Contoh Program MPLS Kurikulum Merdeka dari PAUD hingga SMA
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen krusial bagi peserta didik baru di setiap awal tahun ajaran. Di bawah naungan Kurikulum Merdeka, konsep MPLS mengalami transformasi mendasar—d...
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen krusial bagi peserta didik baru di setiap awal tahun ajaran. Di bawah naungan Kurikulum Merdeka, konsep MPLS mengalami transformasi mendasar—dari yang dulunya kerap identik dengan perpeloncoan, kini berfokus pada penciptaan suasana belajar yang inklusif, menyenangkan, dan bermakna. Sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA memiliki ruang seluas-luasnya untuk merancang program pengenalan yang tidak hanya memperkenalkan lingkungan fisik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila sejak hari pertama.
Beragam contoh kegiatan yang dapat diadaptasi telah dikembangkan oleh satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Semuanya bertujuan membangun rasa aman, memupuk semangat kolaborasi, serta menumbuhkan karakter positif. Berikut adalah gambaran rinci program MPLS di setiap jenjang yang sejalan dengan semangat Merdeka Belajar.
Transformasi MPLS dalam Bingkai Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dengan tiga pilar utama: pembelajaran intrakurikuler yang terdiferensiasi, projek penguatan Profil Pelajar Pancasila, dan pembelajaran ekstrakurikuler yang mengembangkan minat dan bakat. MPLS pun dirancang sebagai bagian integral dari ekosistem pendidikan yang holistik. Sekolah tidak lagi sekadar mengajak siswa berkeliling gedung atau menghafal tata tertib secara kaku. Sebaliknya, mereka diajak menggali potensi diri, berinteraksi dengan teman sejawat, dan mengenali peran mereka dalam komunitas belajar yang lebih besar.
Perubahan paradigma ini tertuang dalam berbagai panduan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kegiatan MPLS masa kini harus bebas dari kekerasan, perundungan, dan diskriminasi. Sebaliknya, setiap aktivitas diarahkan untuk membangun rasa percaya diri, empati, serta kesadaran kebangsaan. Inilah mengapa contoh-contoh program yang banyak beredar di kalangan pendidik menjadi sangat berharga—sebagai inspirasi yang dapat disesuaikan dengan konteks lokal setiap sekolah.
Program MPLS Ramah Anak untuk PAUD dan TK
Pada jenjang PAUD dan Taman Kanak-kanak, orientasi lingkungan sekolah harus dirancang sepenuhnya melalui permainan dan eksplorasi. Pendekatan yang digunakan adalah bermain sambil belajar agar anak tidak merasa terpisah dari figur lekatnya di rumah. Salah satu contoh program yang banyak diterapkan adalah “Ayo Kenali Sekolahku,” di mana anak-anak diajak berkeliling secara bertahap dengan durasi pendek sambil membawa boneka kesayangan mereka. Setiap sudut ruang dikenalkan dengan cerita atau lagu pendek.
Kegiatan lain yang populer adalah “Bermain Kolaboratif Bersama Teman Baru.” Guru menyediakan permainan konstruktif seperti balok besar atau puzzle raksasa yang harus diselesaikan secara berkelompok. Tujuannya agar anak terbiasa berbagi dan bekerja sama tanpa instruksi yang membebani. Aktivitas seni kreatif berbasis bahan alam—seperti mencetak daun dengan pewarna alami—juga kerap dimasukkan dalam program, mengasah motorik halus sekaligus menumbuhkan kecintaan pada lingkungan. Semua program tersebut sengaja dibuat fleksibel dengan jeda istirahat yang cukup, diselingi kegiatan fisik ringan seperti senam irama atau tari binatang.
Inisiatif MPLS di Sekolah Dasar
Memasuki jenjang SD, program pengenalan mulai mengarahkan siswa pada rutinitas akademik yang tetap menyenangkan. Banyak sekolah dasar mengintegrasikan proyek Profil Pelajar Pancasila dalam versi sederhana. Misalnya, proyek “Kebunku di Sekolah” di mana siswa baru bersama kakak kelas menanam bibit sayuran di pot kecil sebagai simbol tanggung jawab dan kebersamaan. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan mereka pada area kebun sekolah dan membentuk ikatan antarkelas.
