Festival Buku Berjalan 2026: Literasi Tumbuh dari Perjumpaan
Ribuan buku bergerak melintasi trotoar, taman kota, dan sudut-sudut ruang publik Jakarta. Itulah wajah Festival Buku Berjalan 2026, sebuah gerakan literasi yang menolak diam. Diinisiasi oleh Forum Buk...
Ribuan buku bergerak melintasi trotoar, taman kota, dan sudut-sudut ruang publik Jakarta. Itulah wajah Festival Buku Berjalan 2026, sebuah gerakan literasi yang menolak diam. Diinisiasi oleh Forum Buku Berjalan, festival ini mengubah aktivitas membaca menjadi pengalaman kolektif yang merayakan perjumpaan antarmanusia.
Akar Filosofis: Literasi di Ruang Publik
Pendiri Forum Buku Berjalan, Evi Syahida, menolak anggapan bahwa membaca adalah aktivitas soliter. Baginya, literasi justru menemukan momentum terkuatnya saat individu bertemu, berdiskusi, dan saling merekomendasikan bacaan. “Festival ini lahir dari sebuah keyakinan sederhana,” ujarnya di sela persiapan acara. Keyakinan itu adalah bahwa perjumpaan—baik dengan teks maupun dengan sesama pembaca—merupakan tanah subur bagi tumbuhnya budaya literasi. Prinsip ini menjadi fondasi seluruh rangkaian acara yang akan berlangsung selama tiga hari pada awal Juli 2026.
Berbeda dengan festival buku konvensional yang biasanya berpusat di gedung pertemuan, Festival Buku Berjalan justru menempatkan buku-buku di jalur pejalan kaki, stasiun MRT, hingga tepi sungai. Setiap titik lokasi dirancang sebagai ruang perjumpaan tak terduga. Pengunjung bisa menemukan rak buku dadakan di bawah pohon rindang, membaca sambil duduk di bean bag, atau terlibat diskusi dadakan dengan relawan literasi yang bertugas. Dengan cara ini, batas antara perpustakaan, toko buku, dan ruang publik menjadi cair.
Rangkaian Acara: Dari Baca Jalanan Hingga Bedah Karya
Festival tahun ini mengusung tema “Kisah yang Berjalan”. Ratusan judul buku dari penerbit independen, komunitas literasi, dan sumbangan pribadi akan tersedia secara gratis untuk dibaca di tempat. Tidak ada transaksi jual beli. Pengunjung hanya perlu duduk dan membaca. Bagi yang ingin membawa pulang, panitia menyediakan mekanisme barter buku: bawa satu buku, pulang dengan satu buku lain. Konsep barter ini dirancang untuk memutus rantai konsumerisme literasi, sekaligus memperkuat dimensi perjumpaan personal.
Selain ruang baca liar, terdapat pula panggung utama yang akan menampilkan sesi “Manuskrip Hidup”. Sesi ini mempertemukan penulis dengan pembacanya dalam format yang intim. Penulis menceritakan proses kreatif, lalu pembaca dipersilakan memberikan tanggapan atau membacakan kembali penggalan favorit mereka. Pada edisi sebelumnya, momen inilah yang kerap memicu diskusi panjang, bahkan menghasilkan kolaborasi penulisan baru. Bedah buku, lokakarya menulis, dan kelas ilustrasi buku anak turut melengkapi agenda. Semua kegiatan digelar secara gratis, sejalan dengan semangat gerakan bahwa akses terhadap ilmu adalah hak, bukan komoditas.
Lebih dari Festival: Jejaring yang Terus Melangkah
Di balik gegap gempita acara, ada kerja senyap yang telah dimulai Forum Buku Berjalan jauh sebelum festival digelar. Komunitas ini rutin menyelenggarakan “Pustaka Kaki Lima”—perpustakaan temporer di ruang publik—dan “Lentera Literasi”, program distribusi buku ke daerah-daerah dengan fasilitas perpustakaan minim. Festival ini menjadi puncak dari siklus kerja setahun penuh. Setelah festival, jejaring donor, relawan, dan mitra lokal yang terbentuk selama persiapan akan tetap bergerak. Mereka diharapkan menjadi simpul-simpul baru gerakan literasi di wilayahnya masing-masing.
Data dari panitia menunjukkan bahwa pada penyelenggaraan tahun lalu, lebih dari 12.000 buku berhasil ditukarkan dan 250 relawan terlibat aktif. Angka ini diproyeksikan naik hingga 30 persen tahun ini. Yang lebih menarik, survei internal menyebutkan 67 persen pengunjung menyatakan lebih sering membaca setelah menghadiri festival. Meskipun angka tersebut bersifat deklaratif, ia mengisyaratkan adanya efek penyulut dari perjumpaan singkat yang disediakan oleh festival.
Menjawab Kritik: Apakah Ini Sekadar Euforia?
Tidak sedikit pihak yang meragukan efektivitas festival jenis ini. Kritik umum yang muncul: apakah membaca di ruang publik yang ramai benar-benar efektif? Apakah gerakan ini hanya menciptakan ilusi literasi? Evi Syahida menanggapi dengan tenang. Ia menekankan bahwa festival ini bukan pengganti perpustakaan atau metode pembelajaran konvensional, melainkan katalis. Tugasnya adalah membangkitkan rasa ingin tahu, menciptakan landmark memori yang mengaitkan buku dengan pengalaman positif. Selebihnya, keinginan membaca harus tumbuh dari dalam diri individu. Bagi Forum Buku Berjalan, satu orang yang tergerak meminjam buku di perpustakaan seminggu setelah festival sudah merupakan kemenangan.
Terlepas dari perdebatan, yang pasti Festival Buku Berjalan telah merebut ruang—secara harfiah dan kultural. Ia membuktikan bahwa jalanan, taman, dan trotoar bisa berubah menjadi ruang intelektual. Ia menunjukkan bahwa buku tidak perlu menunggu dibeli atau dipinjam; buku bisa keluar dan berjalan menghampiri pembacanya. Di tengah gempuran media digital yang memecah perhatian, gerakan ini menawarkan jalan pulang: kembali ke laku membaca yang pelan, taktis, dan personal, tetapi tetap ditemani kerumunan yang memiliki gairah sama. Pada akhirnya, perjumpaanlah yang membuat literasi terus melangkah.
Baca juga:
Comments (0)