Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak bacaan shalawat, menghidupkan majelis ilmu, serta mengenali kembali perjalanan hidup sang Rasulullah. Salah satu amalan yang hampir selalu hadir dalam setiap rangkaian acara adalah pembacaan potongan ayat atau surah tertentu dari Al-Qur'an yang isinya bersinggungan langsung dengan misi kenabian.
Berdasarkan verifikasi terhadap praktik yang berjalan di berbagai majelis taklim, pengajian, hingga tabligh akbar di Indonesia, ayat-ayat yang lazim dibacakan umumnya menyinggung tiga tema besar: kedatangan Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat, kedudukannya sebagai pembawa petunjuk, serta turunnya Al-Qur'an sebagai cahaya bagi manusia. Terjemahan berikut merujuk pada Al-Qur'an dan Terjemahannya edisi Kementerian Agama Republik Indonesia.
Al-Anbiya Ayat 107: Misi Rahmat bagi Seluruh Alam
Ayat ini merupakan rujukan paling utama dalam setiap peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. karena memuat inti dari tujuan diutusnya beliau ke dunia.
Teks Arab: وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya [21]: 107)
Faktanya adalah frasa “rahmatan lil ‘alamin” dalam ayat tersebut kerap menjadi judul tema utama berbagai acara Maulid karena menegaskan bahwa kehadiran sang Nasi membawa manfaat universal, tidak terbatas pada satu golongan atau zaman tertentu.
Ali 'Imran Ayat 164: Nikmat Besar Kehadiran Sang Rasul
Potongan ayat ini menjelaskan posisi Nabi Muhammad saw. sebagai anugerah bagi kaum beriman yang dahulu tenggelam dalam kegelapan.
Teks Arab: لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya: “Sungguh, Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang mukmin ketika Allah mengutus seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka. Dan sebelumnya sungguh mereka dalam kesesatan yang nyata.” (QS Ali 'Imran [3]: 164)
Data menunjukkan ayat ini sering dibacakan pada bagian awal ceramah Maulid sebagai pembuka penjelasan tentang fungsi kenabian: membaca ayat, menyucikan jiwa, dan mengajarkan kitab serta hikmah.
Al-Ahzab Ayat 45–46: Kedudukan Nabi sebagai Cahaya Terang
Dua ayat berurutan ini merangkum gelar-gelar Nabi Muhammad saw. yang disebut langsung oleh Allah dalam Al-Qur'an.
Teks Arab: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
Artinya: “Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, serta penyeru (manusia) kepada (agama) Allah dengan izin-Nya, dan sebagai cahaya yang terang benderang.” (QS Al-Ahzab [33]: 45–46)
Kesimpulan dari makna ayat ini adalah bahwa peringatan Maulid kerap dikaitkan dengan semangat cahaya, sehingga tidak sedikit panitia menghias venue dengan lampu-lampu sebagai simbol sirajan munir.
Asy-Syura Ayat 52: Turunnya Wahyu sebagai Petunjuk
Ayat ini menghubungkan diri Nabi dengan Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya, sebuah benang merah penting dalam narasi Maulid modern.
Teks Arab: وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur'an) dari perintah Kami. Engkau tidaklah mengetahui apa Kitab dan apa iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, dengan which Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau (Muhammad) memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Asy-Syura [42]: 52)
Al-Maidah Ayat 15: Datangnya Cahaya dan Kitab yang Jelas
Potongan pendek ini mudah dihafal dan kerap ditampilkan pada spanduk serta materi dakwah bertema Maulid.
Teks Arab: قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
Artinya: “Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab (Al-Qur'an) yang jelas.” (QS Al-Maidah [5]: 15)
Surah Lain yang Lazim Dibacakan
Selain potongan ayat di atas, sejumlah surah utuh juga menjadi favorit dalam acara Maulid. Surah Yasin lazim dibacakan secara berjamaah, Surah Ad-Dhuha dipilih karena mencer masa-masa sulit awal kenabian, Surah Al-Fath dibacakan untuk mengenang kemenangan Fathu Makkah, sedangkan Surah Ar-Rahman dan kisah kelahiran Nabi Isa dalam Surah Maryam juga sering menghiasi majelis.
Berdasarkan verifikasi silang terhadap berbagai panduan ibadah yang diterbitkan lembaga keislaman, tidak ada satu ketentuan baku mengenai bacaan wajib saat Maulid. Yang konsisten adalah esensinya: memperbanyak shalawat, membaca Al-Qur'an, dan meneladani akhlak Nabi Muhammad saw., bukan sekadar seremoni tahunan tanpa muara perbaikan diri.
Comments (0)