Sep 10, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

JAKARTA — Darurat Literasi Membayangi Penguasaan Tata Bahasa Siswa Indonesia

Di balik deretan buku teks yang terpajang di perpustakaan sekolah, sebuah persoalan sistemik sedang menggerogoti kualitas pendidikan nasional. Di salah sat

JAKARTA — Darurat Literasi Membayangi Penguasaan Tata Bahasa Siswa Indonesia

Di balik deretan buku teks yang terpajang di perpustakaan sekolah, sebuah persoalan sistemik sedang menggerogoti kualitas pendidikan nasional. Di salah satu ruang kelas di Jakarta Pusat, sejumlah siswa tampak mengernyitkan dahi saat diminta mengidentifikasi struktur kalimat dalam paragraf bacaan sederhana. Fenomena ini bukan sekadar masalah ketidakmampuan mengeja kata demi kata, melainkan kegagalan mendasar dalam memahami fungsi tata bahasa, khususnya penggunaan kata kerja pasif yang menjadi fondasi utama penyampaian informasi formal, ilmiah, dan jurnalistik.

Penelusuran mendalam tim riset Lurusin.com menunjukkan bahwa krisis literasi di tanah air telah memasuki tahap yang mengkhawatirkan. Budaya membaca yang minim tidak hanya berdampak pada terbatasnya penguasaan kosakata, tetapi juga merusak kemampuan siswa dalam mencerna logika bahasa. Ketika dihadapkan pada wacana kritis, banyak peserta didik kesulitan menentukan fokus informasi akibat gagal memahami perubahan bentuk kata kerja aktif menjadi pasif.

Krisis Pemahaman di Balik Lembar Buku Teks

Berdasarkan laporan Programme for International Student Assessment (PISA) periode terbaru, Indonesia masih tertahan di papan bawah peringkat global. Data menunjukkan bahwa lebih dari 70% siswa berusia 15 tahun di Indonesia belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam literasi membaca. Angka ini menegaskan realitas pahit: anak-anak mampu melafalkan teks secara verbal, tetapi gagal menangkap makna tersirat maupun tersurat di dalamnya.

"Kami menemukan bahwa kegagalan memahami struktur kalimat, khususnya kalimat pasif yang kerap digunakan dalam teks akademik, menjadi benteng utama yang menghalangi siswa dari pemahaman kritis. Saat kata kerja pasif disalahartikan, logika kronologis dalam wacana otomatis runtuh," ujar Dr. Ratna Susanti, pakar linguistik edukasi dari Universitas Negeri Jakarta.

Anatomi Tata Bahasa: Mengapa Kata Kerja Pasif Menjadi Kerikil Penguji

Dalam tata bahasa Indonesia, kata kerja pasif yang ditandai dengan prefiks di-, ter-, atau bentuk persona memainkan peran vital untuk mengalihkan fokus wacana dari pelaku ke penerima tindakan. Pada penulisan hukum, laporan ilmiah, dan berita investigatif, struktur ini digunakan demi menjaga objektivitas. Namun, bagi generasi muda yang terbiasa mengonsumsi informasi serba cepat dan singkat di media sosial, kalimat pasif bercabang sering dianggap membingungkan.

Bentuk Kalimat Contoh Struktur Wacana Tingkat Pemahaman Siswa (%)
Kalimat Aktif Transitif "Pemerintah menerbitkan kebijakan baru." 82%
Kalimat Pasif Prefiks Di- "Kebijakan baru diterbitkan oleh pemerintah." 54%
Kalimat Pasif Persona "Buku ini telah kami pelajari bersama." 39%

Data dari simulasi tes pemahaman wacana di atas memperlihatkan bahwa kemampuan siswa merosot drastis ketika berhadapan dengan struktur pasif persona. Ketidakmampuan ini membuat siswa kerap keliru menafsirkan subjek penanggung jawab dalam suatu peristiwa atau dokumen resmi.

Reformasi Kurikulum dan Tantangan Literasi Kritis

Permasalahan ini makin diperparah oleh metode pengajaran bahasa di sekolah yang cenderung mengandalkan hafalan rumus ketimbang analisis kontekstual. Siswa dituntut menghafal aturan imbuhan tanpa pernah dilatih memahami alasan komunikatif di balik pemilihan kata kerja tertentu dalam teks.

"Pendidikan bahasa harus dikembalikan pada hakikatnya sebagai alat berpikir kritis. Mengajarkan kata kerja pasif bukan soal menghafal awalan di-, melainkan melatih kepekaan logika berpikir anak-anak kita," tegas Ahmad Fauzi, pengamat pendidikan dasar.

Tanpa adanya perbaikan menyeluruh terhadap metode pengajaran tata bahasa dan upaya masif meningkatkan minat baca buku berkualitas, generasi mendatang berisiko tumbuh menjadi konsumen informasi yang rentan terhadap manipulasi. Membaca buku bukan sekadar aktivitas mekanis, melainkan proses merangkai penalaran utuh dari setiap kata kerja dan struktur kalimat yang ada di dalamnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User