Asap tebal berjelaga masih terus membumbung dari lambung kapal feri M/V June Aster yang kandas sekitar satu kilometer di lepas pantai Coron, Palawan. Kawasan yang dikenal sebagai destinasi wisata bahari unggulan di Filipina tersebut kini berubah menjadi panggung tragedi memilukan. Peristiwa kebakaran hebat yang melahap kapal motor tersebut pada Rabu malam telah merenggut sedikitnya lima nyawa, sementara 84 orang lainnya—termasuk nakhoda dan kepala kamar mesin—hingga kini masih belum ditemukan di tengah membara sisa-sisa puing kapal.
Detik-Detik Ledakan dan Kepanikan Massal
Berdasarkan kesaksian para korban selamat, bencana maritim ini datang tanpa peringatan awal. Kobaran api membesar dalam hitungan detik setelah terdengar suara ledakan hebat dari bagian dalam kapal yang bertolak dari Manila tersebut. Kepanikan luar biasa tak terhindarkan ketika asap hitam tebal mendadak memenuhi lorong-lorong kabin, membuat ratusan penumpang berlarian menyelamatkan diri tanpa sempat mengenakan jaket pelampung.
"Semuanya terjadi hanya dalam hitungan detik. Dari saat mereka mendengar ledakan keras, kemunculan asap, hingga api yang menyebar sangat cepat," ujar juru bicara Penjaga Pantai Filipina (Philippine Coast Guard), Komodor Noemie Cayabyab.
Hingga Jumat sore, tim SAR gabungan masih berjuang melawan hawa panas dan sisa kepulan asap yang keluar dari berbagai kompartemen kapal. Operasi pemadaman dan pencarian korban di dalam lambung kapal terkendala oleh risiko tinggi terkait stabilitas fisik feri yang telah terdampar di dekat pulau kecil sekitar Coron.
Rincian Data Korban dan Manifest Pelayaran
Investigasi awal mengungkapkan bahwa data manifest resmi mencatat kapal feri ini mengangkut 134 orang, yang terdiri dari penumpang dan awak kapal. Selain membawa penumpang, M/V June Aster juga memuat muatan kargo berat, termasuk kendaraan listrik, truk pickup, serta sejumlah sepeda motor.
Berikut adalah rincian data korban tragedi M/V June Aster berdasarkan pembaruan resmi Penjaga Pantai Filipina:
| Kategori Status | Jumlah Korban | Keterangan Tambahan |
|---|---|---|
| Korban Selamat | 43 orang | 30 penumpang, 13 awak kapal (1 korban selamat belum teridentifikasi) |
| Meninggal Dunia | 5 orang | Jasad ditemukan pada Rabu malam di sekitar lokasi kejadian |
| Dalam Pencarian (Hilang) | 84 orang | Termasuk Kapten Kapal dan Chief Engineer |
| Total Manifest Resmi | 134 orang | Data resmi penumpang dan kru kapal terdaftar |
Kondisi muatan kargo—khususnya keberadaan kendaraan listrik—memicu sorotan terkait potensi bahaya kebakaran baterai di laut. Namun, pihak berwenang menegaskan bahwasanya penyebab pasti titik awal ledakan masih dalam tahap investigasi teknis oleh tim forensik maritim.
Duka Keluarga di Tengah Lambatnya Informasi
Di balik angka-angka statistik tragedi ini, ada kepedihan mendalam yang dirasakan oleh keluarga korban. Lambatnya alur informasi resmi membuat ratusan kerabat yang cemas membanjiri kolom komentar media sosial pejabat lokal demi mencari kepastian nasib anggota keluarga mereka.
Salah satu cerita memilukan datang dari Myra Cabilan, yang sengaja terbang langsung ke Coron demi mencari keberadaan adiknya, Rammel Gonzaga (40 tahun). Rammel bertolak menggunakan M/V June Aster untuk urusan bisnis bersama kakak iparnya, meninggalkan seorang bayi perempuan yang baru berusia satu bulan.
"Istrinya baru melahirkan sebulan yang lalu. Dia sangat bahagia ketika dikaruniai seorang putri. Pada waktu subuh, saya masih percaya dia selamat. Tapi sampai sekarang dia masih hilang. Saya mulai kehilangan harapan," tutur Myra seraya menahan derai air mata.
Ketidakpastian ini semakin diperparah dengan belum ditemukannya jajaran perwira kunci kapal, termasuk sang nakhoda. Keberadaan nakhoda dan kepala mesin sangat krusial untuk mengurai kronologi pasti ledakan awal serta menilai apakah prosedur evakuasi darurat telah dijalankan sesuai standar keselamatan pelayaran internasional.
Comments (0)