Sep 11, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

GILGIT — Pemerintah Lelang Izin Berburu Markhor Seharga 356 Ribu Dolar

Suara ketukan palu lelang bergema nyaring di dalam ruangan Forest, Parks and Wildlife Complex di Gilgit. Di balik pintu tertutup otoritas perlindungan ling

GILGIT — Pemerintah Lelang Izin Berburu Markhor Seharga 356 Ribu Dolar

Suara ketukan palu lelang bergema nyaring di dalam ruangan Forest, Parks and Wildlife Complex di Gilgit. Di balik pintu tertutup otoritas perlindungan lingkungan hidup Pakistan tersebut, izin untuk membunuh salah satu mamalia terlangka di dunia resmi berpindah tangan dengan harga fantastis. Musim berburu tropi (*trophy hunting*) periode 2026-27 resmi dibuka, membawa kontroversi lama yang menyelimuti wilayah Gilgit-Baltistan (GB) kembali ke permukaan. Izin berburu seekor Astore markhor—kambing gunung bertanduk spiral yang dilindungi—terjual seharga $356.000 (sekitar Rp5,5 miliar), memecahkan rekor angka tertinggi dalam lelang tahun ini.

Penawaran bernilai fantastis tersebut tak berhenti di situ. Izin kedua dan ketiga untuk spesies perburuan kelas wahid ini masing-masing terlelang pada angka $301.000 dan $294.000. Otoritas setempat bahkan memasukkan satu izin tambahan *Astore markhor* yang merupakan sisa kuota dari musim berburu sebelumnya. Tingginya angka penawaran ini menggarisbawahi betapa berharganya kepala satwa ikonik Himalaya tersebut bagi para pemburu tropi kelas atas dan agen perburuan (*outfitters*) internasional.

Dolar Mengalir di Tengah Kuota Satwa Terbatas

Departemen Satwa Liar dan Taman Gilgit-Baltistan secara keseluruhan melelang 117 izin berburu untuk musim yang dijadwalkan berlangsung mulai 15 Oktober 2026 hingga 10 April 2027. Dari perhelatan bisnis berkedok konservasi ini, pejabat satwa liar setempat menargetkan pendapatan total mencapai Rs650 juta (Rupee Pakistan).

Rincian izin yang dilelang tidak hanya berfokus pada markhor. Otoritas melepaskan kuota untuk tiga spesies utama: 3 ekor Astore markhor, 14 ekor domba biru (*blue sheep*), dan 100 ekor ibex Himalaya (*Himalayan ibex*). Setiap spesies memiliki segmentasi harga tersendiri di pasar lelang internasional berdasarkan tingkat kelangkaan dan ukuran tanduknya.

"Izin ekspor tertinggi untuk domba biru berhasil terjual seharga $31.200, sementara penawaran terendah berada di angka $25.100. Sementara itu, izin ibex Himalaya kelas utama tertinggi dijual seharga $13.200 dan terendah $11.500," ujar Zakir Hussain, Konservator Kepala Taman dan Satwa Liar Gilgit-Baltistan.

Dilema Etis: Konservasi Komunitas atau Perburuan Komersial?

Skema perburuan tropi di Pakistan selama bertahun-tahun dipromosikan sebagai model sukses community-based conservation (konservasi berbasis masyarakat). Berdasarkan regulasi lokal, sebesar 80 persen dari hasil lelang izin berburu diklaim akan disalurkan langsung ke masyarakat desa setempat. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur lokal, sarana pendidikan, serta insentif bagi warga agar menjaga habitat satwa dari ancaman pemburu liar (*poaching*). Sisanya, sebesar 20 persen, masuk ke kas negara untuk operasional perlindungan kawasan.

Kendati demikian, praktik ini terus menuai kritik tajam dari para aktivis hak satwa global. Penentang perburuan tropi menilai bahwa membunuh pejantan jantan dominan berukuran paling besar justru dapat merusak tatanan genetik populasi satwa liar. Ketika pejantan terbaik dieksekusi demi sepotong piala pajangan dinding, garis keturunan terkuat spesies tersebut terputus dari rantai evolusi alami.

Namun, pemerintah Gilgit-Baltistan bergeming dan menilai program ini sebagai satu-satunya solusi ekonomis yang realistis demi menekan angka perburuan ilegal. Tanpa imbalan finansial bernilai ratusan ribu dolar bagi masyarakat adat setempat, satwa-satwa langka ini berisiko habis dibantai tanpa menghasilkan nilai tambah ekonomi. Musim berburu 2026-27 kini menjadi panggung baru pembuktian, apakah komodifikasi nyawa satwa liar ini benar-benar menyelamatkan mereka dari kepunahan atau sekadar pembenaran atas hobi mahal para jutawan dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User