Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sejarah panjang kepemimpinan yang tidak selalu berakhir mulus. Di antara deretan direktur jenderal yang memimpin badan kesehatan PBB itu, nama Lee Jong-wook dari Korea Selatan menempati posisi yang unik: ia adalah pemimpin WHO yang menutup kariernya di kantor pusat Jenewa setelah wafat saat masih menjabat pada 2006. Kepergiannya menjadi salah satu momen paling dramatis dalam sejarah lembaga itu. Perjalanan menuju puncak birokrasi kesehatan global tersebut berakar dari tugas lapangan yang jauh dari gemerlap Jenewa, yakni menangani penyakit kusta di kepulauan Pasifik Selatan.
Bermula dari Tugas Lapangan di Fiji
Jejak Lee di WHO berawal pada awal 1980-an, ketika ia bergabung sebagai konsultan penanganan kusta di Fiji. Pada masa itu, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di sejumlah negara kepulauan Pasifik. Sebagai dokter yang baru menyelesaikan pendidikan kesehatan masyarakat, Lee bertugas melakukan pemetaan kasus, merancang program pengobatan, dan membangun sistem pelaporan yang kelak menjadi fondasi pengendalian penyakit di kawasan tersebut. Berdasarkan verifikasi catatan kariernya, periode inilah yang menjadi landasan karier Lee di WHO sebelum ia melangkah ke jenjang yang lebih strategis. Penempatan semacam ini biasanya menjadi gerbang karier bagi profesional kesehatan yang menunjukkan kinerja di negara berkembang, dan Lee membuktikan diri sebagai salah satunya.
Tugas di Fiji bukan sekadar penempatan administratif. Lee dikenal bekerja langsung di lapangan, mendatangi komunitas yang terpencil, dan membangun kepercayaan dengan tenaga kesehatan lokal. Pengalaman ini membentuk pendekatannya yang menekankan implementasi nyata dibandingkan sekadar kebijakan di atas kertas — karakter yang kelak ia bawa hingga ke kursi kepemimpinan tertinggi WHO.
Meniti Tangga Karier di Lingkup Global
Setelah Fiji, Lee mengemban berbagai penugasan di kawasan Pasifik Selatan, termasuk sebagai perwakilan WHO di Samoa. Kariernya kemudian menanjak ke jenjang global ketika ia dipercaya memimpin program penanggulangan tuberkulosis (TB) WHO pada pertengahan 1990-an. Di bawah kepemimpinannya, strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course) diperluas secara agresif ke berbagai negara berkembang, dan data menunjukkan angka deteksi serta kesembuhan TB meningkat di sejumlah kawasan dengan beban penyakit tinggi. Posisi tersebut menempatkannya di garis depan diplomasi kesehatan global, di mana ia harus menyeimbangkan kepentingan negara maju dan berkembang.
Jejak rekam yang solid itu mengantarkan Lee ke bursa pencalonan direktur jenderal WHO pada 2003. Ia memenangkan pemilihan dan dilantik sebagai Dirjen WHO, menggantikan Gro Harlem Brundtland. Penunjukan ini sekaligus mencatat sejarah: Lee menjadi warga Korea Selatan pertama yang memimpin sebuah badan khusus PBB. Sebagai Dirjen, ia mewarisi agenda reformasi organisasi yang telah dicanangkan pendahulunya dan melanjutkannya dengan gaya kepemimpinan yang lebih pragmatis.
Kebijakan Besar dan Warisan yang Ditinggalkan
Selama menjabat, Lee mencanangkan sejumlah inisiatif global yang hingga kini menjadi rujukan. Salah satu yang paling dikenal adalah program “3 by 5”, sebuah target ambisius untuk memberikan terapi antiretroviral kepada tiga juta orang dengan HIV/AIDS pada akhir 2005. Meski target tersebut tidak sepenuhnya tercapai tepat waktu, inisiatif ini memaksa sistem kesehatan global memperluas akses pengobatan secara drastis. Selain itu, masa kepemimpinannya juga ditandai dengan berlakunya Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), perjanjian internasional pertama di bawah naungan WHO yang mengatur pengendalian tembakau.
Lee juga mendorong penguatan sistem vaksinasi dan pengawasan penyakit menular — sebuah prioritas yang terbukti relevan ketika dunia menghadapi ancaman pandemi influenza dan penyakit baru lainnya di tahun-tahun berikutnya.
Wafat Saat Menjabat
Perjalanan Lee di puncak WHO berakhir mendadak pada 22 Mei 2006. Ia menjalani operasi darurat di Jenewa akibat perdarahan otak dan meninggal dunia pada usia 61 tahun, hanya tiga tahun setelah dilantik. Berita duka itu tersiar luas dan memicu penghormatan dari berbagai negara anggota WHO. Kepergiannya menjadikannya direktur jenderal WHO pertama yang wafat saat masih memimpin organisasi. Wakilnya, Margaret Chan, kemudian diangkat sebagai Dirjen pengganti dan memimpin WHO hingga 2017 — sebuah suksesi yang lahir dari keadaan darurat namun berlangsung lebih dari satu dekade.
Refleksi atas Sebuah Legasi
Kisah Lee Jong-wook menunjukkan bahwa puncak kepemimpinan global sering kali dimulai dari pekerjaan yang paling tidak mencolok. Dari konsultan kusta di Fiji hingga kantor di lantai atas gedung WHO di Jenewa, perjalanannya adalah bukti bagaimana kompetensi teknis dan keberanian mengambil tanggung jawab besar dapat membawa seorang profesional kesehatan dari pulau terpencil ke panggung dunia. Warisan yang ia tinggalkan — dalam bentuk kebijakan TB, akses pengobatan HIV, dan pengendalian tembakau — tetap menjadi bagian dari arsitektur kesehatan global hingga hari ini.
Comments (0)