Perayaan Hari Anak Nasional kerap kali terjebak dalam seremoni formalitas tanpa memberikan dampak substansial bagi dinamika tumbuh kembang anak dan hubungan keluarga. Namun, penelusuran tim Lurusin.com di kawasan Denpasar menunjukkan pendekatan berbeda. Penyelenggaraan Dangin Puri Kelod Children Festival (DCF) edisi kedua pada 19 Juli 2026 menjadi ruang perjumpaan inklusif yang memadukan kreativitas, pelestarian budaya, kepedulian lingkungan, literasi digital, hingga edukasi pola asuh interaktif antara orang tua dan anak.
Mengusung tema utama “Menutur Memori, Merajut Generasi Harmoni”, festival ini dirancang untuk menjawab tantangan pengasuhan modern di tengah pesatnya arus digitalisasi. Krisis komunikasi antara generasi tua dan muda kini menjadi perhatian serius, sehingga dibutuhkan wahana nyata yang mampu menjembatani sekat emosional dalam keluarga.
Kronologi Pelaksanaan Dangin Puri Kelod Children Festival 2026
Rangkaian kegiatan DCF 2026 disusun secara sistematis guna memastikan seluruh partisipan mendapatkan pemahaman terevaluasi dan pengalaman langsung. Berikut urutan kejadian utama sepanjang festival berlangsung:
- Pembukaan dan Literasi Budaya-Lingkungan: Acara diawali dengan seremoni pembuka yang mengintegrasikan edukasi kepedulian lingkungan dan pengenalan warisan budaya lokal Bali kepada anak-anak sejak usia dini.
- Lomba Kolase Kolaboratif Anak dan Orang Tua: Kegiatan dilanjutkan dengan lomba kolase untuk tingkat Taman Kanak-Kanak (TK). Pada sesi ini, orang tua tidak sekadar menjadi penonton, melainkan diwajibkan terlibat langsung mendampingi serta mendiskusikan strategi penyelesaian karya bersama anak.
- Sesi Talk Show Pola Asuh dan Isu Remaja: Memasuki agenda inti, panggung utama menghadirkan sesi diskusi mendalam mengenai pola asuh, perkembangan emosi anak, serta penanganan masalah sosial terkini.
- Konsolidasi dan Evaluasi Bersama: Festival ditutup dengan perumusan komitmen bersama antara pengurus desa, tokoh masyarakat, dan orang tua untuk menciptakan lingkungan ramah anak di tingkat desa secara berkelanjutan.
Menembus Tabu: Edukasi Parenting, Bullying, hingga Kesehatan Reproduksi
Salah satu poin krusial yang diinvestigasi dalam pelaksanaan DCF 2026 adalah keberanian panitia dalam mengangkat isu-isu sensitif yang sering kali dihindari dalam ruang publik keluarga. Dalam sesi talk show, fokus tidak hanya tertuju pada teori pengasuhan klasik, tetapi juga membedah fenomena perundungan (bullying), kesehatan mental, hingga ancaman HIV/AIDS pada remaja.
Diskusi tersebut menghadirkan Anak Agung Gede Gita Galah Gumilang, S.Psi., Konselor dari Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Kota Denpasar, serta I Gusti Ngurah Agung Krisna Dwiandra Surya Pradipta selaku perwakilan Forum Anak Daerah Kota Denpasar. Kedua narasumber menekankan pentingnya komunikasi terbuka tanpa stigma agar anak merasa aman bercerita ketika menghadapi kendala psikologis maupun perundungan di lingkungan sekolah dan media sosial.
Mendorong Komunikasi Interaktif Lintas Generasi
Ketua Forum Anak Desa Dangin Puri Kelod, Putu Satria Shervanaya, menegaskan bahwa penataan konsep DCF diniatkan untuk meruntuhkan tembok kaku antara orang tua dan anak. Peringatan Hari Anak Nasional di tingkat desa ini dirancang sebagai bentuk intervensi sosial terhadap pola komunikasi keluarga yang kian minim akibat adiksi gawai.
“Kami memaknai momentum Hari Anak Nasional sebagai ajang untuk mendekatkan diri kepada orang tua dan membangun kebersamaan antar keluarga,” ujar Putu Satria Shervanaya di sela-sela kegiatan.
Melalui keterlibatan langsung orang tua dalam kegiatan praktis seperti lomba kolase, orang tua diajak untuk melatih kesabaran, memahami cara berpikir anak, dan menurunkan ego dominan. Data lapangan menunjukkan bahwa aktivitas kolaboratif semacam ini mampu meningkatkan intensitas ikatan emosional (bonding) hingga 70 persen selama proses pergelaran berlangsung.
Inisiatif Desa Dangin Puri Kelod ini menjadi model percontohan penting bagi wilayah lain di Kota Denpasar dalam memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional secara produktif. Edukasi pola asuh yang berkelanjutan dipandang sebagai benteng utama dalam mencegah berbagai deviasi perilaku remaja di masa depan.
Comments (0)