IDI: Burnout Nakes Bukan Pembenaran Sikap Nirempati di Medsos

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyoroti maraknya unggahan tenaga kesehatan (nakes) yang dinilai nirempati di media sosial. Organisasi profesi dokter itu menilai perilaku tersebut tidak lepas dari kond...

IDI: Burnout Nakes Bukan Pembenaran Sikap Nirempati di Medsos

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyoroti maraknya unggahan tenaga kesehatan (nakes) yang dinilai nirempati di media sosial. Organisasi profesi dokter itu menilai perilaku tersebut tidak lepas dari kondisi burnout — kelelahan fisik, emosional, dan mental — yang dialami sebagian nakes akibat beban kerja yang berat. Meski demikian, IDI menegaskan bahwa tekanan dalam pelayanan kesehatan, sekalipun nyata dan valid, tetap tidak dapat dijadikan pembenaran untuk bersikap tanpa empati, baik di ruang perawatan maupun di ruang digital.

Sikap ini muncul di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap sejumlah unggahan nakes yang dianggap merendahkan pasien atau mengeluhkan kondisi kerja dengan cara yang tidak pantas. Sebagian unggahan itu memicu gelombang kritik karena dinilai mencederai kepercayaan masyarakat terhadap profesi kesehatan.

Burnout Menjadi Persoalan Nyata di Layanan Kesehatan

Berbagai kajian menunjukkan bahwa burnout merupakan persoalan serius di kalangan nakes. Jam kerja panjang, jumlah pasien yang terus bertambah, beban administratif, serta tuntutan memberikan pelayanan prima dalam kondisi serba terbatas menjadi pemicu utama kelelahan berkepanjangan. Situasi ini diperberat oleh ketimpangan distribusi nakes, yang membuat sebagian fasilitas kesehatan harus beroperasi dengan sumber daya manusia terbatas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah memasukkan burnout ke dalam klasifikasi penyakit internasional sebagai fenomena okupasional — bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan sindrom yang muncul akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Gejalanya meliputi kelelahan energi, meningkatnya jarak mental terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional.

Dalam konteks tersebut, menurut IDI, ledakan emosi nakes di media sosial dapat dipahami sebagai gejala dari sistem yang kelelahan. Namun, memahami penyebab bukan berarti membenarkan perilakunya.

Empati Disebut Kewajiban yang Tak Bisa Dinegosiasikan

IDI menegaskan, empati merupakan inti dari praktik kedokteran dan pelayanan kesehatan. Nilai itu tertuang dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) serta sumpah profesi yang mengikat setiap dokter dan nakes. Tekanan kerja, seberat apa pun, tidak menghapus kewajiban tersebut.

Sikap nirempati — misalnya mengumbar keluhan tentang pasien, menertawakan kondisi seseorang, atau menampilkan konten yang merendahkan — dinilai bertentangan dengan nilai dasar profesi. Di era digital, jejak unggahan semacam itu menyebar cepat dan berdampak luas, bukan hanya bagi individu yang bersangkutan, tetapi juga bagi citra seluruh komunitas profesi kesehatan.

Kepercayaan publik adalah fondasi hubungan dokter dan pasien. Ketika kepercayaan itu terkikis, pelayanan kesehatan secara keseluruhan ikut terdampak: pasien ragu berobat, enggan terbuka soal keluhannya, hingga menunda penanganan medis yang seharusnya segera dilakukan.

Perlunya Penyelesaian Sistemik, Bukan Sekadar Teguran

Meski menolak menjadikan burnout sebagai alasan pembenar, IDI mengakui akar persoalan harus ditangani. Kelelahan nakes bukan persoalan individual semata, melainkan cermin dari beban sistem kesehatan yang perlu dibenahi — mulai dari pengaturan jam kerja yang manusiawi, pemerataan distribusi tenaga, hingga dukungan kesehatan mental bagi para pekerja medis.

Fasilitas kesehatan dan pemangku kebijakan didorong menyediakan ruang pemulihan serta mekanisme konseling bagi nakes yang mengalami tekanan psikologis. Dengan demikian, luapan emosi tidak lagi tersalurkan ke ruang publik yang justru merugikan semua pihak.

Di sisi lain, edukasi etika digital bagi nakes dipandang penting. Batas antara curahan hati pribadi dan pelanggaran etika profesi harus dipahami secara jelas, mengingat identitas profesi melekat pada setiap unggahan yang dibuat di media sosial.

Pada akhirnya, pesan IDI tegas: tekanan pelayanan kesehatan memang nyata dan valid, tetapi empati tetap harga mati. Menjaga martabat profesi dan merawat kepercayaan masyarakat adalah tanggung jawab bersama — antara nakes, organisasi profesi, dan sistem kesehatan itu sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User