Dua Dekade Manggala Agni: Garda Terdepan Melawan Karhutla Sumsel

Selama dua puluh tahun terakhir, nama Mat Jay telah menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Sebagai anggota tim Manggala Agni...

Dua Dekade Manggala Agni: Garda Terdepan Melawan Karhutla Sumsel

Selama dua puluh tahun terakhir, nama Mat Jay telah menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Sebagai anggota tim Manggala Agni, ia telah melalui berbagai operasi pemadaman yang menuntut kesiapan fisik dan mental dalam situasi darurat. Berdasarkan verifikasi terhadap catatan operasional dan wawancara lapangan, pengabdiannya mencerminkan realitas kerja petugas pemadam yang seringkali berada di garis terdepan tanpa henti.

Kesiapan 24 Jam: Rutinitas yang Menjadi Nyawa Operasi

Klaim bahwa tim Manggala Agni di Sumsel siap siaga selama 24 jam bukanlah sekadar slogan. Faktanya adalah, sistem piket dan respons cepat telah menjadi protokol tetap yang dijalankan oleh seluruh anggota, termasuk Mat Jay. Data menunjukkan bahwa setiap regu diwajibkan untuk melakukan patroli terpadu dan pemantauan titik panas (hotspot) melalui citra satelit secara berkala. Dalam praktiknya, kesiapan ini berarti setiap anggota harus mampu berangkat ke lokasi kebakaran dalam waktu kurang dari satu jam setelah laporan diterima. Hal ini bertentangan dengan anggapan bahwa penanganan karhutla hanya dilakukan saat musim kemarau tiba; nyatanya, pemadaman dini dan pencegahan justru menjadi fokus utama sepanjang tahun.

Pengalaman Mat Jay menunjukkan bahwa operasi pemadaman tidak pernah berjalan mulus. Berdasarkan verifikasi dari laporan kejadian, tantangan terbesar bukan hanya api, melainkan juga kondisi lahan gambut yang sulit dipadamkan karena api dapat membara di bawah permukaan. Tim harus menggunakan teknik pembasahan dan pemompaan air dari kanal atau sumur bor, yang membutuhkan koordinasi ketat. Dalam banyak kasus, tim bekerja bergiliran selama puluhan jam tanpa istirahat, dengan logistik yang harus dikirim langsung ke lokasi terpencil. Hal ini menegaskan bahwa peran Manggala Agni lebih dari sekadar pemadam; mereka adalah unit respons cepat yang juga bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.

Dua Dekade Pengabdian: Antara Dedikasi dan Risiko Lapangan

Klaim bahwa dua puluh tahun adalah waktu yang lama untuk bertahan di posisi yang penuh risiko memang tidak berlebihan. Faktanya adalah, tingkat perputaran (turnover) anggota di unit pemadam seringkali tinggi karena tekanan fisik dan psikologis. Namun, Mat Jay memilih bertahan, dan pengalamannya menjadi bukti bahwa dedikasi jangka panjang dapat terbangun jika didukung oleh sistem yang jelas. Berdasarkan wawancara dengan rekan sejawat, ia dikenal sebagai salah satu yang paling paham tentang karakteristik lahan di Sumsel, mulai dari hidrologi gambut hingga pola arah angin yang memengaruhi penyebaran api. Pengetahuan ini tidak diperoleh dari pelatihan formal semata, melainkan dari akumulasi pengalaman di lapangan yang tidak ternilai harganya.

Data menunjukkan bahwa dalam dua dekade terakhir, luas karhutla di Sumsel mengalami fluktuasi signifikan, dengan puncak kebakaran besar terjadi pada tahun 2015 dan 2019. Pada periode-periode tersebut, tim Manggala Agni dikerahkan ke berbagai kabupaten seperti Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, dan Banyuasin. Operasi pemadaman saat itu melibatkan ratusan personel gabungan, termasuk TNI, Polri, dan relawan. Namun, peran inti tetap berada di tangan Manggala Agni yang memiliki akses langsung ke peralatan berat seperti pompa apung dan selang berdiameter besar. Verifikasi atas catatan logistik menunjukkan bahwa kesiapan alat menjadi faktor kunci yang menentukan keberhasilan pemadaman, dan hal ini sejalan dengan apa yang dialami Mat Jay sepanjang kariernya.

Realitas di Lapangan: Bukan Hanya Melawan Api

Bertentangan dengan narasi heroik yang sering digambarkan, pekerjaan Mat Jay juga penuh dengan tantangan administratif dan koordinasi lintas sektor. Klaim bahwa pemadaman karhutla hanya soal menyiram air adalah tidak akurat. Faktanya adalah, setiap operasi harus didokumentasikan secara rinci, mulai dari titik koordinat, estimasi luas area, hingga jumlah personel yang terlibat. Laporan-laporan ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk evaluasi dan perencanaan anggaran. Selain itu, tim juga harus berhadapan dengan kendala akses jalan yang rusak dan keterbatasan sumber air di musim kemarau. Dalam situasi seperti ini, improvisasi menjadi keterampilan yang wajib dimiliki.

Lebih jauh, pengalaman Mat Junani—sebutan akrabnya—menunjukkan bahwa edukasi kepada masyarakat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tugasnya. Banyak kebakaran terjadi akibat praktik membuka lahan dengan cara membakar, yang meskipun dilarang, masih sering dilakukan. Oleh karena itu, tim Manggala Agni secara rutin melakukan patroli terpadu sambil memberikan penyuluhan tentang bahaya karhutla dan sanksi hukum yang berlaku. Berdasarkan data kepatuhan, wilayah yang sering dikunjungi tim ini menunjukkan penurunan jumlah titik api dalam beberapa tahun terakhir, meskipun masih belum signifikan. Hal ini menegaskan bahwa upaya pemadaman tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku masyarakat, dan di sinilah peran petugas seperti Mat Jay menjadi sangat strategis.

Kesimpulannya, pengabdian Mat Jay selama 20 tahun di Manggala Agni adalah cerminan dari kerja keras kolektif yang seringkali tidak terlihat. Klaim bahwa tim ini siap siaga 24 jam adalah benar, berdasarkan verifikasi protokol operasional dan kesaksian langsung. Namun, yang lebih penting adalah memahami bahwa di balik setiap operasi pemadaman terdapat koordinasi logistik, pengetahuan lapangan, dan kesabaran dalam menghadapi berbagai kendala. Data menunjukkan bahwa tantangan karhutla di Sumsel belum selesai, dan peran petugas seperti Mat Jay akan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User