Fadli Zon soal Ziarah ke Gunung Kawi: Tradisi dan Budaya Lama
Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan tanggapan terkait ramainya perbincangan mengenai praktik ziarah di Gunung Kawi, Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi
Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan tanggapan terkait ramainya perbincangan mengenai praktik ziarah di Gunung Kawi, Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan budaya lama yang telah mengakar di masyarakat. Pernyataan ini disampaikan menyusul meningkatnya perhatian publik terhadap aktivitas spiritual di kawasan pegunungan yang dikenal sebagai tempat peristirahatan para tokoh besar seperti Eyang Jugo dan Eyang Sujo itu.
Mozaik Tradisi dan Keberagaman
Dalam keterangan yang dilansir media kami, Selasa (7/7/2026), Fadli Zon menjelaskan bahwa fenomena ziarah di Gunung Kawi tidak bisa dilepaskan dari keberagaman cara masyarakat Indonesia dalam memahami spiritualitas. Menurutnya, praktik-praktik semacam ini menjadi mozaik budaya yang memperkaya khazanah tradisi nasional.
"Gunung Kawi ya, itu kan kita keberagaman kita di dalam memahami termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi dan di berbagai tempat, itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama," ujar Fadli Zon.
Gunung Kawi sendiri sudah lama dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Kawasan ini tidak hanya menawarkan ritual spiritual seperti tirakatan dan meditasi, tetapi juga memiliki daya tarik ekonomi bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pemerintah melihat praktik ini sebagai realitas sosial yang perlu dihormati selama membawa dampak positif.
Dampak Ekonomi dan Pelestarian Budaya
Menteri Fadli Zon menekankan bahwa aspek ekonomi budaya menjadi salah satu pertimbangan penting. Gunung Kawi telah menghidupkan perekonomian lokal melalui sektor pariwisata, mulai dari penginapan, kuliner, hingga jasa pemandu spiritual. Selama aktivitas tersebut tidak mengganggu ketertiban umum dan tidak merusak lingkungan, pemerintah memandangnya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang harus dijaga.
"Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat, dan tidak mengganggu dan tidak merusak, tentu itu kita anggap sebagai realitas kehidupan kita," tambahnya.
Senada dengan pernyataan sang menteri, sejumlah budayawan menilai bahwa ziarah ke Gunung Kawi merupakan warisan leluhur yang memadukan unsur kejawen, Islam, dan tradisi lokal. Praktik ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi identitas budaya masyarakat setempat. Pelestarian tradisi semacam ini, menurut mereka, harus dilakukan dengan pendekatan yang inklusif agar tidak tergerus modernisasi.
Kompleks makam dan petilasan di Gunung Kawi hingga kini tetap terjaga dengan baik berkat partisipasi aktif warga dan para peziarah. Bahkan, ritual-ritual yang digelar secara rutin seperti Selikuran dan Syuroan menjadi magnet tersendiri yang menarik ribuan orang. Laporan dari media kami mencatat bahwa pada periode liburan atau momen tertentu, jumlah kunjungan bisa mencapai puluhan ribu orang dalam semalam, yang secara langsung menggerakkan roda ekonomi desa-desa di lereng gunung.
Dengan pandangan pemerintah yang terbuka terhadap keberagaman ekspresi budaya, diharapkan situs-situs tradisi seperti Gunung Kawi dapat terus lestari dan memberikan manfaat berkelanjutan. Fadli Zon menegaskan bahwa selama kegiatan tersebut berlangsung dalam koridor positif, negara akan tetap mengakomodasi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Comments (0)