Dalam tradisi Islam di tanah Sunda, bulan Safar memiliki makna yang begitu mendalam. Salah satu momen paling khas yang selalu dinanti adalah Rebo Wekasan, hari Rabu terakhir di bulan tersebut, yang kerap menjadi tema utama dalam khutbah Jumat. Pada bulan ini, mimbar-mimbar masjid di berbagai pelosok Jawa Barat dan Banten dipenuhi lantunan nasihat dalam bahasa Sunda yang halus, mengangkat hikmah dari peringatan yang telah mengakar kuat secara turun-temurun. Khutbah berbahasa ibu ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga sarana transmisi nilai-nilai luhur yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Mengenal Rebo Wekasan dan Akar Tradisinya
Secara harfiah, Rebo Wekasan berarti hari Rabu terakhir. Masyarakat Sunda secara khusus memuliakan hari tersebut karena diyakini sebagai waktu penurunan bala atau cobaan. Keyakinan ini bersumber dari riwayat klasik yang menyebutkan bahwa Allah menurunkan banyak ujian sepanjang tahun, dan sebagian ulama terdahulu memilih hari itu sebagai momen untuk bermunajat. Namun, melalui ceramah-ceramah di hari Jumat, pemahaman ini diarahkan bukan untuk menumbuhkan rasa takut berlebihan, melainkan untuk memperkuat ketakwaan. Para khatib biasanya menjelaskan bahwa esensi dari peringatan ini adalah meningkatkan kualitas ibadah dan kepedulian sosial, bukan sekadar mengadakan ritual tolak bala yang kosong makna.
Dalam perspektif antropologis, tradisi ini juga mencerminkan kearifan lokal yang bersinergi dengan ajaran Islam. Banyak komunitas yang menggelar doa bersama, bersedekah, hingga membagikan makanan. Unsur budaya seperti pembacaan ayat suci dengan irama Sunda, pembuatan air safar yang didoakan, serta penyampaian tausiah dengan bahasa ibu menjadikan bulan Safar sebagai jembatan antara spiritualitas universal dan identitas budaya setempat. Khutbah Jumat berbahasa Sunda memegang peranan sentral dalam meluruskan niat, memastikan bahwa setiap amalan yang dilakukan pada Rebo Wekasan dilandasi oleh tauhid yang benar dan bukan oleh praktik yang menyimpang dari syariat.
Pesan Khutbah Jumat di Bulan Safar
Khutbah Jumat yang disampaikan dalam bahasa Sunda selama bulan Safar umumnya memiliki struktur yang sistematis, dimulai dari pemaparan keutamaan bulan haram, kedudukan hari Jumat sebagai penghulu hari, hingga mengerucut pada sosok Rebo Wekasan. Khatib sering menggunakan metafora alam, layaknya petani yang menyemai benih di musim yang tepat, untuk menggambarkan pentingnya menyambut bulan ini dengan persiapan spiritual yang prima. Isi khutbah menekankan bahwa ujian dan bencana bukanlah hukuman semata, melainkan bentuk kasih sayang Tuhan untuk menghapus dosa dan meninggikan derajat hamba.
Dengan tutur kata yang lembut dan penuh penjiwaan, khatib menyampaikan bahwa hikmah utama dari Rebo Wekasan adalah refleksi diri dan solidaritas. Jemaah diajak untuk tidak hanya mementingkan keselamatan pribadi, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan. Banyak naskah khutbah yang menyelipkan ajakan untuk menjenguk yang sakit, membantu yang kesulitan, serta mempererat tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang. Penggunaan bahasa Sunda yang inklusif memungkinkan pesan moral ini terserap dengan lebih efektif oleh lapisan masyarakat, mulai dari kalangan terpelajar hingga petani di pedesaan, karena pesan tersebut diantarkan melalui kosakata dan ungkapan yang dekat dengan keseharian mereka.
Hikmah Spiritual dari Rebo Wekasan
Bertolak dari materi khutbah yang lazim disampaikan, setidaknya terdapat tiga lapis hikmah yang bisa dipetik. Pertama, peneguhan tauhid dan tawakal. Jemaah diajak untuk meyakini bahwa tidak ada satu pun bencana atau keberuntungan yang terjadi tanpa izin Allah. Tradisi minum air safar atau menulis rajah tertentu oleh para ulama salaf pada hakikatnya adalah bentuk doa, bukan medium sihir yang memiliki kekuatan intrinsik. Kedua, optimalisasi ibadah sunnah. Bulan Safar dijadikan momentum untuk melatih diri dalam puasa sunnah, memperbanyak salawat, dan shalat sunnah, sebagai tameng dari segala keburukan. Ketiga, pendistribusian kepedulian sosial. Hari Rabu terakhir itu menjadi pengingat keras bahwa salah satu cara paling ampuh untuk menolak bala adalah melalui tangan yang gemar bersedekah.
Khutbah berbahasa Sunda juga sering menyitir pepatah lokal, "Hirup mah kudu loba mere, ulah nginjeum bae kana kahadean batur" (Hidup itu harus banyak memberi, jangan terus-menerus meminjam kebaikan orang lain). Pesan semacam ini menggerakkan jemaah untuk menggunakan Rebo Wekasan sebagai hari berbagi, bukan sekadar mengejar berkah eksklusif. Dengan demikian, dimensi horizontal dari ibadah ini menjadi lebih hidup, memperkuat jalinan sosial yang harmonis di antara sesama warga.
Peran Bahasa Sunda dalam Pelestarian Nilai
Penggunaan bahasa Sunda dalam khutbah bukanlah hal yang sederhana. Di era globalisasi yang mendorong penggunaan bahasa Indonesia secara masif, penyampaian tausiah dengan bahasa daerah menjadi benteng terakhir bagi pelestarian kosakata dan nilai-nilai filosofis lokal. Ketika khatib menggunakan istilah seperti "nandakeun" (menandai), "pinareup" (permohonan), atau "ngawengku" (mencakup), ia turut menjaga agar bahasa leluhur tersebut tidak punah. Lebih dari itu, pendekatan ini memungkinkan khatib untuk menyentuh perasaan jemaah pada tingkat yang lebih primordial, karena bahasa ibu memiliki akses langsung ke pusat emosi dan pemahaman kultural.
Dalam konteks Rebo Wekasan, narasi yang dibangun dalam bahasa Sunda cenderung lebih mengalir dan naratif. Kisah-kisah hikmah, seperti perjalanan Nabi atau wali yang bertepatan dengan hari tersebut, dirangkai dengan indah dan mudah dicerna. Khatib mampu mentransformasi doktrin teologis yang berat menjadi sebuah cerita tentang ketabahan dan optimisme. Hal ini membuktikan bahwa kombinasi antara kearifan lokal dan pesan universal Islam adalah formula jitu untuk membangun karakter masyarakat yang tangguh dan beriman. Khutbah Jumat di bulan Safar pada akhirnya tidak sekadar menandai berakhirnya satu fase kalender, tetapi juga membukakan pintu bagi pembaruan jiwa setiap individu yang mendengarkannya, menyongsong bulan-bulan selanjutnya dengan harapan dan semangat baru.
Comments (0)