Oct 08, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Dunia Kerja Modern dan Pencarian Makna di Balik Rutinitas Harian

Setiap hari, jutaan orang menyeberangi jalanan pada jam yang hampir sama, membangunkan alarm sebelum matahari, lalu menempuh perjalanan panjang menuju tempat kerja. Rutinitas itu begitu melekat sehing...

Dunia Kerja Modern dan Pencarian Makna di Balik Rutinitas Harian

Setiap hari, jutaan orang menyeberangi jalanan pada jam yang hampir sama, membangunkan alarm sebelum matahari, lalu menempuh perjalanan panjang menuju tempat kerja. Rutinitas itu begitu melekat sehingga sering kali berjalan tanpa pertanyaan besar lagi: untuk apa, dan ke mana arahnya. Namun belakangan, percakapan soal makna bekerja kembali mengemuka, tidak hanya di kalangan pekerja muda tetapi juga di kalangan profesional yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia karier.

Perubahan pola kerja pasca pandemi menjadi salah satu pemicu. Fleksibilitas jam kerja, pekerjaan jarak jauh, dan ketersediaan beragam jalur karier membuat orang mulai mempertimbangkan ulang apa yang sebenarnya mereka kejar. Pertanyaan sederhana namun mendalam muncul: seberapa besar jabatan, gaji, dan daftar pencapaian menentukan nilai diri seseorang?

Ketika Pencapaian Jadi Ukuran Diri

Di banyak budaya kerja, identitas profesional hampir tidak terpisahkan dari identitas personal. Seseorang diperkenalkan melalui jabatannya, perusahaan tempatnya bekerja, dan proyek yang pernah ditanganinya. Prestise itu, dalam batas tertentu, memberi rasa aman sekaligus pengakuan sosial.

Namun pola ini juga membawa konsekuensi yang tidak selalu terlihat. Ketika seluruh harga diri bertumpu pada target kuartal, promosi, atau pujian atasan, satu kegagalan kecil bisa terasa seperti krisis eksistensial. Keterikatan berlebihan antara pencapaian karier dan nilai diri membuat seseorang rentan terhadap kecemasan, terutama di periode ketika perusahaan melakukan restrukturisasi atau ketika jalur karier mengalami jalan buntu.

Para praktisi psikologi kerja menyebut fenomena ini sebagai pola penghargaan diri yang bergantung pada kondisi. Dalam pengaturan seperti itu, kasih sayang terhadap diri sendiri hanya muncul ketika hasil memuaskan, dan hilang begitu hasilnya di bawah ekspektasi. Lama-kelamaan, pola ini menggerus kapasitas seseorang untuk bertahan menghadapi tekanan.

Ekspektasi Atasan dan Realitas Organisasi

Di sisi organisasi, tuntutan terhadap karyawan terus berevolusi. Produktivitas, inovasi, dan kolaborasi menjadi metrik yang diukur hampir di semua tingkatan. Pendekatan berbasis angka ini efisien untuk menilai kinerja, tetapi tidak selalu menggambarkan kontribusi yang lebih halus, seperti membina rekan kerja baru, menjaga iklim tim, atau mencegah masalah sebelum terjadi.

Ketika ekspektasi atasan tidak diimbangi dengan komunikasi yang jelas, pekerja sering kali mengisi ruang kosong tersebut dengan asumsi. Mereka menduga bahwa kecepatan harus selalu tinggi, bahwa kesalahan tidak boleh terjadi, dan bahwa ketersediaan di luar jam kerja merupakan bukti kesetiaan. Ekspektasi yang tidak eksplisit ini memicu kelelahan kronis dan menurunkan kualitas keputusan.

Sejumlah organisasi mulai menyadari hal itu. Beberapa perusahaan menerapkan periode tanpa rapat, membatasi komunikasi di akhir pekan, atau memperkenalkan penilaian kinerja berbasis hasil jangka panjang. Pendekatan semacam ini berupaya memisahkan nilai pekerjaan dari kehadiran fisik semata.

Bukan Berarti Ambisi Tidak Penting

Perlu ditegaskan bahwa kritik terhadap budaya kerja berlebihan bukan berarti menolak ambisi. Membangun karier, mengasah keahlian, dan meraih posisi lebih tinggi tetap menjadi dorongan yang sehat. Yang dipersoalkan adalah bila seluruh identitas seseorang terjepit di dalamnya.

Para peneliti organisasi sering menekankan pentingnya sumber nilai yang beragam. Ketika seseorang memiliki jaringan sosial di luar kantor, hobi yang digeluti dengan serius, tanggung jawab keluarga, atau keterlibatan komunitas, ia memiliki lebih banyak titik penopang ketika karier mengalami guncangan. Diversifikasi sumber makna membuat seseorang lebih tahan terhadap gejolak profesional.

Penting juga membedakan antara dorongan berasal dari minat dan dorongan berasal dari ketakutan. Bekerja karena ingin berkembang menghasilkan energi berbeda dibanding bekerja karena takut tertinggal. Keduanya bisa menghasilkan kinerja serupa dalam jangka pendek, tetapi dampaknya terhadap kesehatan mental sangat kontras.

Membangun Hubungan Sehat dengan Pekerjaan

Ada beberapa langkah praktis yang kerap disarankan oleh konseling karier. Pertama, meninjau ulang definisi kesuksesan secara berkala, termasuk menuliskannya secara tertulis agar tidak sekadar mengikuti definisi orang lain. Kedua, menjaga pemisahan yang wajar antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, bukan dalam arti kaku, melainkan agar keduanya tidak saling menelan.

Ketiga, membicarakan beban kerja secara terbuka dengan atasan sebelum mencapai titik kelelahan. Banyak konflik di tempat kerja sebenarnya berasal dari asumsi yang tidak pernah diuji. Keempat, mengenali tanda-tanda bahwa pekerjaan mulai mengambil alih seluruh aspek kehidupan, seperti sulitnya menikmati waktu tanpa memeriksa notifikasi.

Di akhir perjalanan, karier tetaplah salah satu bagian penting dalam kehidupan seseorang, tetapi bukan satu-satunya penentu harga diri. Dunia kerja akan terus berubah, aturan main akan terus diperbarui, dan tidak ada posisi yang abadi. Yang bertahan justru kemampuan seseorang untuk menilai dirinya di luar jabatan yang ia pegang.

Dinamika itu menuntut kesadaran, bukan penolakan. Tetap berprestasi, tetap mengejar target, namun dengan pemahaman bahwa diri seseorang jauh lebih luas daripada daftar pencapaian yang tercatat di dalam berkas kinerja.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User