Kabar duka menyelimuti lingkaran aristokrasi Inggris setelah Davina Sheffield, salah satu cinta masa muda Raja Charles III yang paling berpengaruh, dilaporkan wafat pada usia 75 tahun pada awal September. Sosok Davina bukan sekadar nama dalam daftar mantan kekasih Charles; ia pernah dipandang sebagai kandidat paling potensial untuk menduduki takhta Permaisuri Britania Raya jauh sebelum kemunculan Lady Diana Spencer.
Kematian Davina kembali membuka lembaran arsip sejarah monarki yang sarat aturan ketat era 1970-an. Saat itu, Pangeran Charles tengah patah hati mendalam menyusul pernikahan Camilla Shand dengan Andrew Parker Bowles. Kehadiran Davina tidak hanya memulihkan emosi sang calon raja, tetapi juga mendapat lampu hijau dari para penasihat istana sebelum sebuah skandal masa lalu membatalkan segalanya.
Profil Bangsawan yang Menawan Hati Calon Raja
Lahir pada 1 Maret 1951, Davina Mary Sheffield berakar dari darah biru yang sangat dihormati di Inggris. Ayahnya, George Berkeley Sheffield, merupakan perwira Grenadier Guards sekaligus cucu dari seorang baronet. Sementara dari garis ibunya, ia adalah cucu Lord McGowan, mantan pimpinan raksasa industri Imperial Chemical Industries. Latar belakang ini menjadikannya figur yang sangat natural di lingkungan House of Windsor.
Pertemuan Davina dan Charles terjadi pada 1974 dalam sebuah jamuan makan malam yang diinisiasi Lady Jane Wellesley. Pesona Davina yang mandiri—saat itu ia bahkan sempat bekerja di toko busana demi mencari independensi finansial—langsung memikat sang putra mahkota. Kedekatan mereka terendus publik ketika Davina terlihat berlibur bersama keluarga kerajaan di Balmoral pada musim panas tahun yang sama.
"Davina memenuhi hampir setiap kriteria yang dicari monarki saat itu: berpendidikan, berasal dari keluarga terpandang, anggun, dan mampu beradaptasi dengan tradisi berburu serta berkuda di istana," ungkap catatan sejarah monarki.
Aturan Kuno dan Pembatalan Jalur Takhta
Namun, jalan Davina menuju status calon Ratu Inggris runtuh akibat standar ganda monarki konservatif masa lampau. Pada dekade 1970-an, calon permaisuri Charles diwajibkan memiliki masa lalu tanpa cela asmara, sebuah doktrin yang dipegang teguh oleh mentor Charles, Lord Mountbatten.
Penyelidikan media dan pengakuan publik mantan kekasih Davina, James Beard, mengenai hubungan masa lalu mereka menjadi palu godam bagi hubungan tersebut. Di era tersebut, pengakuan semacam itu dianggap melanggar protokol kesucian calon pengantin kerajaan.
- Standar Protokol Ketat: Tuntutan kemurnian reputasi masa lalu yang tidak realistis bagi calon mempelai pewaris takhta.
- Sorotan Pers Agresif: Pengungkapan kehidupan pribadi oleh mantan pasangan yang langsung memicu intervensi penasihat istana.
- Sikap Bungkam Terhormat: Keputusan Davina untuk mundur teratur tanpa pernah mengeksploitasi kisah asmaranya ke publik.
Menjaga Martabat hingga Akhir Hayat
Alih-alih melancarkan bantahan atau mencari publisitas, Davina memilih mundur secara elegan demi melindungi martabat monarki dan privasinya sendiri. Ia kemudian menikah dengan pengusaha James Wallace pada 1981, tahun yang sama ketika Charles akhirnya mempersunting Diana Spencer.
Hingga akhir hayatnya, Davina tetap menjadi figur yang dihormati karena kesetiaannya menjaga rahasia internal kerajaan. Kepergiannya menjadi pengingat abadi tentang bagaimana aturan protokoler masa lalu pernah mengubah jalannya garis sejarah Monarki Britania Raya.
Comments (0)