Dosen HI Unsri Ungkap Strategi Indonesia Hadapi Dinamika Geopolitik
Palembang – Dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompleks menuntut Indonesia untuk memperkuat peran strategisnya di tengah persaingan kekuatan besar. Hal itu disampaikan oleh I Kade...
Palembang – Dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompleks menuntut Indonesia untuk memperkuat peran strategisnya di tengah persaingan kekuatan besar. Hal itu disampaikan oleh I Kadek Andre Nuaba, pengajar pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, dalam sebuah forum diskusi yang berlangsung di kampus setempat akhir pekan lalu.
Acara yang diikuti oleh puluhan mahasiswa dan akademisi tersebut mengangkat tema "Masa Depan Diplomasi Indonesia di Era Multipolar". Dalam pemaparannya, Andre—sapaan akrabnya—menekankan bahwa kebijakan luar negeri bebas aktif yang selama ini dianut Indonesia harus dioperasionalkan lebih tajam melalui diplomasi ekonomi dan penguatan poros maritim dunia.
Dari Teori ke Praktik: Beban Tanggung Jawab Sejarah
Mengawali sesi, Andre mengajak peserta untuk tidak hanya memahami hubungan internasional dari sisi teoretis, melainkan juga menangkap urgensi praktis di lapangan. Ia mengutip sejumlah data terkini mengenai peningkatan ketegangan di Laut Tiongkok Selatan, krisis Myanmar, dan transformasi aliansi keamanan seperti AUKUS. Menurutnya, posisi geografis Indonesia seharusnya tidak lagi dipahami sekadar sebagai "jembatan", melainkan sebagai "penentu denyut nadi" stabilitas regional.
"Kita sering terjebak pada istilah bahwa Indonesia adalah negara non-blok. Padahal di era sekarang, sikap non-blok justru mensyaratkan keterlibatan aktif yang jauh lebih berat. Indonesia harus memastikan bahwa tidak satu pun kekuatan luar yang mendikte arsitektur kawasan tanpa persetujuan kita," ujar Andre.
Transformasi Diplomasi Maritim
Andre menyoroti perlunya redefinisi visi Poros Maritim Dunia yang selama ini lebih banyak berkutat pada pembangunan fisik pelabuhan. Baginya, poros maritim harus menjadi doktrin geopolitik yang integral, memadukan kemampuan pertahanan, diplomasi ekonomi biru, dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Ia mencontohkan, potensi sengketa perbatasan maritim yang masih menggantung dengan beberapa negara tetangga harus segera dirampungkan agar investasi dan keamanan pelayaran tidak terusik.
"Ketika kita berbicara tentang laut, kita berbicara tentang 70 persen wilayah Indonesia. Namun anggaran pertahanan maritim kita masih terbatas. Di sinilah diplomasi harus mengambil peran—bukan hanya negosiasi batas, tetapi juga mendorong kemitraan teknologi kelautan yang saling menguntungkan," tambahnya.
Menimbang Peran ASEAN di Pusaran Konflik
Dalam konteks ASEAN, Andre mengkritisi prinsip non-intervensi yang kerap membuat organisasi itu lamban merespons krisis kemanusiaan, terutama di Myanmar. Ia mengusulkan agar Indonesia sebagai salah satu pendiri ASEAN berani mendorong mekanisme baru, seperti "ASEAN Humanitarian Corridor", yang memungkinkan bantuan kemanusiaan disalurkan tanpa harus menunggu konsensus politik seluruh anggota.
"Solidaritas ASEAN jangan hanya di atas kertas. Krisis Myanmar adalah ujian apakah sentralitas ASEAN masih relevan, atau justru menjadi alat legitimasi rezim yang mengabaikan hak rakyatnya sendiri," tegasnya.
Diskusi yang dipandu oleh seorang moderator senior tersebut berlangsung interaktif. Sejumlah mahasiswa menanyakan tentang peluang Indonesia menjadi penengah konflik Rusia-Ukraina, serta sikap resmi pemerintah terhadap normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab. Andre menjawab dengan merujuk pada rekam jejak diplomasi Indonesia di masa lalu, termasuk inisiatif Jakarta Informal Meeting yang berhasil meredakan perang saudara di Kamboja. Ia optimistis, dengan catatan Indonesia mampu menjaga independensi dan tidak tergoda bergeser ke salah satu kutub kekuatan.
Profil Singkat dan Jejak Akademik
I Kadek Andre Nuaba merupakan dosen tetap di Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya sejak beberapa tahun terakhir. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan magisternya di bidang Hubungan Internasional, dengan fokus riset pada keamanan maritim dan politik luar negeri Indonesia. Selain mengajar, Andre aktif menulis di jurnal nasional dan menjadi pembicara dalam berbagai forum akademik, baik di tingkat lokal maupun regional. Rekam jejaknya sebagai peneliti muda kerap mengkombinasikan pendekatan geopolitik klasik dengan isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim dan digitalisasi diplomasi.
Menjelang akhir diskusi, Andre menitipkan pesan kepada generasi muda agar melek geopolitik. "Kalian adalah pengambil keputusan masa depan. Jika sejak sekarang tidak membangun kepekaan terhadap posisi strategis Indonesia, kita hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri," pungkasnya. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan lanjutan yang harus dihentikan moderator karena keterbatasan waktu.
Forum serupa rencananya akan kembali digelar bulan depan dengan mengundang praktisi dari Kementerian Luar Negeri. Universitas Sriwijaya terus berkomitmen menjadi ruang tumbuhnya wacana kritis dan solutif bagi diplomasi Indonesia di panggung dunia.
Baca juga:
Comments (0)