IHSG Berhasil Membaik di Akhir Sesi Setelah Terkena Trading Halt
Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (29/1/2026) menyuguhkan tontonan dramatis bagi para pelaku pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat te
Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (29/1/2026) menyuguhkan tontonan dramatis bagi para pelaku pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terpuruk hingga memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt, sebelum akhirnya bangkit dan ditutup membaik. Berdasarkan data BEI, total volume saham yang diperdagangkan mencapai 98,791 miliar lembar dengan nilai transaksi fantastis sebesar Rp67,823 triliun. Di papan elektronik lantai bursa, grafik merah sempat mendominasi sebelum berubah menjadi hijau tipis menjelang penutupan, menandakan napas lega investor yang sempat panik. Pemandangan itu terekam dalam foto yang diambil oleh Yasuyoshi Chiba dari AFP, memperlihatkan layar digital yang merekam fluktuasi indeks yang nyaris tak menentu.
IHSG Terhenti: Pemicu Trading Halt
Kepanikan dimulai sejak sesi pertama perdagangan ketika IHSG anjlok lebih dari 5% akibat derasnya aksi jual yang dipicu oleh sentimen negatif global. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis baru serta kekhawatiran atas perlambatan ekonomi dunia menjadi katalis utama aksi lepas saham. Dalam hitungan menit, indeks acuan ini menyentuh ambang batas penurunan yang mewajibkan BEI untuk menerapkan trading halt—mekanisme penghentian sementara perdagangan untuk mendinginkan pasar.
“Kami melihat banyak investor, terutama asing, melakukan panic selling setelah data manufaktur Tiongkok mengecewakan dan tensi geopolitik di Timur Tengah meruncing. Tekanan ini menguji kedalaman pasar kita,” ujar Andri Setyawan, analis pasar modal dari Lembaga Riset Investasi Nusantara.
Selama trading halt berlangsung, seluruh aktivitas perdagangan di pasar reguler dan pasar negosiasi dihentikan. Bursa memberi waktu bagi investor untuk menyerap informasi dan meredam gejolak emosional. Langkah ini sesuai dengan aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memberlakukan penghentian jika IHSG turun di atas 5% dalam sehari.
Pemulihan di Sesi Akhir: Bargain Hunting Menopang
Menjelang sesi kedua, aroma optimisme mulai tercium. Para pelaku pasar memanfaatkan harga saham yang sudah jatuh sebagai momentum untuk akumulasi. Aliran dana asing yang semula keluar deras berbalik menjadi beli selektif, terutama di saham-saham perbankan dan komoditas yang sudah terdiskon dalam. IHSG berhasil memangkas pelemahan dan ditutup menguat tipis 0,3% ke level 6.824, sebuah pencapaian yang nyaris tak terbayangkan beberapa jam sebelumnya.
“Pemulihan ini didorong oleh aksi bargain hunting yang cukup agresif dari investor domestik dan sebagian asing yang melihat valuasi menjadi lebih menarik. Namun pemulihan ini masih rapuh karena fundamental belum berubah,” jelas Andri menambahkan.
Nilai transaksi yang menembus Rp67,8 triliun menjadi indikasi bahwa likuiditas pasar tetap terjaga meski volatilitas tinggi. Sektor energi dan keuangan menjadi motor penggerak indeks di detik-detik akhir, didukung oleh rebound harga minyak mentah dan pernyataan dovish dari bank sentral.
Dampak pada Investor dan Sektor Terdampak
Bagi investor ritel, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen risiko. Beberapa saham blue chip seperti BBRI dan TLKM sempat tertekan hingga level support kritis sebelum ditutup naik. Di sisi lain, saham-saham teknologi dan properti masih terkapar, menjadi bulan-bulanan aksi jual karena sensitivitasnya terhadap suku bunga. Bursa juga mencatat rata-rata frekuensi perdagangan yang tinggi, menandakan banyaknya investor yang keluar-masuk posisi untuk memanfaatkan fluktuasi.
Direktur Perdagangan BEI, dalam keterangan resmi, menyatakan bahwa sistem perdagangan berjalan normal dan mekanisme trading halt bekerja sesuai fungsinya untuk melindungi pasar. “Kejadian hari ini menunjukkan bahwa infrastruktur bursa kita tangguh menghadapi tekanan ekstrem,” ungkapnya. Meski begitu, ia mengimbau investor untuk tetap tenang dan tidak terpancing rumor yang belum terverifikasi.
Prospek ke Depan: Volatilitas Tinggi Masih Membayangi
Melihat ke depan, analis memproyeksi IHSG masih akan bergerak dalam rentang lebar. Kalender ekonomi global yang padat, termasuk pengumuman suku bunga bank sentral utama dan data inflasi, berpotensi memicu gejolak lanjutan. Level support 6.700 dan resistance 7.000 menjadi area kunci yang akan diuji dalam beberapa hari mendatang. Investor disarankan untuk menerapkan strategi bertahap dan memperhatikan rekomendasi profesional.
Kombinasi antara sentimen eksternal, pergerakan rupiah, dan aksi korporasi emiten akan menentukan arah indeks selanjutnya. Sementara itu, regulator pasar modal terus memantau ketat pergerakan pasar untuk mengantisipasi perlunya intervensi lebih lanjut. Bagi pelaku pasar, satu hal yang pasti: lantai bursa masih akan menjadi panggung drama yang menegangkan.
[SOCIAL_TWEET]: IHSG hari ini sempat kena trading halt setelah anjlok >5%, tapi ditutup menghijau 0,3% ke 6.824. Total transaksi Rp67,8 triliun. Pasar masih rawan guncangan global. #IHSG #TradingHalt #PasarModal[SOCIAL_TG]: 📉📈 IHSG bikin dag dig dug! Sempat kena trading halt karena terjun >5%, eh ternyata di akhir sesi langsung membaik dan ditutup hijau. Transaksi hari ini Rp67,8 triliun. Volatilitas tinggi, tetap waspada ya! 🔍
Comments (0)