Oct 09, 2026
factcheck

Ego-Scrolling: Kebiasaan Sunyi di Aplikasi Kencan

Di tengah derasnya arus interaksi digital, perilaku baru pelan-pelan muncul di antara para pengguna aplikasi pencarian jodoh. Bukan jenis pesan yang dikirim, melainkan kebiasaan menelusuri deretan pro...

Ego-Scrolling: Kebiasaan Sunyi di Aplikasi Kencan

Di tengah derasnya arus interaksi digital, perilaku baru pelan-pelan muncul di antara para pengguna aplikasi pencarian jodoh. Bukan jenis pesan yang dikirim, melainkan kebiasaan menelusuri deretan profil tanpa tujuan yang jelas. Fenomena ini dikenal sebagai ego-scrolling, sebuah pola perilaku yang kian sulit diabaikan dalam studi perilaku daring.

Apa Itu Ego-Scrolling

Ego-scrolling menggambarkan aktivitas menggeser layar dari satu profil ke profil lain secara terus-menerus tanpa pernah bermaksud memulai percakapan, apalagi membangun relasi. Pengguna tidak mencari pasangan, tidak mengejar obrolan, dan tidak berharap ada balasan. Mereka hanya ingin melihat, memastikan, lalu menggeser lagi.

Secara tekstual, istilah ini merupakan gabungan dua unsur: kata yang merujuk pada kebutuhan meneguhkan diri, dan kata yang menggambarkan gerakan menelusuri. Ketika digabungkan, keduanya melukiskan seseorang yang menyerap perhatian semu dari layar untuk merasa masih diperhitungkan dalam pasar kencan.

Mengapa Perilaku Ini Muncul

Berbagai studi psikologi digital menunjukkan bahwa validasi dari orang asing dapat memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang. Satu notifikasi, satu kecocokan, atau sekadar tatapan yang terlihat di layar sudah cukup membuat seseorang merasa diterima.

Bias konfirmasi membuat pengguna terus menelusuri hanya untuk menemukan tanda-tanda bahwa dirinya masih menarik. Ketika profil yang digeser memunculkan reaksi positif, otak mencatat pengalaman itu sebagai bukti kepercayaan diri. Ketika tidak ada respons, pengguna cenderung menyalakan mekanisme pertahanan: menggeser lebih cepat, mengabaikan, lalu mencari pembenaran berikutnya.

Ciri-Ciri yang Sering Ditemui

Pengamat perilaku daring umumnya menyebut beberapa penanda yang mudah dikenali:

Pertama, sesi menelusuri profil berlangsung lama, tetapi tidak diakhiri dengan pesan apa pun. Kedua, jumlah profil yang dilihat jauh melebihi jumlah obrolan yang pernah dimulai. Ketiga, pengguna merasa puas setelah melihat banyak wajah, namun kosong ketika ditanya tentang siapa pun yang ingin dikenal lebih dekat.

Pola ini sering dijumpai pada orang yang sedang dalam masa pemulihan setelah putus hubungan, sedang merasa kesepian, atau sekadar ingin mengisi waktu luang tanpa komitmen.

Dampak terhadap Perasaan Diri

Meski terlihat ringan, kebiasaan ini membawa konsekuensi psikologis yang perlu dicermati. Eksposur berlebihan terhadap deretan profil sempurna memicu perbandingan sosial yang tidak sehat. Pengguna mulai menilai dirinya berdasarkan angka kecocokan, kualitas foto, atau panjang profil orang lain.

Lama-kelamaan, kepuasan yang didapat menjadi semu. Rasa percaya diri bertahan hanya selama layar masih dipegang. Begitu aplikasi ditutup, keraguan kembali datang tanpa pernah terselesaikan. Siklus ini berulang tanpa ujung.

Hubungan dengan Kualitas Hubungan

Dalam konteks hubungan jangka panjang, ego-scrolling dapat menghambat proses pendekatan yang tulus. Seseorang yang terbiasa menilai dari permukaan akan sulit bersabar ketika harus mengenal karakter, kebiasaan, dan nilai-nilai yang tidak terlihat dalam sekali lihat.

Riset perilaku daring menunjukkan bahwa semakin banyak pilihan yang tersaji, semakin rendah komitmen seseorang untuk memilih satu. Dalam literatur psikologi, kondisi ini dikenal sebagai paradoks kelebihan pilihan. Pilihan tak berujung justru membuat seseorang ragu untuk berhenti mencari.

Cara Mengenali dan Mengatasinya

Langkah pertama adalah mencatat durasi penggunaan dan jumlah profil yang dilihat dibandingkan dengan jumlah pesan yang dikirim. Jika angkanya jauh berbeda, ada indikasi kuat bahwa aktivitas tersebut lebih bersifat pelampiasan daripada pencarian.

Langkah kedua, tentukan tujuan sebelum membuka aplikasi. Menuliskan satu kalimat sederhana tentang alasan menggunakan layanan kencan dapat mengarahkan fokus. Langkah ketiga, batasi waktu telusur dan tetapkan satu orang untuk diajak bicara setiap sesi.

Menyadari bahwa kebutuhan akan validasi bisa dipenuhi lewat interaksi nyata jauh lebih menenangkan daripada menimbang puluhan profil. Bercakap dengan teman, menjalani hobi, atau sekadar berjalan tanpa ponsel sering kali mengembalikan rasa percaya diri yang stabil.

Penutup

Ego-scrolling bukan kejahatan, juga bukan tanda kerusakan moral. Ia hanyalah cerminan kecemasan modern yang mencari jalan pintas menuju rasa diterima. Namun tanpa kesadaran, kebiasaan kecil ini perlahan menggerus kemampuan seseorang untuk membuka diri secara tulus.

Memahami motif di balik setiap geseran layar adalah langkah pertama untuk mengubah pola tersebut menjadi interaksi yang lebih bermakna. Karena pada akhirnya, kehadiran diri yang dirasakan orang lain tidak bisa diganti dengan jumlah profil yang pernah dilihat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User