Sep 17, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Harga Cabai di Jakarta Melonjak Tembus Rp100 Ribu per Kilogram

Dini hari di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, riuh rendah suara tawar-menawar terdengar lebih tegang dari biasanya. Di balik tumpukan karung-karung

Harga Cabai di Jakarta Melonjak Tembus Rp100 Ribu per Kilogram

Dini hari di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, riuh rendah suara tawar-menawar terdengar lebih tegang dari biasanya. Di balik tumpukan karung-karung merah mencolok, para pedagang dan pembeli mengeluhkan hal yang sama: lonjakan harga cabai yang makin tak masuk akal. Berdasarkan pantauan lapangan di sejumlah pasar tradisional Ibu Kota, harga komoditas pedas ini resmi menginjak angka fantastis, Rp100.000 per kilogram. Angka ini menandai kenaikan drastis yang memukul beban dapur rumah tangga hingga kelangsungan usaha mikro skala kecil.

Kenaikan harga yang begitu tajam dalam kurun waktu singkat ini menempatkan cabai sebagai komoditas paling bergejolak di awal musim. Para pengusaha warung makan hingga pedagang kaki lima terpaksa memutar otak agar tidak kehilangan pelanggan, mulai dari mengurangi porsi sambal hingga mencampur cabai kualitas rendah.

Tercekik Cuaca Ekstrem dan Logistik Keruh

Hasil penelusuran mendalam mengindikasikan bahwa lonjakan harga ini bukan sekadar permainan spekulan di tingkat eceran. Faktor cuaca ekstrem yang melanda sejumlah sentra produksi di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi akar masalah utama. Curah hujan yang tidak menentu memicu gagal panen massal akibat pembusukan akar dan serangan hama tanaman cabai.

"Pasokan dari daerah asal memang sudah tipis sejak pekan lalu. Dari Jawa Tengah saja pengiriman berkurang hampir separuh. Kami di pasar induk terpaksa menaikkan harga karena harga tebus di tingkat tengkulak sudah sangat tinggi," ujar Sugeng (48), salah satu pedagang grosir bumbu dapur di wilayah Jakarta Pusat.

Kondisi ini diperparah oleh jalur logistik yang kerap tersendat. Rantai distribusi yang panjang dari petani hingga sampai ke meja pedagang eceran di Jakarta membuat margin harga terus melambung di setiap tingkatan.

Anomali Komoditas: Cabai Melambung, Bawang Putih Melorot

Menariknya, tren kenaikan ekstrem ini tidak terjadi secara merata pada seluruh bahan pokok. Terjadi anomali pasar di mana beberapa kebutuhan dapur utama justru menunjukkan dinamika harga yang bertolak belakang. Ketika harga cabai melambung tinggi, harga bawang putih justru mencatatkan penurunan, sementara harga minyak goreng cenderung bertahan stabil.

Berikut adalah perbandingan pergerakan harga rata-rata komoditas pangan utama di pasar tradisional Jakarta pekan ini:

Komoditas Harga Saat Ini (per Kg/Liter) Status Pergerakan
Cabai Rawit Merah / Keriting Rp100.000 Melonjak Tajam
Bawang Putih Rp35.000 Menurun
Minyak Goreng Curah Rp16.000 Stabil

Penurunan harga bawang putih ditengarai akibat masuknya pasokan impor yang melimpah di pasaran, sehingga mampu meredam gejolak harga. Di sisi lain, kestabilan harga minyak goreng dipicu oleh pasokan domestic market obligation (DMO) yang masih mencukupi.

Daya Beli Terancam, Desakan Operasi Pasar Menguat

Kondisi melambungnya harga cabai ini memicu keprihatinan dari kalangan pengamat ekonomi dan kebijakan publik. Kenaikan harga pangan yang tidak terkendali berpotensi menyumbang angka inflasi daerah yang cukup signifikan pada kuartal ini.

"Pemerintah DKI Jakarta bersama Perumda Pasar Jaya harus segera turun tangan melakukan intervensi pasar secara masif. Jika pasokan ke pasar induk tidak segera dinormalisasi, gelombang kenaikan harga ini akan menyeret komoditas lain dan makin merusak daya beli masyarakat menengah ke bawah," tegas seorang analis ekonomi pangan independen.

Menanti Langkah Nyata Pemerintah

Masyarakat kini menunggu langkah konkrit dari instansi terkait untuk menstabilkan kembali pasokan pangan. Operasi pasar murah dan pemangkasan rantai pasok dari daerah penghasil langsung ke pedagang eceran dianggap sebagai solusi jangka pendek yang mendesak.

Tanpa langkah penanganan yang cepat dan terukur, harga cabai diprediksi masih akan bergejolak tinggi, menempatkan konsumen dan pedagang kecil dalam situasi yang semakin terjepit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User