Gempa yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya meruntuhkan bangunan dan memutus akses jalan. Di tengah puing-puing dan ketakutan, denyut pelayanan kesehatan tetap hidup berkat tangan-tangan yang tidak pernah berhenti bekerja. Bidan dan perawat menjadi garda terdepan yang menahan beban terbesar dalam evakuasi dan perawatan para korban, meskipun harus bekerja dengan fasilitas yang jauh dari kata memadai.
Pelayanan Kesehatan dalam Keterbatasan
Pascagempa, fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah Flores mengalami kerusakan berat. Puskesmas dan pos kesehatan darurat didirikan seadanya, sebagian besar hanya beratap terpal dengan peralatan terbatas. Berdasarkan pantauan di lapangan, stok obat-obatan menjadi barang yang paling diperebutkan, sementara alat-alat medis seperti tabung oksigen dan alat jahit luka jumlahnya sangat terbatas.
Dalam kondisi seperti ini, triase menjadi langkah awal yang harus dijalankan. Pasien dengan luka ringan diarahkan ke tenda perawatan, sementara korban dengan cedera berat harus segera dirujuk ke rumah sakit rujukan yang jaraknya bisa ditempuh berjam-jam. Bidan dan perawat yang bertugas dituntut mengambil keputusan cepat di bawah tekanan, sering kali tanpa supervisi langsung dari dokter karena jumlah tenaga dokter yang minim.
Keterbatasan bukan hanya soal alat dan obat. Pasokan listrik yang terputus membuat sebagian prosedur medis harus dilakukan dengan penerangan seadanya. Air bersih pun menjadi persoalan tersendiri, sehingga kebersihan alat dan penanganan luka harus dijaga ekstra ketat untuk mencegah infeksi sekunder. Data menunjukkan bahwa dalam dua pekan pertama pascagempa, sebagian besar keluhan pasien berkisar pada luka terbuka, patah tulang, dan trauma psikologis.
Bidan dan Perawat: Pahlawan yang Tidak Kenal Lelah
Di tengah minimnya jumlah dokter, bidan dan perawat mengambil peran yang jauh melampaui tupoksi mereka. Seorang bidan di pos kesehatan darurat tidak hanya menangani persalinan, tetapi juga merawat pasien luka bakar, memasang infus, hingga mendampingi pasien lanjut usia yang mengalami syok. Perawat yang biasanya bertugas di poli umum kini merangkap menjadi petugas IGD, apoteker, dan konselor trauma sekaligus.
Solidaritas menjadi kata kunci. Bidan dan perawat saling bahu-membahu tanpa memandang jam kerja. Banyak di antara mereka yang memilih tinggal di tenda dekat pos kesehatan agar dapat merespons keadaan darurat kapan pun dibutuhkan. Keluarga mereka sendiri ikut terdampak gempa, tetapi pengabdian kepada pasien ditempatkan di urutan pertama. Ini bukan sekadar tugas profesional, melainkan panggilan kemanusiaan yang dijalankan dengan penuh kesungguhan.
Peran mereka juga meluas hingga ke penanganan ibu hamil dan bayi baru lahir. Dalam situasi darurat, risiko persalinan berisiko tinggi meningkat drastis. Bidan di lapangan harus melakukan asuhan persalinan dengan alat seadanya, sekaligus memastikan imunisasi dasar dan gizi bayi tetap terpenuhi di pengungsian. Data menunjukkan tidak sedikit bayi lahir dalam tenda darurat, dan seluruh prosesnya ditangani oleh bidan dengan dukungan perawat.
Keterbatasan Dokter dan Beban Ganda Tenaga Medis
Jumlah dokter di wilayah terdampak sangat terbatas. Sebagian dokter yang bertugas di puskesmas ikut menjadi korban atau kesulitan menjangkau lokasi karena akses jalan yang rusak. Akibatnya, satu orang dokter harus melayani ratusan pasien dalam sehari, sementara bidan dan perawat mengambil alih penanganan kasus-kasus yang seharusnya bisa ditangani lebih cepat.
Rujukan menjadi jalur penyelamatan. Pasien dengan kondisi kritis dikirim ke rumah sakit daerah menggunakan ambulans, mobil dinas, bahkan kendaraan pribadi yang disiagakan warga. Namun, perjalanan rujukan tidak selalu mulus. Jembatan putus dan longsor menutup sebagian jalur, sehingga tim medis kerap harus berganti kendaraan atau berjalan kaki membawa pasien. Dalam kondisi tersebut, perawat dituntut melakukan stabilisasi pasien di sepanjang perjalanan tanpa alat bantu yang lengkap.
Beban ganda juga dirasakan secara psikologis. Tenaga kesehatan yang sehari-hari menangani korban, pada malam hari harus menghadapi kenyataan bahwa rumah dan harta benda mereka ikut hancur. Meski demikian, data menunjukkan tingkat kehadiran tenaga kesehatan di pos-pos darurat tetap tinggi. Pengabdian mereka menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan, komitmen kemanusiaan tidak pernah surut.
Harapan di Tengah Duka
Bantuan mulai berdatangan dari berbagai daerah, baik logistik, obat-obatan, maupun tenaga kesehatan tambahan. Namun, proses pemulihan tidak bisa instan. Perlu ada perhatian serius pada kesehatan jangka panjang para korban, termasuk trauma psikologis yang akan membekas jauh setelah puing-puing dibersihkan.
Kisah pengabdian bidan dan perawat di Flores adalah pengingat bahwa sistem kesehatan tidak hanya berdiri di atas gedung dan peralatan, tetapi di atas manusia-manusia yang memilih bertahan. Berdasarkan verifikasi di lapangan, mereka tidak menunggu instruksi; mereka bergerak sejak menit pertama gempa berhenti berguncang. Di tengah duka, kehadiran mereka adalah harapan yang paling nyata bagi ribuan korban yang masih berjuang untuk pulih.
Comments (0)