Inggris Ikuti Larangan Ponsel Anak, Orang Tua Mulai Protes

LONDON — Kebijakan pembatasan penggunaan ponsel pintar bagi anak-anak yang diterapkan Indonesia mulai menjadi rujukan internasional. Terbaru, Inggris secar

Jul 18, 2026 - 06:53
0 0
Inggris Ikuti Larangan Ponsel Anak, Orang Tua Mulai Protes

LONDON — Kebijakan pembatasan penggunaan ponsel pintar bagi anak-anak yang diterapkan Indonesia mulai menjadi rujukan internasional. Terbaru, Inggris secara resmi mengumumkan aturan serupa, dan dalam hitungan minggu, dampak kebijakan ini sudah mulai terasa di kalangan masyarakat, terutama orang tua dan pihak sekolah.

Langkah Inggris ini diambil setelah berbagai studi menunjukkan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan mental, perkembangan sosial, dan kualitas akademik anak-anak yang terlalu sering mengakses perangkat digital. Sebelumnya, Indonesia resmi melarang penggunaan ponsel bagi anak-anak di bawah usia tertentu, sebuah kebijakan yang menuai pro dan kontra namun dianggap berhasil menekan angka kecanduan gadget di kalangan pelajar.

Latar Belakang Kebijakan Inggris

Pemerintah Inggris melalui Department for Education mengeluarkan pedoman baru yang meminta sekolah-sekolah untuk membatasi secara ketat penggunaan ponsel pintar di lingkungan pendidikan. Aturan ini tidak hanya berlaku di sekolah, tetapi juga mencakup rekomendasi bagi orang tua untuk mengawasi penggunaan gadget di rumah.

Menurut data yang dihimpun oleh otoritas pendidikan Inggris, rata-rata anak berusia 10 hingga 15 tahun menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari di depan layar gadget. Angka ini meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir dan memicu kekhawatiran berbagai pihak, mulai dari psikolog anak hingga organisasi kesehatan masyarakat.

"Kami tidak melarang teknologi, tetapi kami ingin memastikan anak-anak memiliki waktu yang cukup untuk berinteraksi sosial, bermain di luar ruangan, dan mengembangkan kreativitas tanpa gangguan layar," ujar seorang pejabat Departemen Pendidikan Inggris dalam konferensi pers, Senin (30/3).

Dampak yang Mulai Dirasakan Warga

Sejak aturan ini diterapkan, sejumlah dampak langsung sudah mulai terasa. Berikut kronologi kejadian yang dilaporkan:

  1. Minggu pertama: Sekolah-sekolah di London dan Manchester mulai mengumumkan kebijakan larangan membawa ponsel ke area sekolah.
  2. Minggu kedua: Asosiasi orang tua siswa (PTA) mulai melayangkan surat keberatan kepada beberapa sekolah yang dianggap terlalu ketat dalam penerapannya.
  3. Minggu ketiga: Sejumlah toko retail melaporkan penurunan penjualan ponsel pintar untuk segmen anak-anak hingga 18 persen.
  4. Minggu keempat: Komunitas parenting di media sosial ramai membahas alternatif aktivitas untuk anak-anak di rumah sebagai pengganti waktu layar.

Pro dan Kontra di Kalangan Masyarakat

Kebijakan ini memunculkan perdebatan sengit di masyarakat Inggris. Pihak yang mendukung berargumen bahwa pembatasan ponsel dapat meningkatkan kualitas tidur anak, mengurangi risiko cyberbullying, serta memperbaiki konsentrasi belajar. Di sisi lain, kelompok yang menentang menilai aturan ini terlalu intervensionis dan dianggap membatasi kebebasan orang tua dalam mendidik anak.

Seorang ibu rumah tangga di kawasan Camden, London, mengaku mengalami kesulitan menerapkan aturan baru ini di rumah. "Anak saya sudah terbiasa bermain game online dengan teman-temannya. Sekarang saya harus memikirkan aktivitas pengganti yang bisa membuatnya tetap aktif," ungkapnya kepada media lokal.

Sementara itu, seorang kepala sekolah di Birmingham menyambut baik kebijakan tersebut. "Kami sudah lama berharap ada regulasi yang jelas. Sebelumnya, hampir setiap hari kami harus menangani siswa yang kecanduan bermain game saat jam istirahat," katanya.

Pelajaran dari Indonesia

Indonesia menjadi salah satu negara pertama di Asia Tenggara yang secara tegas mengeluarkan regulasi pembatasan ponsel anak. Berdasarkan pengalaman Indonesia, negara-negara lain kini menjadikan kebijakan tersebut sebagai studi kasus.

Laporan dari Kementerian Pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa dalam dua tahun terakhir, indeks kesejahteraan psikologis pelajar mengalami peningkatan setelah kebijakan diterapkan. Angka kunjungan ke konselor sekolah terkait kecanduan gadget juga turun hingga 35 persen.

"Indonesia membuktikan bahwa regulasi yang tegas namun edukatif dapat memberikan dampak positif. Inggris berusaha mengadopsi pendekatan serupa dengan penyesuaian terhadap karakteristik masyarakatnya," ujar analis kebijakan pendidikan internasional dari University of Oxford.

Reaksi Industri Teknologi

Industri teknologi Inggris merespons kebijakan ini dengan beragam. Beberapa produsen ponsel pintar mulai mengembangkan fitur khusus parental control yang lebih ketat, sementara sebagian lainnya menilai kebijakan ini akan menekan penjualan di segmen anak-anak.

Asosiasi industri telekomunikasi Inggris menyatakan bahwa mereka akan bekerja sama dengan pemerintah untuk memastikan transisi yang mulus. "Kami mendukung upaya melindungi anak-anak, namun kami juga berharap ada dialog terbuka agar industri tidak terdampak secara berlebihan," ujar juru bicara asosiasi tersebut.

Prospek ke Depan

Dengan semakin banyak negara yang mempertimbangkan pembatasan serupa, fenomena ini diprediksi akan menjadi tren global dalam kebijakan perlindungan anak. Australia, Kanada, dan beberapa negara Eropa lainnya dikabarkan sedang menyusun regulasi dengan spirit yang sama.

Pengamat kebijakan internasional menilai bahwa langkah Inggris ini menandai perubahan paradigma dalam memandang hubungan anak-anak dengan teknologi. "Kita sedang menyaksikan pergeseran dari pendekatan permisif menuju pendekatan protektif yang lebih terstruktur," tutupnya.

[SOCIAL_TWEET]: Inggris resmi terapkan aturan pembatasan ponsel anak mirip Indonesia. Orang tua sudah mulai merasakan dampaknya, mulai dari protes hingga perubahan pola konsumsi gadget. Bagaimana dengan Indonesia? #Inggris #KebijakanAnak #PonselAnak[SOCIAL_TG]: 🇬🇧 Inggris tiru aturan Indonesia soal ponsel anak 📱 Efeknya langsung terasa di sekolah & rumah. Orang tua mulai protes! 👀

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User