Dua Desa di Sukabumi Kini Miliki Akses Air Bersih
SUKABUMI – Dua permukiman di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, resmi menikmati aliran air bersih berkat rampungnya pembangunan infrastruktur yang digagas oleh kolaborasi lembaga internasional dan nasi...
SUKABUMI – Dua permukiman di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, resmi menikmati aliran air bersih berkat rampungnya pembangunan infrastruktur yang digagas oleh kolaborasi lembaga internasional dan nasional. Desa Padabeunghar di Kecamatan Jampang Tengah serta Kampung Gunung Geulis di Kecamatan Cisolok menjadi saksi perubahan signifikan setelah bertahun-tahun menghadapi krisis air.
Jejak Panjang Krisis Air
Sebelum proyek ini hadir, warga di kedua titik itu harus menempuh jarak berkilo-kilo hanya untuk mendapatkan air layak konsumsi. Di Desa Padabeunghar, sumber air terdekat adalah mata air yang mengering saat kemarau, memaksa penduduk mengantre berjam-jam di sumur dangkal yang kerap keruh. Kondisi serupa dialami Kampung Gunung Geulis, di mana akses air bersih hanya tersedia melalui truk tangki dengan biaya yang membebani keluarga berpenghasilan rendah. Data dari puskesmas setempat menunjukkan tingginya kasus diare dan penyakit kulit akibat konsumsi air tidak higienis selama tiga tahun terakhir.
Intervensi Teknologi Tepat Guna
Proyek yang dieksekusi oleh Yayasan Wafaa Indonesia dengan dukungan pendanaan dari Grundfos Foundation ini menerapkan sistem gravitasi yang memanfaatkan sumber mata air di ketinggian. Air dialirkan melalui jaringan pipa menuju tandon utama bertenaga surya, lalu didistribusikan ke keran-keran komunal dan titik sambungan rumah tangga. Teknologi pompa sumur dalam juga dipasang sebagai cadangan ketika debit mata air menurun. Total lebih dari 2.500 jiwa kini terlayani oleh infrastruktur ini, dengan kapasitas suplai mencapai 20 liter per detik di setiap lokasi.
Keunggulan sistem ini terletak pada kemandirian energi. Panel surya yang dipasang di atap bangunan tandon menjamin pompa tetap beroperasi tanpa bergantung pada jaringan listrik konvensional. Selain itu, unit pengolahan sederhana dengan filter bertingkat memastikan air yang keluar telah memenuhi standar kualitas air minum.
Warga Ambil Alih Pengelolaan
Aspek pemberdayaan menjadi inti keberlanjutan proyek. Sejak tahap konstruksi, warga dilibatkan dalam pengerjaan galian pipa, pengecoran bak, dan pelatihan perawatan. Kini, kelompok pengelola air bentukan warga telah terbentuk di kedua desa. Mereka bertanggung jawab atas operasional harian, mulai dari pemantauan debit, pembersihan filter, hingga penagihan iuran bulanan yang ditetapkan melalui musyawarah desa. Iuran tersebut sepenuhnya digunakan untuk perawatan dan penggantian suku cadang, tanpa intervensi dari pihak luar.
“Kami tidak menyerahkan alat lalu pergi. Kami menyerahkan keterampilan dan tata kelola agar air ini terus mengalir untuk generasi selanjutnya,” ujar perwakilan Yayasan Wafaa Indonesia saat peresmian fasilitas.
Efek Domino Sosial dan Ekonomi
Kehadiran air bersih tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menghidupkan aktivitas ekonomi. Di Padabeunghar, petani sayur kini bisa menyiram tanaman secara teratur, meningkatkan hasil panen. Di Gunung Geulis, ibu-ibu membentuk kelompok usaha mikro pembuatan minuman kemasan berbahan baku hasil kebun lokal karena sudah tidak khawatir air terkontaminasi. Waktu yang semula habis untuk mencari air beralih menjadi jam produktif untuk pendidikan, keterampilan, dan pendapatan tambahan.
Dari sisi kesehatan, bidan desa melaporkan penurunan kunjungan akibat penyakit terkait air kotor. Program sanitasi berbasis masyarakat yang diinisiasi bersamaan dengan proyek ini ikut memperkuat kesadaran mencuci tangan dan menjaga kebersihan lingkungan. Sekolah-sekolah yang dulu kesulitan menyediakan air untuk keperluan dasar kini bisa menjalankan program UKS dengan lebih layak.
Model Replikasi untuk Daerah Lain
Keberhasilan di dua lokasi ini menjadi cetak biru bagi daerah dengan tantangan serupa di Jawa Barat. Pemerintah Kabupaten Sukabumi berencana mengintegrasikan unit pengelola air bentukan warga ke dalam struktur Badan Usaha Milik Desa agar mendapatkan dukungan dana desa secara berkelanjutan. Sementara itu, Grundfos Foundation menyatakan komitmennya untuk melanjutkan pendampingan teknis dan mengevaluasi potensi perluasan ke desa-desa tetangga yang masih masuk dalam kategori rawan air.
Dengan beroperasinya fasilitas air bersih di Padabeunghar dan Gunung Geulis, harapan baru muncul: bahwa air bukan lagi kemewahan, melainkan hak yang bisa digapai melalui kolaborasi tepat sasaran dan partisipasi masyarakat.
Comments (0)