Cek Fakta: Klaim Ilmuwan Ditangkap karena Jual Virus Covid-19 ke China

Berdasarkan verifikasi yang dilakukan tim investigasi Lurusin, sebuah klaim yang menyatakan bahwa seorang ilmuwan ditangkap aparat penegak hukum karena menjual virus Covid-19 ke China telah beredar lu...

Cek Fakta: Klaim Ilmuwan Ditangkap karena Jual Virus Covid-19 ke China

Berdasarkan verifikasi yang dilakukan tim investigasi Lurusin, sebuah klaim yang menyatakan bahwa seorang ilmuwan ditangkap aparat penegak hukum karena menjual virus Covid-19 ke China telah beredar luas di media sosial dan aplikasi pesan instan. Narasi tersebut umumnya dibingkai seolah-olah penangkapan itu menjadi bukti bahwa SARS-CoV-2, virus penyebab penyakit Covid-19, merupakan komoditas yang diperjualbelikan antarnegara. Setelah dilakukan penelusuran terhadap dokumen resmi lembaga penegak hukum, pernyataan otoritas kesehatan dunia, serta arsip pemberitaan kredibel, klaim tersebut dinyatakan tidak memiliki dasar fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Identifikasi Klaim yang Beredar

Klaim yang beredar: seorang ilmuwan ditangkap karena terbukti membuat dan menjual virus Covid-19 kepada pihak China.

Penelusuran tim menemukan klaim ini muncul dalam beberapa versi. Versi pertama menyebut seorang profesor asal Amerika Serikat ditangkap karena menjual virus hasil rekayasa laboratorium. Versi kedua menambahkan detail fiktif berupa nilai transaksi dan nama universitas tertentu. Sebagian unggahan juga menyertakan foto penangkapan yang tidak berkaitan dengan narasi. Tidak satu pun versi klaim mencantumkan rujukan dokumen resmi, nomor perkara, atau pernyataan lembaga berwenang yang dapat diverifikasi secara independen. Ciri-ciri tersebut merupakan indikator awal konten yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara jurnalistik maupun hukum.

Hasil Verifikasi terhadap Dokumen Resmi

Tim Lurusin memeriksa arsip publik Departemen Kehakiman Amerika Serikat (justice.gov), rilis resmi Biro Investigasi Federal (fbi.gov), serta katalog dakwaan pengadilan federal. Tidak ditemukan satu pun dakwaan terhadap ilmuwan mana pun dengan tuduhan menjual, memperdagangkan, atau mentransfer virus SARS-CoV-2 kepada pihak China maupun negara lain. Pemeriksaan serupa dilakukan terhadap pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (who.int) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (cdc.gov). Hasilnya nihil.

Verifikasi silang juga dilakukan terhadap arsip pemeriksa fakta internasional, termasuk AFP Fact Check, Reuters Fact Check, Snopes, dan PolitiFact. Seluruh lembaga tersebut telah menelusuri narasi serupa sejak awal pandemi pada 2020 dan secara konsisten menyimpulkan bahwa klaim penjualan virus Covid-19 oleh ilmuwan merupakan fabrikasi. Data menunjukkan narasi ini termasuk salah satu disinformasi pandemi yang paling banyak direplikasi dalam berbagai bahasa dan terus berulang meski telah dibantah berkali-kali.

Kasus Nyata yang Diputarbalikkan

Berdasarkan dokumen pengadilan federal Distrik Massachusetts, terdapat satu kasus nyata yang diduga menjadi bahan baku distorsi. Pada 28 Januari 2020, Charles Lieber, profesor kimia Universitas Harvard, ditangkap atas tuduhan membuat pernyataan palsu secara material kepada otoritas federal terkait keterlibatannya dalam program rekrutmen talenta China serta afiliasinya dengan Wuhan University of Technology. Pada Desember 2021, Lieber dinyatakan bersalah atas enam dakwaan, termasuk pembuatan pernyataan palsu dan pelanggaran kewajiban pelaporan pajak.

Faktanya adalah, dakwaan terhadap Lieber tidak memuat satu pun unsur yang berkaitan dengan virus, patogen, atau materi biologis berbahaya. Bidang keahlian Lieber adalah nanoteknologi dan kimia, bukan virologi. Dokumen dakwaan secara eksplisit berfokus pada pelanggaran kewajiban pelaporan pendanaan asing. Klaim bahwa ia menjual virus bertentangan dengan isi dokumen resmi perkara tersebut.

Kasus terpisah yang juga kerap dicampuradukkan adalah penangkapan peneliti asal China, Zaosong Zheng, pada Desember 2019 karena upaya penyelundupan vial sampel penelitian biologis. Sampel tersebut berkaitan dengan penelitian sel kanker, bukan virus corona. Penggabungan dua peristiwa yang tidak saling berhubungan inilah yang melahirkan narasi menyesatkan tentang ilmuwan penjual virus.

Temuan Ilmiah tentang Asal-usul SARS-CoV-2

Mengacu pada laporan bersama WHO dan China yang dirilis Maret 2021, serta publikasi ilmiah di jurnal Nature Medicine dan Science, tidak ada bukti yang menunjukkan SARS-CoV-2 pernah diperjualbelikan oleh pihak mana pun. Hipotesis yang dikaji komunitas ilmiah berkisar pada perpindahan zoonotik dari hewan ke manusia serta kemungkinan insiden laboratorium, yang hingga kini masih diteliti. Tidak ada satu pun badan investigasi resmi di dunia yang pernah menyatakan adanya transaksi jual beli virus tersebut.

Kesimpulan

Berdasarkan seluruh bukti yang diverifikasi, klaim bahwa seorang ilmuwan ditangkap karena menjual virus Covid-19 ke China dinyatakan HOAX. Narasi tersebut dibangun dengan memutarbalikkan kasus hukum nyata yang tidak berkaitan dengan virus, lalu menggabungkannya dengan detail fiktif. Masyarakat diimbau tidak menyebarkan ulang konten semacam ini dan selalu merujuk pada sumber resmi sebelum mempercayai informasi terkait pandemi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User