Sep 03, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Dua Kali Kolaps Beruntun, Jamal Musiala Didiagnosis Kejang Absans

Munchen — Gelandang muda Bayern Munchen, Jamal Musiala, menjadi sorotan dunia sepak bola setelah mengalami dua kali kolaps di lapangan dalam dua pertandingan beruntun. Insiden pertama terjadi saat B...

Dua Kali Kolaps Beruntun, Jamal Musiala Didiagnosis Kejang Absans

Munchen — Gelandang muda Bayern Munchen, Jamal Musiala, menjadi sorotan dunia sepak bola setelah mengalami dua kali kolaps di lapangan dalam dua pertandingan beruntun. Insiden pertama terjadi saat Bayern menjamu Holstein Kiel di Bundesliga pada awal September 2025. Insiden kedua terulang hanya berselang tiga hari, ketika tim bersua Borussia Dortmund dalam laga bertajuk Der Klassiker. Setelah rangkaian pemeriksaan medis yang mendalam, klub akhirnya mengonfirmasi bahwa pemain berusia 22 tahun itu mengalami kejang absans, sebuah gangguan aktivitas listrik otak yang bersifat sementara namun menuntut penanganan serius.

Kronologi Dua Insiden yang Menghentikan Pertandingan

Insiden pertama terjadi pada pertandingan melawan Holstein Kiel. Tanpa ada kontak fisik dengan pemain lawan, Musiala tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh di tengah lapangan. Staf medis Bayern segera masuk memberikan pertolongan pertama, dan pemain tim nasional Jerman itu sempat menjalani pemeriksaan di pinggir lapangan sebelum akhirnya digantikan. Meski kondisinya sempat dinyatakan stabil dan pemain kembali diizinkan tampil, kejadian itu belum menjadi alarm besar bagi publik.

Namun tiga hari kemudian, dalam laga tandang melawan Borussia Dortmund yang berakhir tanpa gol, Musiala kembali ambruk. Insiden yang sama, kembali tanpa kontak fisik, membuat pertandingan sempat terhenti. Ia digantikan dan langsung menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dua insiden dalam waktu berdekatan inilah yang mendorong Bayern melakukan investigasi medis menyeluruh terhadap kondisi gelandang serang andalannya.

Kejang Absans: Kejang Singkat yang Sering Tidak Disadari

Kejang absans, yang dalam istilah medis disebut absence seizure, adalah jenis kejang yang ditandai dengan hilangnya kesadaran secara singkat dan mendadak. Penderitanya tampak seperti melamun, tatapan kosong, dan tidak merespons panggilan selama beberapa detik, lalu kembali normal seolah tidak terjadi apa-apa. Berbeda dengan kejang grand mal yang disertai getaran hebat di seluruh tubuh, kejang absans tidak melibatkan gerakan menyentak yang khas, sehingga kerap luput dari perhatian orang di sekitarnya.

Menurut literatur medis, kondisi ini terjadi akibat ledakan aktivitas listrik abnormal yang singkat di otak. Serangan dapat berlangsung hanya lima hingga sepuluh detik, tetapi dalam kasus tertentu bisa terjadi puluhan kali dalam sehari. Kejang absans lebih lazim ditemukan pada anak-anak berusia empat hingga empat belas tahun, dan kasus yang baru muncul pada usia dewasa seperti yang dialami Musiala relatif lebih jarang. Faktor pemicu seperti kelelahan, kurang tidur, stres, dan napas berlebihan diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan.

Bahaya utama dari kejang jenis ini bukan terletak pada kejangnya sendiri, melainkan pada momen hilangnya kesadaran yang bisa terjadi kapan saja. Bagi seorang atlet yang sedang berlari di kecepatan penuh, kehilangan kesadaran selama beberapa detik dapat berakibat fatal. Inilah yang membuat staf medis Bayern mengambil langkah penanganan yang sangat hati-hati.

Langkah Bayern Munchen dan Penanganan Medis

Setelah serangkaian tes di departemen medis klub, Bayern Munchen mengumumkan bahwa Musiala akan absen dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan. Klub menegaskan bahwa kepulangan pemain ke lapangan akan bergantung pada respons tubuhnya terhadap pengobatan. Pelatih kepala Vincent Kompany pun menegaskan bahwa kesehatan pemain menjadi prioritas utama dan klub tidak akan terburu-buru memaksakan pemainnya kembali tampil sebelum dinyatakan benar-benar aman.

Penanganan standar untuk kejang absans umumnya menggunakan obat antiepilepsi seperti etosuksimid, asam valproat, atau lamotrigin. Sebagian besar pasien merespons pengobatan dengan baik, dan banyak di antaranya mampu menjalani kehidupan normal tanpa serangan setelah terapi berjalan. Pada kasus anak-anak, sebagian penderita bahkan dilaporkan mengalami perbaikan seiring bertambahnya usia.

Prognosis dan Harapan Kembali ke Lapangan

Kabar baiknya, kejang absans bukanlah kondisi yang mengancam jiwa secara langsung, dan banyak atlet profesional di berbagai cabang olahraga yang tetap mampu melanjutkan karier setelah kondisinya terkendali melalui pengobatan rutin. Kuncinya terletak pada diagnosis yang akurat, kepatuhan minum obat, serta manajemen faktor pemicu seperti pola tidur dan tingkat stres.

Musiala kemudian dilaporkan kembali menjalani latihan bersama tim dan perlahan mengembalikan ritme permainannya. Meski demikian, pengawasan ketat terhadap kondisinya diperkirakan akan terus dilakukan, baik oleh tim medis Bayern maupun oleh staf tim nasional Jerman yang kerap memanggilnya.

Kasus Musiala menjadi pengingat bahwa kesehatan pemain selalu berada di atas segalanya, jauh melampaui tuntutan kompetisi. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat menjadi kunci agar sang gelandang muda bisa kembali bermain dengan aman, tanpa harus mengorbankan masa depan kariernya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User