimpah sia-sia ke saluran pembuangan akhir, melainkan ditampung, disaring, dan diresapkan secara terukur ke dalam perut bumi.

Berikut adalah penataan komparatif antara pengelolaan air konvensional dengan sistem Bank Air Berbasis Masjid:

Indikator Pengelolaan Metode Konvensional Metode Bank Air Masjid
Pemanfaatan Air Hujan Dibuang langsung ke drainase Ditampung & diresapkan ke dalam tanah
Cadangan Musim Kemarau Sangat minim / mengandalkan sumur dalam Tersedia dalam tangki penampungan & akuifer
Resiko Risiko Kekeringan Sangat tinggi bagi warga sekitar Tergulirkan oleh pasokan air cadangan masjid

"Masjid tidak boleh hanya menjadi pusat ibadah ritual semata, melainkan harus hadir sebagai pusat solusi ekologis bagi masyarakat sekitar. Dengan memanfaatkan luas atap masjid untuk memanen air hujan serta membuat lubang resapan biopori di pekarangan, kita sedang membangun 'bank air' mandiri yang bisa menyelamatkan warga saat kemarau ekstrem tiba," ujar pihak kepengurusan DPP LDII dalam keterangannya.

Resapan Biopori dan Implikasi Ekologis Jangka Panjang

Secara teknis, implementasi program ini melibatkan pembuatan sumur resapan berkapasitas besar serta penanaman ribuan lubang biopori di sekeliling kompleks masjid. Pendekatan terpadu ini tidak hanya menjaga elevasi muka air tanah di musim kering, tetapi juga terbukti ampuh meredam banjir bandang saat musim hujan tiba.

Dalam skala mikro, masjid yang konsisten menerapkan sistem ini terbukti mampu menyuplai kebutuhan air bersih untuk puluhan hingga ratusan kepala keluarga di sekitarnya sewaktu sumur-sumur pribadi milik warga mengering total. Selain pemenuhan kebutuhan domestik dan sanitasi harian, keberadaan cadangan air di kompleks masjid juga difungsikan sebagai titik pasokan air darurat untuk memadamkan percikan api awal apabila terjadi kebakaran pemukiman maupun lahan di area sekitar.

Langkah preventif ini dinilai sangat efektif menurunkan risiko penyebaran api secara signifikan di daerah-daerah yang tergolong rawan bencana karhutla. Perubahan iklim global menuntut respons yang cepat, terukur, dan adaptif dari seluruh elemen bangsa. Penguatan ketahanan air berbasis komunitas tempat ibadah ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai keagamaan dapat diintegrasikan secara konkret dengan aksi penyelematan lingkungan hidup. Jika gagasan bank air ini mampu direplikasi oleh puluhan ribu masjid di seluruh Nusantara, Indonesia akan memiliki jaring pengaman ekologis berbasis masyarakat yang sangat kokoh dalam menghadapi tantangan iklim masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User