Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

DWP Tangsel Beri Edukasi Anti-Bullying di Hari Anak Nasional 2026

Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli tahun 2026 disambut dengan seruan tegas oleh Dharma Wanita Persatuan Kecamatan Tangerang Selatan (DWP Tangsel). Berbeda dari perayaan biasanya yang berisi ...

DWP Tangsel Beri Edukasi Anti-Bullying di Hari Anak Nasional 2026

Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli tahun 2026 disambut dengan seruan tegas oleh Dharma Wanita Persatuan Kecamatan Tangerang Selatan (DWP Tangsel). Berbeda dari perayaan biasanya yang berisi hiburan, DWP Tangsel kali ini mengedepankan isu krusial di dunia pendidikan anak: perundungan atau bullying. Acara yang berlokasi di ruang serbaguna SDN Ciputat 01 ini dihadiri oleh ratusan siswa, guru, serta perwakilan orang tua.

Latar Belakang dan Tujuan Kegiatan

Ketua DWP Tangsel dalam sambutannya menjelaskan pemilihan tema anti-bullying dirasa sangat mendesak. Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni) yang dikelola Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, terdapat peningkatan laporan kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah selama setahun terakhir. Sementara itu, penelitian internal DWP Tangsel menunjukkan bahwa 4 dari 10 anak di kota ini pernah mengalami minimnya bentuk perundungan, baik secara langsung maupun daring. Kami tidak bisa tinggal diam, kata dia. Hari Anak Nasional bukan hanya perayaan, tapi momentum untuk mengingatkan hak anak atas rasa aman.

Pembagian Alat Tulis: Semangat Belajar di Hari Istimewa

Pada sesi awal, seluruh siswa mendapatkan paket alat tulis yang dibungkus dengan gambar karakter lucu. Setiap paket berisi buku, pulpen, pensil warna, penggaris, dan kartu ucapan semangat. Yang melekat erat di mata siswa adalah stiker bertuliskan Say No to Bullying yang diletakkan di setiap sampul. Menurut pengurus DWP, pemilihan alat tulis sebagai simbol dikarenakan buku adalah pelindung anak dari kebodohan, namun anak juga butuh perlindungan dari rasa takut. Sepanjang pembagian, para relawan bercengkrama dengan anak-anak tentang pengalaman mereka di sekolah.

Edukasi Interaktif: Mengenali dan Melawan Bullying

Puncak acara adalah workshop pencegahan bullying yang dipandu oleh psikolog anak dan fasilitator dari DWP. Anak-anak diajak berlatih membedakan antara candaan yang sehat dengan perbuatan yang menyakiti teman. Mereka dibagi ke dalam kelompok kecil untuk berdiskusi dan memainkan skenario. Seorang siswa, Raka, 10 tahun, berbagi cerita tentang temannya yang sering diejek karena postur tubuhnya. Para fasilitator kemudian menjelaskan teknik talking-reporting, yaitu cara bercerita kepada orang dewasa yang dipercayai. Workshop ini menggunakan media video pendek dan boneka tangan untuk menangkap perhatian anak-anak. Kami belajar untuk langsung bilang Stop dan melaporkan, kata Raka sambil tersenyum.

Peran Sekolah dan Orang Tua dalam Gerakan Anti-Bullying

Selain untuk siswa, DWP juga mengadakan sesi khusus bagi guru dan wali murid. Diskusi ini membahas kemitraan segitiga antara anak, sekolah, dan rumah dalam mencegah perundungan. Para guru didorong untuk menghidupkan budaya lapor cepat dan bersikap tegas terhadap tanda-tanda perundungan. Sedangkan orang tua diajak untuk lebih sering mengomunikasikan aktivitas anak, termasuk di media sosial. DWP memperkenalkan inisiatif Kurir Peduli, yaitu kotak pesan rahasia di setiap kelas yang bisa diisi anak-anak untuk melaporkan keluhan mereka tanpa takut ketahuan pelaku. Kotak ini akan dipantau rutin oleh tim guru bimbingan konseling yang sebelumnya telah dilatih DWP.

Komitmen Jangka Panjang DWP Tangsel

Acara tidak berhenti di peringatan Hari Anak Nasional. DWP Tangsel mengumumkan komitmen jangka panjang melalui program Sekolah Ramah Anak yang direncanakan merambah ke seluruh kelurahan di Tangerang Selatan. Dalam program ini, DWP akan menyediakan buku saku tentang hak anak dan mekanisme pelaporan, serta mengadakan pelatihan untuk kader guru di setiap kecamatan. Kami juga akan membuat nomor hotline rahasia yang dapat diakses anak-anak dengan melapor via pesan teks tanpa perlu menyebut nama, ungkap ketua bidang pendidikan DWP.

Sebagai bagian dari komitmen ini, setiap sekolah yang berpartisipasi diwajibkan menggelar sesi anti-bullying secara berkala. DWP akan mengirim tim pemantau independen untuk memastikan implementasinya. Semua ini didanai melalui kemitraan dengan pemerintah kota dan donatur swasta yang peduli pada isu perlindungan anak.

Harapan dan Dampak Langsung di Lapangan

Meski baru saja digulirkan, suasana di SDN Ciputat 01 menunjukkan perubahan kecil namun bermakna. Beberapa anak terlihat berpelukan dan saling mendukung setelah sesi, dan poster-poster anti-bullying yang diberikan DWP sudah dipajang di dinding kelas. Kepala sekolah mengatakan pihaknya akan menjadwalkan mingguan anti-bullying yang melibatkan seluruh siswa dalam kampanye kebaikan. Satu kata kasar bisa menghancurkan, tapi sepuluh kata baik bisa menyelamatkan, jelasnya.

Sejumlah orang tua mengaku baru tersadar pentingnya mengamati pola interaksi anak. Ibu Santi, seorang wali murid, mengungkapkan kadang kita hanya lihat rapor, lupa perasaan anak. Acara ini membuka mata kami. Dengan begitu, tujuan DWP Tangsel bukan hanya membagikan alat tulis, tetapi menanam benih kebaikan yang akan melindungi generasi mendatang.

DWP Tangsel berharap kegiatan semacam ini menjadi gerakan nasional. Dengan Hari Anak Nasional 2026 sebagai awal, diharapkan seluruh elemen masyarakat dapat bersatu menuntaskan kebiasaan bullying. Sebab, anak yang nyaman bersekolah akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan peduli terhadap sesama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User