Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Double-Texting: Kirim Pesan Beruntun Saat Balasan Belum Tiba

Kebiasaan mengirim pesan baru sebelum pesan pertama mendapat balasan, yang populer disebut double-texting, kini menjadi topik yang kerap dibahas dalam diskusi tentang komunikasi digital. Sekilas peril...

Double-Texting: Kirim Pesan Beruntun Saat Balasan Belum Tiba

Kebiasaan mengirim pesan baru sebelum pesan pertama mendapat balasan, yang populer disebut double-texting, kini menjadi topik yang kerap dibahas dalam diskusi tentang komunikasi digital. Sekilas perilaku ini tampak sepele, tetapi berdasarkan verifikasi terhadap berbagai literatur psikologi komunikasi, di baliknya tersimpan lapisan emosional yang kompleks. Salah satu klaim yang banyak beredar menyatakan bahwa rasa tidak aman dan kekhawatiran kehilangan ketertarikan dari lawan bicara dapat mendorong seseorang lebih sering mengirim pesan beruntun. Artikel ini memeriksa klaim tersebut secara forensik: apa faktanya, sejauh mana bukti mendukungnya, dan apakah kesimpulan yang beredar sudah akurat.

Definisi Double-Texting dalam Komunikasi Digital

Double-texting merujuk pada praktik mengirim dua pesan atau lebih secara berurutan dalam rentang waktu singkat sebelum pesan pertama dijawab. Bentuknya bervariasi, mulai dari menambahkan kalimat pelengkap, mengirim pertanyaan susulan, hingga melontarkan topik baru yang mengubah arah pembicaraan. Dalam budaya perpesanan instan, perilaku ini sering dinilai melanggar norma sosial yang tidak tertulis, yaitu menunggu giliran balasan sebelum melanjutkan percakapan. Namun, penilaian tersebut tidak selalu akurat, sebab konteks hubungan, kepribadian pengirim, dan platform yang digunakan sangat menentukan makna di balik setiap pesan tambahan. Sebuah pesan susulan yang disusun dengan sopan bisa diterima dengan hangat, sementara pesan yang sama dapat terasa menekan dalam situasi lain.

Verifikasi: Akar Psikologis di Balik Kebiasaan Ini

Faktanya adalah, sejumlah kajian psikologi komunikasi menunjukkan bahwa dorongan melakukan double-texting kerap berakar pada kondisi emosional pengirim. Rasa tidak aman dan kecemasan terhadap respons lawan bicara merupakan dua faktor yang paling sering dikaitkan dengan perilaku ini. Ketika seseorang merasa posisinya dalam hubungan terancam atau khawatir ketertarikan lawan bicaranya mulai memudar, ia cenderung mencari kepastian dengan cara menambah pesan, berharap balasan segera datang. Data menunjukkan pola ini semakin kuat pada individu dengan gaya kelekatan cemas, yakni mereka yang membutuhkan validasi berlebihan dari pasangan atau rekan bicara. Kecemasan tersebut bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan pola pikir yang mendorong tindakan impulsif di ruang perpesanan.

Klaim versus Fakta: Menimbang Bukti yang Ada

Klaim bahwa rasa tidak aman dan takut kehilangan ketertarikan memicu double-texting tidak bertentangan dengan temuan riset, tetapi perlu dibaca secara proporsional. Berdasarkan verifikasi, perilaku ini tidak selalu lahir dari kecemasan. Sebagian pengguna melakukan double-texting karena alasan yang sepenuhnya praktis, misalnya mengoreksi kesalahan ketik, menambahkan informasi penting yang terlupa, atau sekadar mengikuti gaya percakapan yang santai dan ekspresif. Dengan demikian, menyimpulkan bahwa setiap double-texting berasal dari rasa tidak aman adalah penilaian yang menyesatkan. Bukti yang tersedia lebih tepat dibaca sebagai hubungan korelasional, bukan hubungan sebab-akibat yang kaku.

Faktor Lain dan Perbedaan Persepsi

Selain faktor emosional, kebiasaan ini juga dipengaruhi oleh norma sosial yang berkembang di antara generasi pengguna media sosial. Bagi sebagian orang, mengirim beberapa pesan beruntun adalah bentuk antusiasme dan keintiman, sedangkan bagi yang lain hal itu dianggap terlalu mendesak. Perbedaan persepsi inilah yang kerap memicu salah tafsir dalam percakapan daring. Sumber resmi berupa panduan etika komunikasi digital umumnya menekankan pentingnya membaca konteks dan memberi ruang bagi lawan bicara untuk merespons sesuai waktunya. Menilai perilaku ini tanpa memahami latar belakang hubungan hanya akan menghasilkan kesimpulan yang tidak akurat.

Kesimpulan dan Penilaian Akhir

Berdasarkan verifikasi terhadap klaim yang beredar, hubungan antara rasa tidak aman dan kebiasaan double-texting didukung oleh bukti psikologis, tetapi tidak bersifat mutlak. Kesimpulannya, klaim bahwa ketakutan kehilangan ketertarikan membuat seseorang lebih sering mengirim pesan beruntun dapat dinilai SEBAGIAN BENAR. Kecemasan dan keraguan terhadap respons lawan bicara memang menjadi salah satu pemicu utama, tetapi bukan satu-satunya penjelasan yang sahih. Memahami konteks emosional, gaya komunikasi, dan kebiasaan masing-masing individu tetap menjadi kunci sebelum menilai sebuah perilaku perpesanan sebagai sesuatu yang bermasalah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User