Simulasi kebersihan dan kesehatan juga menjadi menu wajib. Anak-anak diajak praktik mencuci tangan dengan lagu, memilah sampah sesuai warna tempat yang disediakan, hingga bermain peran sebagai dokter kecil yang memeriksa kebersihan kuku. Aktivitas literasi seperti “Cerita Inspiratif dari Tokoh Masyarakat”—bisa menghadirkan petugas pemadam kebakaran atau penulis buku anak—memberikan pengalaman langsung yang mengesankan. Tak ketinggalan, permainan tradisional seperti gobak sodor atau engklek dihidupkan kembali agar siswa mengenal budaya lokal sambil bergerak aktif. Seluruh rangkaian ini dirancang agar enam dimensi Profil Pelajar Pancasila—beriman, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif—mulai terasah sejak dini.
Ragam Kegiatan MPLS untuk SMP
Jenjang SMP menghadirkan tantangan transisi yang lebih kompleks, baik secara sosial maupun akademik. MPLS di tingkat ini banyak diisi dengan diskusi kelompok terstruktur. Salah satu program yang efektif adalah “Tata Tertib Kita,” di mana peserta didik tidak hanya mendengarkan aturan sekolah, tetapi diajak berdiskusi merumuskan kesepakatan kelas bersama wali kelas. Dengan cara ini, mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab atas lingkungannya.
Workshop anti-perundungan menjadi komponen krusial. Melalui studi kasus dan role-play, siswa dilatih mengenali bentuk-bentuk perundungan (fisik, verbal, siber) serta cara melaporkan dan melindungi diri. Sesi ini biasanya diperkuat dengan materi dari psikolog atau konselor sebaya. Sementara itu, pengenalan terhadap beragam ekstrakurikuler dilakukan melalui pameran interaktif dan demo singkat—bukan sekadar presentasi di atas panggung. Siswa baru dapat mencoba alat musik, merakit robot sederhana, atau berlatih teknik dasar olahraga pilihan mereka. Pendekatan semacam ini selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang memberi ruang eksplorasi minat sejak awal.
Pengenalan Lingkungan SMA yang Membangun Kepemimpinan
Di tingkat SMA, orientasi diarahkan pada pembentukan jiwa kepemimpinan, kemandirian, dan kesiapan menghadapi dunia pasca-sekolah. Program andalan yang banyak diadopsi adalah proyek kolaboratif bertema “Sekolah Impianku.” Peserta didik baru dibagi dalam kelompok campuran untuk merancang satu program sosial atau perbaikan lingkungan sekolah yang bisa mereka wujudkan selama masa studi. Hasil rancangan dipresentasikan di depan guru dan kakak kelas, melatih keterampilan komunikasi sekaligus berpikir visioner.
Simulasi organisasi intra sekolah (OSIS) juga digelar sebagai laboratorium demokrasi mini. Siswa belajar tentang mekanisme pemilihan ketua OSIS, menyampaikan pendapat dalam forum, dan menyusun rencana kerja sederhana. Topik literasi digital dan keamanan siber mendapat porsi khusus, mengingat tingginya paparan media sosial pada usia remaja. Melalui permainan interaktif, mereka diajak mengidentifikasi hoaks dan praktik doxing, serta memahami jejak digital. Kampanye bertema lingkungan, seperti gerakan pengelolaan sampah elektronik atau hemat energi di sekolah, melengkapi program agar siswa baru langsung memiliki proyek aksi nyata yang berdampak. Semua kegiatan ini menegaskan bahwa MPLS bukan sekadar seremoni, tetapi titik awal perjalanan belajar yang membebaskan sekaligus membentuk karakter tangguh.
Baca juga:
Comments (0)