Cek Fakta: Benarkah Kutukan Juara Piala Presiden Gagal di Liga?

Berdasarkan verifikasi yang dilakukan tim Lurusin, beredar klaim bahwa juara turnamen Piala Presiden seolah "dikutuk" untuk selalu gagal menjuarai kompetisi liga pada musim berikutnya. Klaim ini kemba...

Cek Fakta: Benarkah Kutukan Juara Piala Presiden Gagal di Liga?

Berdasarkan verifikasi yang dilakukan tim Lurusin, beredar klaim bahwa juara turnamen Piala Presiden seolah "dikutuk" untuk selalu gagal menjuarai kompetisi liga pada musim berikutnya. Klaim ini kembali mengemuka menyusul keberhasilan Persebaya Surabaya menjadi kampiun edisi terbaru turnamen pramusim tersebut, disertai pertanyaan apakah klub berjuluk Bajul Ijo itu mampu menjuarai Super League 2026/27 atau justru mengikuti jejak Arema FC dan Persib Bandung. Lurusin memeriksa data historis seluruh edisi turnamen untuk menguji validitas narasi tersebut secara forensik.

Klaim yang Beredar

Klaim: Juara Piala Presiden kerap gagal di liga karena ada "kutukan". Persija Jakarta disebut sebagai satu-satunya anomali, dan Persebaya diragukan bisa menjuarai Super League 2026/27.

Klaim ini bersifat campuran. Sebagian merupakan data hasil pertandingan yang dapat diverifikasi melalui catatan resmi penyelenggara dan arsip klasemen liga. Sebagian lainnya merupakan interpretasi naratif — istilah "kutukan" — yang tidak memiliki dasar bukti. Pemeriksaan dipisahkan menjadi dua lapis: fakta hasil kompetisi dan kerangka penyebab.

Verifikasi Data Historis Enam Edisi

Data menunjukkan pola berikut dari enam edisi Piala Presiden yang telah digelar, ditelusuri dari dokumentasi resmi turnamen dan rekap akhir klasemen liga:

Edisi 2015: Persib Bandung juara setelah mengalahkan Sriwijaya FC 2-0 di final. Pada kompetisi Indonesia Soccer Championship A 2016, Persib finis di peringkat lima. Gelar juara direbut Persipura Jayapura. Kasus ini sesuai dengan pola yang diklaim.

Edisi 2017: Arema FC juara usai membekuk Pusamania Borneo FC 5-1 di final. Di Liga 1 2017, Arema hanya finis di peringkat sembilan, sementara Bhayangkara FC tampil sebagai juara. Sesuai pola.

Edisi 2018: Persija Jakarta juara dengan mengalahkan Bali United 3-0 di final. Pada Liga 1 2018, Persija justru keluar sebagai juara liga. Faktanya adalah edisi ini mematahkan pola secara langsung dan menjadi anomali yang diakui dalam klaim itu sendiri.

Edisi 2019: Arema FC kembali juara, menundukkan Persebaya Surabaya dengan agregat 4-2 dalam final dua leg. Di Liga 1 2019, Arema kembali finis di peringkat sembilan; Bali United yang menjadi juara.

Edisi 2022: Arema FC menjuarai Piala Presiden ketiganya setelah mengalahkan Borneo FC Samarinda dengan agregat 1-0. Pada Liga 1 2022/2023, Arema terpuruk di peringkat 12 dalam musim yang juga diwarnai tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022. PSM Makassar tampil sebagai juara.

Edisi 2024: Arema FC kembali mengangkat trofi Piala Presiden. Pada Liga 1 2024/2025, Arema finis di papan tengah, sedangkan gelar liga direbut Persib Bandung melalui seri kejuaraan.

Proporsi Data dan Anomali

Dari enam edisi, lima juara Piala Presiden gagal menjuarai liga pada musim berikutnya — sekitar 83 persen — dengan Arema FC mengalaminya empat kali dan Persib Bandung satu kali. Satu kasus, Persija 2018, berhasil meraih gelar ganda. Berdasarkan verifikasi, klaim bahwa juara Piala Presiden "kerap gagal" di liga akurat secara statistik deskriptif. Namun, proporsi ini tidak cukup untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat, apalagi menyematkan label supernatural.

Mengapa Narasi "Kutukan" Menyesatkan

Istilah "kutukan" menyiratkan penyebab yang tidak dapat diuji secara empiris. Faktanya adalah tidak ada bukti yang mendukung kausalitas semacam itu. Sejumlah penjelasan alternatif yang rasional justru tersedia dan bertentangan dengan framing tersebut: pertama, turnamen pramusim digelar ketika komposisi skuad belum stabil, sehingga performa di dalamnya bukan prediktor andal untuk kompetisi berdurasi sembilan bulan; kedua, juara pramusim menjadi sasaran analisis taktik seluruh lawan sepanjang musim; ketiga, beban jadwal, cedera pemain kunci, dan tekanan ekspektasi publik dapat menurunkan konsistensi; keempat, ukuran sampel enam edisi terlalu kecil untuk menarik kesimpulan statistik yang kokoh.

Selain itu, keberadaan anomali Persija 2018 membuktikan pola tersebut tidak absolut. Adapun klaim bahwa Persebaya akan "bernasib seperti Arema dan Persib" pada Super League 2026/27 tidak dapat diverifikasi karena musim kompetisi itu belum berjalan. Pernyataan tersebut berstatus prediksi, bukan fakta, dan menjadikannya dasar kesimpulan adalah bentuk penalaran yang tidak akurat.

Kesimpulan

Rating: SEBAGIAN BENAR. Data historis dari sumber resmi mendukung observasi bahwa mayoritas juara Piala Presiden gagal menjuarai liga pada musim berikutnya — lima dari enam edisi. Namun, pembingkaian "kutukan" menyesatkan karena menyiratkan kausalitas tanpa bukti, mengabaikan anomali Persija Jakarta 2018, dan tidak ditopang dasar statistik yang memadai. Nasib Persebaya di Super League 2026/27 akan ditentukan oleh performa di lapangan, bukan oleh pola naratif masa lalu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User