IHSG Koreksi Pagi Ini, Kurs Rupiah Tembus Rp18.050 per Dolar AS

Pasar keuangan Tanah Air mengawali perdagangan dengan nada pesimistis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung merosot sejak menit pertama pembukaan, sementara nilai tukar rupiah melemah dan menet...

Jul 13, 2026 - 07:37
0 0
IHSG Koreksi Pagi Ini, Kurs Rupiah Tembus Rp18.050 per Dolar AS

Pasar keuangan Tanah Air mengawali perdagangan dengan nada pesimistis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung merosot sejak menit pertama pembukaan, sementara nilai tukar rupiah melemah dan menetap di atas level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Data yang dihimpun dari lantai bursa menunjukkan tekanan jual yang cukup tinggi, seiring dengan sentimen global yang kembali tidak bersahabat terhadap aset berdenominasi rupiah.

Sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG terpantau berada di posisi 7.089,45 atau ambles 58,4 poin setara dengan koreksi sebesar 0,82 persen dari penutupan sebelumnya di level 7.147,85. Penurunan itu terjadi dalam volume transaksi yang lumayan tinggi, mencapai 3,2 miliar lembar saham dengan nilai Rp4,1 triliun. Pelaku pasar asing tampak memimpin aksi lepas dengan mencatat jual bersih hingga Rp340 miliar di seluruh papan perdagangan.

IHSG Tertekan Aksi Jual Asing dan Pelemahan Sektoral

Mayoritas sektor mengalami kontraksi. Indeks sektor keuangan menjadi pemberat utama setelah saham perbankan besar seperti BBRI dan BBCA terkoreksi masing-masing 1,2 persen dan 0,9 persen. Sektor energi juga mencatat penurunan paling dalam, hingga 1,5 persen, dipicu oleh turunnya harga batubara acuan global. Saham ADRO dan PTBA terpantau turun antara 2 hingga 3 persen. Hanya sektor pertanian yang tetap bertahan di zona hijau, ditopang oleh ekspektasi kenaikan produksi CPO.

Indeks LQ45 yang menghimpun saham paling likuid pun ikut merosot 0,76 persen ke level 982. Beberapa saham unggulan seperti TLKM dan ASII juga tidak mampu menahan laju penurunan. Analis pasar menyebutkan bahwa koreksi ini merupakan kelanjutan dari pemburukan sentimen setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis semalam menunjukkan angka lebih kuat dari perkiraan. Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, akan menunda pemangkasan suku bunga lebih lama dari yang diantisipasi pasar.

Rupiah Menyentuh Level Psikologis Baru

Sementara itu, di pasar valuta asing, rupiah dibuka pada posisi Rp18.045 per dolar AS, atau melemah 65 poin dari penutupan kemarin di Rp17.980. Tidak butuh waktu lama, kurs spot langsung bergerak di rentang sempit namun cenderung melemah. Hingga pukul 10.30 WIB, rupiah tercatat di level Rp18.055 per dolar AS, dengan bid dan spread masing-masing Rp18.050 dan Rp18.060. Sempat menyentuh titik tertinggi harian di Rp18.080, sebelum akhirnya sedikit mereda.

Bank Indonesia melalui kurs referensi JISDOR menetapkan nilai tukar rupiah hari ini di angka Rp18.050 per dolar AS, naik tajam dari Rp17.980 pada hari sebelumnya. Dealer valas mengonfirmasi bahwa permintaan dolar dari korporasi untuk pembayaran impor dan repatriasi dividen menjelang akhir kuartal masih sangat dominan. Di sisi lain, investor masih menahan diri menambah eksposur aset rupiah karena ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

Sentimen Global dan Domestik Jadi Pemicu

Penguatan indeks dolar AS (DXY) menjadi biang keladi utama pelemahan rupiah. DXY terpantau naik ke level 104,50, setelah sempat menyentuh 104,60, seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun yang kembali naik di atas 4,6 persen. Data ketenagakerjaan AS yang solid serta risalah pertemuan The Fed yang hawkish memperkuat narasi 'higher for longer', membuat dana asing kembali mengalir ke aset safe haven dan meninggalkan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati rilis data inflasi pekan depan yang diramal masih akan bertahan di atas 3 persen secara tahunan. Faktor itu menimbulkan kekhawatiran bahwa Bank Indonesia akan menahan suku bunga acuan pada level 6 persen lebih lama, atau bahkan tidak menutup kemungkinan melakukan pengetatan jika rupiah semakin tertekan. Ditambah, pelemahan harga komoditas andalan ekspor seperti batubara dan minyak sawit juga menggerus potensi penerimaan devisa.

Prospek Pasar dan Rekomendasi Analis

Sejumlah analis teknikal memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan jika tidak mampu bertahan di atas level support kunci 7.050. Apabila level itu ditembus, indeks dapat menguji 7.000 secara psikologis. Untuk sesi siang nanti, resistensi berada di 7.150. Pelaku pasar disarankan untuk melakukan strategi wait and see, terutama bagi investor jangka pendek, sambil memantau rilis data indeks manufaktur domestik dan cadangan devisa yang akan diumumkan akhir pekan ini.

Adapun untuk pergerakan rupiah, potensi pelemahan masih terbuka. Jika DXY menembus 105, maka kurs rupiah bisa mengarah ke Rp18.100 per dolar AS. Otoritas moneter diprediksi akan tetap aktif melakukan intervensi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan operasi pasar terbuka untuk meredam volatilitas. Seorang ekonom dari lembaga riset swasta menyarankan agar dunia usaha mulai melakukan lindung nilai untuk kebutuhan dolar dalam tiga hingga enam bulan mendatang, mengingat tren penguatan dolar belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan.

Secara keseluruhan, perdagangan pagi ini mencerminkan rapuhnya fondasi pasar keuangan Indonesia di tengah gempuran sentimen eksternal. Investor diharapkan tetap tenang dan tidak panik, namun tetap waspada terhadap perkembangan selanjutnya yang berpotensi mengubah arah pergerakan pasar secara cepat.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User