Sep 17, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Eric de Chassey Kritik Konstruksi Palsu Seni Selatan Global

Di tengah ruang diskusi yang dipenuhi para akademisi dan praktisi budaya di Buenos Aires, perdebatan mendasar mengenai arah sejarah seni global kembali men

Eric de Chassey Kritik Konstruksi Palsu Seni Selatan Global

Di tengah ruang diskusi yang dipenuhi para akademisi dan praktisi budaya di Buenos Aires, perdebatan mendasar mengenai arah sejarah seni global kembali mencuat. Kedatangan sejarawan seni kenamaan asal Prancis sekaligus Direktur Institut National d'Histoire de l'Art (INHA), Eric de Chassey, membawa gelombang analisis kritis yang menguncang kemapanan wacana kuratorial kontemporer. Dalam kunjungannya ke ibu kota Argentina tersebut, de Chassey membongkar narasi yang kini tengah populer di panggung seni dunia: konsep "Selatan Global" (Global South).

Selama dua dekade terakhir, institusi seni internasional berlomba-lomba mengadopsi istilah Selatan Global sebagai bentuk dekolonisasi sejarah seni yang selama ini didominasi oleh narasi Barat (Occident). Namun, hasil amatan de Chassey menunjukkan bahwa langkah ini justru terjebak dalam kekeliruan epistemologis yang serupa. Bagi de Chassey, label Selatan Global merupakan sebuah konstruk buatan yang sama artifisialnya dengan gagasan tentang Barat yang selama ini menempatkan diri sebagai pusat gravitasi modernisme.

Mitos Geopolitik dalam Kurasi Kontemporer

Investigasi atas pandangan de Chassey mengungkapkan bahwa pembagian geografis dalam seni sering kali merupakan konstruksi pasar dan politik institusional ketimbang murni realitas estetis. Kurator global kerap menggeneralisasi keberagaman ekspresi dari Amerika Latin, Afrika, hingga Asia ke dalam satu koper besar bernama Selatan Global. Strategi ini, menurut de Chassey, bukannya membongkar hegemoni Barat, melainkan hanya menciptakan cermin oposisi yang sama kaku dan simplistis.

"Kategori 'Selatan Global' sering kali menjadi ilusi yang nyaman bagi pasar seni untuk mengomodifikasi perbedaan tanpa benar-benar memahami kompleksitas histories dan lokalitas yang ada," ujar Eric de Chassey dalam pemaparannya di Buenos Aires.

Dalam analisisnya, fenomena penyeragaman ini melanggengkan dikotomi biner yang tidak lagi relevan dengan cara seniman bekerja. Para kreator di Buenos Aires, São Paulo, atau kawasan berkembang lainnya memiliki jaringan pengaruh yang jauh lebih rumit, melintasi batas benua dan jaman tanpa harus selalu didefinisikan sebagai oposisi langsung dari Paris atau New York.

Perbandingan Paradigma Sejarah Seni

Untuk memahami kedalaman kritik yang diajukan oleh Eric de Chassey, berikut adalah pemetaan transformasi kerangka berpikir dalam kurasi dan sejarah seni kontemporer:

Paradigma Fokus Utama Keterbatasan Utama
Eurosentrisme (Barat) Eropa dan Amerika Utara dipandang sebagai pusat tunggal inovasi seni modern. Mengabaikan kontribusi serta kedaulatan estetika seniman di luar batas Barat.
Konstruksi Selatan Global Pengelompokan wilayah non-Barat sebagai bentuk perlawanan dan identitas kolektif. Menyeragamkan diferensiasi budaya lokal dan terjebak dalam dikotomi kaku.
Pendekatan Relational (De Chassey) Pemetaan jaringan mikro-sejarah yang spesifik dan pertukaran antar-wilayah. Membutuhkan riset mendalam tanpa ketergantungan pada label geografis cepat.

Tantangan Dekolonisasi Seni Masa Depan

Kunjungan Eric de Chassey ke Argentina memicu refleksi kritis bagi lembaga-lembaga kebudayaan lokal. Lebih dari 50 sejarawan seni dan praktisi budaya yang hadir dalam forum tersebut menyepakati bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah sekadar mengganti istilah lama dengan istilah baru, melainkan membongkar cara pandang geopolitik yang menyederhanakan karya seni.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada puncak era Modernisme abad ke-20, interaksi antara seniman Amerika Latin dan Eropa merupakan pertukaran dialektis yang sangat dinamis. Dengan mengurung karya seni dalam kerangka geografis yang kaku, kekayaan narasi individual dari setiap pencipta karya justru berisiko terhapus demi kepentingan kategorisasi pameran.

Pesan tegas de Chassey di Buenos Aires menjadi peringatan bagi dunia kuratorial internasional: dekolonisasi sejati tidak bisa dicapai hanya dengan mengganti kata "Barat" menjadi "Selatan Global". Yang dibutuhkan adalah pengakuan atas keunikan konteks dan jaringan mikro yang menghubungkan setiap seniman di panggung sejarah dunia.

Dalam kunjungan terbarunya ke Buenos Aires, sejarawan seni ternama Eric de Chassey menegaskan bahwa konsep "Selatan Global" adalah konstruksi artifisial yang tidak membongkar dominasi Barat, melainkan menciptakan dikotomi kaku baru. Simak analisis komprehensif mengenai pergeseran paradigma kuratorial seni modern hanya di Lurusin.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User