Sep 17, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Jakarta — Fi Asia 2026 Dorong Inovasi Bahan Pangan Nasional

Hiruk-pikuk lorong pameran di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, menjadi saksi bisu pergeseran peta industri pangan kawasan Asia Tengg

Jakarta — Fi Asia 2026 Dorong Inovasi Bahan Pangan Nasional

Hiruk-pikuk lorong pameran di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, menjadi saksi bisu pergeseran peta industri pangan kawasan Asia Tenggara. Gelaran Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026 bukan sekadar pameran dagang biasa, melainkan panggung krusial yang menyingkap dinamika rantai pasok bahan baku makanan dan minuman (F&B) global. Di tengah ancaman disrupsi iklim dan ketidakpastian ekonomi global, ribuan inovator, produsen, dan ilmuwan pangan berkumpul untuk merumuskan formulasi masa depan industri F&B.

Pasar bahan baku pangan di kawasan Asia Pasifik terus menunjukkan lonjakan signifikan seiring tingginya permintaan konsumen terhadap produk yang sehat dan aman. Indonesia, sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara, berada di posisi yang sangat strategis. Namun, di balik potensi pasar yang masif, industri nasional masih dibayangi tantangan ketergantungan pada bahan baku kimia impor. Gelaran Fi Asia 2026 di Kemayoran ini menjadi ajang pembuktian apakah potensi bahan alam Nusantara mampu mensubstitusi ketergantungan tersebut.

Transformasi Bahan Baku: Dari Komoditas Mentah Menjadi Nilai Tambah

Mengubah komoditas pertanian mentah menjadi bahan baku pangan fungsional memerlukan investasi riset yang serius. Selama ini, Indonesia lebih banyak mengekspor hasil alam seperti rumput laut dan singkong dalam bentuk mentah dengan nilai ekonomi yang amat rendah, untuk kemudian diimpor kembali dalam bentuk produk turunan berharga mahal.

Jenis Komoditas Bentuk Pengolahan Nilai Tambah Industri Potensi Pasar Global
Rumput Laut / Singkong Bahan Mentah (Unprocessed) Rendah Terbatas / Komoditas Murah
Hidrokoloid / Pati Termodifikasi Bahan Pangan Olahan (Ingredients) Tinggi (3x hingga 5x Lipat) Sangat Tinggi (Skala Industri)

Kehadiran berbagai perusahan teknologi pangan dalam Fi Asia 2026 mulai menunjukkan arah perubahan. Banyak inovator lokal yang memamerkan hasil ekstraksi bahan alami Nusantara yang diproses dengan teknologi modern untuk memenuhi standar manufaktur global.

"Kita tidak bisa terus-menerus menjadi sekadar pasar bagi produk bahan baku impor. Fi Asia 2026 membuktikan bahwa formulasi bahan baku berbasis kekayaan alam lokal memiliki daya saing tinggi, asal didukung oleh riset presisi dan teknologi pemrosesan yang tepat," ujar Dr. Aris Setiawan, pakar teknologi pangan dari Lembaga Riset Bahan Alam.

Tren Pangan Fungsional dan Standar Halal Global

Perubahan preferensi konsumen pasca-pandemi mendorong melonjaknya permintaan terhadap pangan fungsional—makanan yang tidak sekadar mengenyangkan, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan tertentu. Di arena pameran JIExpo Kemayoran, bahan baku seperti pemanis alami rendah kalori, serat pangan terlarut, hingga pewarna alami berbahan dasar mikronutrien menjadi fokus utama riset industri.

Di samping isu kesehatan, penerapan regulasi jaminan produk halal menjadi aspek pembentuk peta persaingan baru. Produk bahan baku pangan impor dari kawasan Eropa dan Amerika Utara yang dipamerkan di Fi Asia 2026 wajib menyesuaikan standar audit sertifikasi halal yang ditetapkan pemerintah Indonesia agar mampu diserap oleh industri F&B domestik maupun regional.

"Sertifikasi halal kini bukan lagi sekadar pemenuhan regulasi lokal di Indonesia, melainkan telah menjadi benchmark kualitas, kebersihan, dan transparansi bahan baku di tingkat internasional," tegas Nurul Huda, konsultan regulasi pangan internasional di sela-sela kegiatan pameran.

Tantangan Standarisasi dan Akses Pelaku Usaha Domestik

Kendati gelaran ini mempertemukan para pemain raksasa multinasional, tantangan nyata tetap berada pada level eksekusi di dalam negeri. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pengolahan pangan masih kerap kesulitan mengakses bahan baku berstandar industri karena kendala harga dan kuota pembelian minimum.

Kehadiran pameran bertaraf internasional seperti Fi Asia 2026 di JIExpo Kemayoran Jakarta harus dimaknai sebagai momentum transformasi nasional. Tanpa sinergi yang kuat antara kebijakan regulasi pemerintah, integrasi riset perguruan tinggi, dan komitmen investasi industri swasta, Indonesia berisiko hanya menjadi penonton di tengah melimpahnya kekayaan bahan baku pangan Nusantara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User